Spirit of Me

Free love? As if love is anything but free. Man has bought brains, but all the millions in the world have failed to buy love. – Emma Goldman

Lahirkan Generasi tangguh yang bukan pendendam August 7, 2009

Filed under: Uncategorized — rizka @ 12:04 pm
Tags: , ,

presscon Kegiatan MOS (Masa Orientasi Siswa) kini bukan hanya dilakukan oleh kuliahan saja, tetapi SMP/SMA pun mulai ikut-ikutan dengan kegiatan ini.

Empat orang anak telah kehilangan nyawa dalam periode kegiatan MOS yang diselenggarakan di sekolah mereka. Dua orang diantaranya meninggal dunia setelah mengalami keletihan yang luar biasa setelah mengikuti kegiatan MOS. Keempat korban tersebut adalah Roy Aditya (16), siswa baru SMAN 16 Surabaya, Muhamad Rajib (16), siswa baru Sekolah Pelayaran Menengah Pembangunan Tanah Merdeka Jakarta Timur, Dara Sinta (13) siswa baru SMPN 2 Banjar dan Soni Galaxi Putra (17) siswa baru SMK Cendana Padangpanjang Sumatera Barat. Nama-nama ini lampiran data kasus siswa meninggal pada Masa Orientasi Siswa (MOS) 2009.

Orang tua menitipkan anaknya untuk dididik dengan belajar kepada guru-gurunya, sekolah merupakan rumah kedua bagi anak-anaknya dan bukan untuk disiksa dan menimbulkan rasa tidak nyaman dan rasa takut.

Cerita diatas diungkapkan dalam konferensi pers yang saya datangi bersama teman saya Didiet Adiputro mewakili Perspektif Online pada Selasa 4 Agustus 2009. Acara ini dihadiri oleh pemerhati pendidikan Prof. Irwanto PhD Guru Besar Tetap Universitas Katolok Atmajaya yang menyatakan bahwa jika bangsa Indonesia mencoba untuk mengakhiri keberingasan masa orientasi, maka tidak akan ada lagi korban jiwa, fisik maupun psikis.

presscon Diena Haryana, Ketua Yayasan SEJIWA mengungkapkan, bangsa ini secara turun temurun telah belajar bahwa MOS-ospek seyogyanya agresif, agar mental siswa tergembleng, dengan asumsi para siswa tersebut tidak menjadi orang yang melempeng di depannya. Padahal bangsa ini juga telah menyaksikan bahwa dari tahun ke tahun keagresifan masa orientasi semakin parah, sehingga semakin banyak memakan korban dan beberapa diantaranya harus kehilangan nyawa.

“Tidak anda yang dapat menggaransi bahwa dengan menerima tindakan agresif anak menjadi kuat mental, sebaliknya si pelaku akan terbiasa mengumbar ego yang liar”.

Guru Besar Tetap Unika Atmajaya, Prof. Irwanto mengatakan, “Pada MOS, dalam keadaan agresif, hormon adrenalin dalam tubuh bekerja keras dan menimbulkan kepuasan. Kepuasan ini diproses dalam sistem syaraf otak yang berdampak pada adiksi (ketagihan) untuk melakukan kekrasan itu lagi.” Anak kita terlalu berharga untuk disia-siakan seperti itu, apalagi yang melakukan penyia-nyiaan itu adalah juga anak-anak kita sendiri. Parahnya adalah orang dewasa membiarkan sistem tetap berjalan yang memungkinkan semua ini terjadi”.

Amrullah, Child Rights Specialist Plan Indonesia yang menangani hak dan perlindungan anak mengungkapkan bahwa anak sebagai warga negara seharusnya juga berhak untuk memperoleh perlindungan dari tindakan dan perlakuan diskriminatif, penelantaran, kekejaman, kekerasan, penganiyaan, ketidakadilan dan perlakuan salah lainnya dari siapapun dalam pasal 13 UU no 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari perlakuan sifatnya menganiya, menyiksa dan hukuman fisik lainnya yang sifatnya tidak manusiawi pada pasal 16 di UU yang sama. Jika peraturannya sudah ada, semestinya tidak jatuh korban jiwa, fisik maupun mental. Jika tidak semua orang mengetahui hal ini, mungkin MOS perlu diisi dengan sosialisasi UU ini.

Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Magdalena Sitorus menekankan bahwa kejadian ini bukti ketidakpedulian orang dewasa, apalagi jika tindak pelanggaran hak anak ini sampai merenggut nyawa. “Internalisasi siklus balas dendam ini sudah sedemikian mengakarnya. Kalau terus berlanjut, anak-anak akan tumbuh tanpa respek dan kepedulian. Magdalena menyatakan perlunya sistem pelaporan yang tebuka dan melindungi pelapor disertai dengan sanksi yang jelas, tidak hanya terhadap orang dewasa yang membiarkan tindakan itu terjadi, tapi juga kepada si pelaku tindak kekerasan secara proporsional.

Bagaimana?

Mari yuk bersama-sama kita lahirkan generasi tangguh yang bukann pendendam. STOP MOS AGRESIF!!!

presscon

 

TAK TIK FOTO: Taktik mengolah foto narsismu May 4, 2009

Filed under: the book i read — rizka @ 10:36 am

Belum sempat mendalami picasa web album, eeh….muncul photo editing yang baru.
Dari dulu gue gak suka dengan foto yang segalanya diedit. Kalau mau publish foto di flickr, facebook atau blog pribadi, yang ditampilan foto apa adanya aja. Gak sempet yang namanya ngedit di photoshop, paling yang gue tambahin brightnessnya aja, soalnya udah kepengen buru-buru diupload sih, kan narsis ceritanyeee..

rizka Tapi, semenjak ada kiriman buku karangan Angel yang berjudul “TAK TIK FOTO”, gue jadi suka dengan mengolah foto-foto narsis. Mmmh…ini buku isinya sangat berguna sekali lho. Setelah kita buka olahan foto online di buku TTF ini, gue cobain semuanya. Tinggal klik, nggak harus install apapun, dan yang terpenting gratis! Tanpa harus meng-install software apapun. Tapi kalo online di warnet sih bayar biaya warnetnya. Hehehe…

Nah, website online photo editing yang paling user friendly dan gratis tentunya yang dibahas dalam buku TAK TIK FOTO ini adalah:

1. PICNIK (http://www.piknik.com)
2. LUNAPIC (http://www.lunapic.com)
3. SPLASHUP (http://www.splashup.com)
4. FOTOFLEXER (http://www.fotoflexer.com)
5. LOONAPIX (http://www.loonapix.com)
6. MAGMYPIC (http://www.magmypic.com)

Dari keenam yang saya sebutkan diatas, teman-teman dapat mengimport dan mengekspor foto dengan berbagai metode dan media. Upload foto langsung dari computer, kamera digital, handphone atau dari berbagai media online seperti Flickr, Photobucket, Facebook, My Space dan lainnya langsung ke situs online photo editing yang teman-teman pilih. Ck…ck…ck…mudah kan?

Di buku ini, semuanya dihadirkan lengkap dengan step-by-step penggunaan aplikasinya, serta tips & trik design yang bakal membuat fotomu tampil memukau.

Saya saat ini masih mencoba-coba situs mana yang paling OK saya gunakan.

Kalo gitu, yuk kita narsis yuk dengan mengolah sebanyak mungkin foto-foto kita !!!

 

Filmnya Raditya Dika, si Kambing Jantan March 5, 2009

kambingjantan Nothing to loose, ketika ada sayembara ticket gratis premiere film kambing jantan di PIM2 tanggal 3 maret. Masalahnya design template diblog “spirit of me” tidak ada ruang peletakan banner. Ya sudahlah, nontonnya nunggu dilepas tanggal 5 maret di bioskop terdekat…

Beberapa hari kemudian, ada pesan masuk dari WW di komputerku:
WW: RN (my initial) suka kambing jantan kan?
RN: iya WW, suka…
WW: saya sedang usahakan satu undangan untuk perdana filmnya di PIM 3 Maret, buat RN
RN: mauuuuu……mau….mau,,,,,, WW…..makasih :)
WW: yup… mudah2an dapet ya, nanti saya kasih tahu lagi

Dalam hati: horeeeeeeeeeeeeeeeeee………..makasih WW yang baik 

Dan akhirnya, 2 lembar undangan sudah berada ditangan gue dan melda. Mmmh…asyik nonton bareng, tapi jam pemutarannya kemaleman nih kayaknya…20.30, trus selesai filmnya jam berapa nih? Aaahh…cuek aja, kan deket bioskop dari kantor dan rumah.

Karena tiba-tiba WW sakit, 2 undangan sisa yang rencananya WW mau datang untuk nonton diserahkan ke Dewi dan Wulan. Semoga sekarang WW udah sembuh. Dan WW sempat menyampaikan sms ketidakhadirannya ke Radith via gue.

Akhirnya kita berempat: rizka, melda, wulan dan dewi berangkat. Tapi sebelumnya kita mampir ke rumah WW di Jl, madarasah untuk mengambil 2 undangan lagi. Sayang banget deh…WW gak bisa ikut. Tapi gak apa-apa, kan masih ada pemutaran besok-besoknya di bioskop.

Pas kita datang di bioskop PIM 2, dari jauh udah keliatan antrian panjang banget. Ooooh…ternyata undangan itu dituker dengan ticket masuk. Sempet juga sih antrian gue and wulan salah jalur. Tapi dengan cekatan, wulan bisa dapet dengan cepat. Hehehehe…good job wulan :P

Dengan lari-lari kecil diantara para ABG, kita berempat mulai bergerilya untuk menuntaskan tujuan kita datang ke bioskop ini. Pertama yaitu menyerahkan kaos souvenir dengan gambar kartun PO, lalu dengan bangganya radith kudu membuka kaosnya dan foto dengan Wimar angels. Hehehehe…Selanjutnya cari-cari orang lain yang kita kenal tentunya untuk berfoto bersama. Secara gak sengaja, di luar bioskop kita ketemu sama vokalis PADI si Fadly…Hehehe…lumayanlah.

Sambil menunggu jam masuk studio, kita screaning orang yang kita kenal. Tapi gak ada lagi. Udah capek dan ngantuk. Tapi orang-orang tak henti-hentinya berebut foto dengan Raditya Dika. Ck…ck…ck…hebat loe dith. Sempet gue perhatiin, pas Radith ditarik ke backdrop tengah, tampang radith bingung gitu dikerubungi oleh penggemar dan infotainment. Tapi gue percaya, loe bisa mengatasinya dan mudah2an loe aman dengan perubahan loe sekarang ini. Soalnya temen gue melda denger ada cewek yang bilang gini nih “pasti radith udah lupa sama gue”. Trus temennya si cewek bilang “emang loe siapanya’? Kata cewek itu “Gue mantan dia waktu SMP” sambil melewati Radith yang sibuk diwawancarai. Hiks radith…cewek mana lagi yg kamu kirimi surat waktu SMP dulu???? Ciri-cirinya tuh cewek yaitu rambut panjang dan mungil.

Review setelah nonton film kambing jantan? Mmmmm….gue lebih suka baca bukunya kambing jantan….

 

Out & About: Our personal social responsibility December 30, 2008

Filed under: Uncategorized — rizka @ 9:30 am

The Jakarta Post | Tue, 12/09/2008
by Bram Maro

maro

At a conference on corporate social responsibility (CSR) I attended, a keynote speaker said something that really struck a chord.

“Once somebody asked me if Indonesian companies should have CSR policies. Upon hearing that of course I spontaneously responded that companies are not the only entities that should have CSR policies,” the keynote speaker said.

“Each and every individual should take part in (something akin to) CSR in his or her daily life.”

The statement made me think.

Amid the hardship of the global financial crisis, every person is responsible for helping others.

Let us call it “personal social responsibility” or PSR.

I work for a company whose CSR programs are focused on benefiting people living near the company’s facilities. Furthermore, they try to make a difference in areas that professionals typically deal with, such as good governance and occupational health and safety.

I think that is how we should implement our own individual PSR policies: to benefit people close to us. Furthermore, PSR should be carried out with a strong commitment and with sincerity of the heart.

Let us start with two of my friends, a husband and a wife, Ichsan and Indah. From 2006 to early 2008, both of them taught English to office boys at their office.

Every Tuesday and Thursday evening, the office boys learned how to read and write simple English free of charge. Moreover, the module for training, exercises and lesson books were prepared by the tutoring couple. And every three months, Ichsan and Indah tested their students to monitor their progress.

They told me that the most rewarding thing for them occurred during their farewell party before leaving for England, as Ichsan had won a scholarship to study there.

One of the office boys made a speech in English, and although short and simple, there were no grammatical errors and each word was perfectly pronounced.

All of the time and effort they had put into teaching the workers was worth it, they said.

Another friend has another story.

Rizka is a graphic designer for a consulting company in Jakarta. With a penchant for photography, the art form became her means to help unemployed teenagers in her neighborhood through her own PSR program.

She decided to make a change.

Armed with two used cameras, Rizka teaches some of those teenagers photography every Sunday afternoon.

She is remarkably committed; it is not easy to teach teenagers something new. The lessons are squeezed into her already tight work schedule. She makes the time to teach, take the teenagers on excursions to Jakarta’s Old Town area, hunt for good snaps and help the teenagers edit the photos on a computer.

Rizka only has one aspiration: for at least one of the neighborhood teens to earn a living by establishing a photography service for neighborhood weddings and parties.

So, what about me?

To be honest, I am still learning how to carry out PSR well. I have started with small things.

Since 2007, I have lent money to a worker at my former office. She was a high school graduate, and I gave her a zero-interest loan to pay for her tuition fees for college.

She can pay off the loan in installments over five years. Every month, she will pay me an agreed amount t at will not burden her.

You may ask, perhaps, why did I not simply give her the money?

Firstly, I expect the money to be returned so I can use it to help others in the future.

Secondly, I really want her to be independent. By finally paying off the loan she will have actually paid for her own education. This is an amazing achievement. Even those with money may not be able to afford their own education, depending on their parents instead.

But providing money without providing time and energy is not true PSR. So we agreed to meet twice every month to help her with her academic tasks, particularly in English and computers.

Every two weeks, I personally meet with her to understand the tasks she is working on. I never feel like I have lost time and money providing such assistance because I believe PSR without personal assistance is halfhearted.

You cannot just give someone a fishing rod and then instantly expect fish. You have to spend time training them — from finding the bait to catching and selling the fish.

Assistance is an absolute requirement in PSR. And through assistance we invest our time, money and energy. This is much more challenging than simply giving money.

Really it is only challenging because boredom and other obstacles arise. But commitment and sincerity spur PSR along.

I am not telling you the things that my friends and I have done to brag. I know what we have done may be very small compared to what others have done.

But what I do want to point out is that good things come in small packages.

I hope this story can inspire.

So, is the math geek in you interested in giving free lessons to poor children in your neighborhood? Does the Koran reader in you want to give free reading lessons to those who cannot read Arabic? Is the chef in you interested in giving cooking lessons to mothers so they can, perhaps, open a small catering business?

Let us learn to be bold and invest our money and our spirit in the people and the community. When given sincerely, it is an investment that not only impacts the giver, but also the receivers, the community and the part of the world where we live.

 

Pertemuan December 22, 2008

Filed under: Uncategorized — rizka @ 6:43 am

silhouettemanwomanembracing

Dalam perjalanan pulang ke rumah bersama sahabat saya susy, tiba-tiba hand phone saya berbunyi. Terlihat dari monitor hand phone, nama sosok pria yang dulu pernah saya cintai dalam kehidupan kuliah sekitar lima belas tahun yang lalu. Selain dia yang membantu nilai ujian menjadi lebih baik, dia pula yang mengajarkan saya tentang agama, sholat dan arti hidup. Pria itulah yang sudah saya temui kemarin di PI Mall.

Saya berusaha tenang ketika saat makan malam bersama dia di salah satu café di PI Mall. Saya yakin, dia juga berusaha tenang ketika berhadapan dengan saya. Terbukti kami sama-sama tidak tahan lama untuk bertatapan mata satu sama lain lebih dari lima detik.

‘Bagaimana perjalanan, tadi pesawat delay ya?” pertanyaan basa-basi saya mulai keluar. Menunggu dia hampir satu jam di lokasi berbeda sangat menegangkan. Walaupun berusaha untuk tenang, tapi saya tak bisa menyembunyikan perasaan hati saya. Pertanyaan-pertanyaan mulai mendatangi pikiran saya. “kenapa dulu dia berpisah dengan saya?” atau “kenapa dulu dia tak saya pertahankan?”

Saya tidak mau memasuki pertanyaan-pertanyaan masa lalu karena saya tidak yakin dia menyukainya. Akhirnya yang keluar adalah obrolan pekerjaan yang mengharuskan dia datang ke Jakarta selama seminggu. Akhirnya obrolan cair menghangatkan kami di suasana itu, kami tertawa-tawa sambil pelan-pelan menghabiskan makan malam. Dengan bangganya dia memperlihatkan foto dan video kedua anaknya yang lucu-lucu yang mirip dengan muka ayahnya.

Saya kembali menarik nafas panjang. Saya kembali menyadari bahwa hidup ini terus berjalan. Ditakdirkan oleh Tuhan bahwa jalan kami memang dibedakan. Mungkin dia bukan untuk saya, tapi ada sosok pria baik yang menunggu saya tapi entah ada dimana….