Kegiatan MOS (Masa Orientasi Siswa) kini bukan hanya dilakukan oleh kuliahan saja, tetapi SMP/SMA pun mulai ikut-ikutan dengan kegiatan ini.
Empat orang anak telah kehilangan nyawa dalam periode kegiatan MOS yang diselenggarakan di sekolah mereka. Dua orang diantaranya meninggal dunia setelah mengalami keletihan yang luar biasa setelah mengikuti kegiatan MOS. Keempat korban tersebut adalah Roy Aditya (16), siswa baru SMAN 16 Surabaya, Muhamad Rajib (16), siswa baru Sekolah Pelayaran Menengah Pembangunan Tanah Merdeka Jakarta Timur, Dara Sinta (13) siswa baru SMPN 2 Banjar dan Soni Galaxi Putra (17) siswa baru SMK Cendana Padangpanjang Sumatera Barat. Nama-nama ini lampiran data kasus siswa meninggal pada Masa Orientasi Siswa (MOS) 2009.
Orang tua menitipkan anaknya untuk dididik dengan belajar kepada guru-gurunya, sekolah merupakan rumah kedua bagi anak-anaknya dan bukan untuk disiksa dan menimbulkan rasa tidak nyaman dan rasa takut.
Cerita diatas diungkapkan dalam konferensi pers yang saya datangi bersama teman saya Didiet Adiputro mewakili Perspektif Online pada Selasa 4 Agustus 2009. Acara ini dihadiri oleh pemerhati pendidikan Prof. Irwanto PhD Guru Besar Tetap Universitas Katolok Atmajaya yang menyatakan bahwa jika bangsa Indonesia mencoba untuk mengakhiri keberingasan masa orientasi, maka tidak akan ada lagi korban jiwa, fisik maupun psikis.
Diena Haryana, Ketua Yayasan SEJIWA mengungkapkan, bangsa ini secara turun temurun telah belajar bahwa MOS-ospek seyogyanya agresif, agar mental siswa tergembleng, dengan asumsi para siswa tersebut tidak menjadi orang yang melempeng di depannya. Padahal bangsa ini juga telah menyaksikan bahwa dari tahun ke tahun keagresifan masa orientasi semakin parah, sehingga semakin banyak memakan korban dan beberapa diantaranya harus kehilangan nyawa.
“Tidak anda yang dapat menggaransi bahwa dengan menerima tindakan agresif anak menjadi kuat mental, sebaliknya si pelaku akan terbiasa mengumbar ego yang liar”.
Guru Besar Tetap Unika Atmajaya, Prof. Irwanto mengatakan, “Pada MOS, dalam keadaan agresif, hormon adrenalin dalam tubuh bekerja keras dan menimbulkan kepuasan. Kepuasan ini diproses dalam sistem syaraf otak yang berdampak pada adiksi (ketagihan) untuk melakukan kekrasan itu lagi.” Anak kita terlalu berharga untuk disia-siakan seperti itu, apalagi yang melakukan penyia-nyiaan itu adalah juga anak-anak kita sendiri. Parahnya adalah orang dewasa membiarkan sistem tetap berjalan yang memungkinkan semua ini terjadi”.
Amrullah, Child Rights Specialist Plan Indonesia yang menangani hak dan perlindungan anak mengungkapkan bahwa anak sebagai warga negara seharusnya juga berhak untuk memperoleh perlindungan dari tindakan dan perlakuan diskriminatif, penelantaran, kekejaman, kekerasan, penganiyaan, ketidakadilan dan perlakuan salah lainnya dari siapapun dalam pasal 13 UU no 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari perlakuan sifatnya menganiya, menyiksa dan hukuman fisik lainnya yang sifatnya tidak manusiawi pada pasal 16 di UU yang sama. Jika peraturannya sudah ada, semestinya tidak jatuh korban jiwa, fisik maupun mental. Jika tidak semua orang mengetahui hal ini, mungkin MOS perlu diisi dengan sosialisasi UU ini.
Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Magdalena Sitorus menekankan bahwa kejadian ini bukti ketidakpedulian orang dewasa, apalagi jika tindak pelanggaran hak anak ini sampai merenggut nyawa. “Internalisasi siklus balas dendam ini sudah sedemikian mengakarnya. Kalau terus berlanjut, anak-anak akan tumbuh tanpa respek dan kepedulian. Magdalena menyatakan perlunya sistem pelaporan yang tebuka dan melindungi pelapor disertai dengan sanksi yang jelas, tidak hanya terhadap orang dewasa yang membiarkan tindakan itu terjadi, tapi juga kepada si pelaku tindak kekerasan secara proporsional.
Bagaimana?
Mari yuk bersama-sama kita lahirkan generasi tangguh yang bukann pendendam. STOP MOS AGRESIF!!!

Tapi, semenjak ada kiriman buku karangan Angel yang berjudul “TAK TIK FOTO”, gue jadi suka dengan mengolah foto-foto narsis. Mmmh…ini buku isinya sangat berguna sekali lho. Setelah kita buka olahan foto online di buku TTF ini, gue cobain semuanya. Tinggal klik, nggak harus install apapun, dan yang terpenting gratis! Tanpa harus meng-install software apapun. Tapi kalo online di warnet sih bayar biaya warnetnya. Hehehe…
Nothing to loose, ketika ada sayembara ticket gratis premiere film kambing jantan di PIM2 tanggal 3 maret. Masalahnya design template diblog “spirit of me” tidak ada ruang peletakan banner. Ya sudahlah, nontonnya nunggu dilepas tanggal 5 maret di bioskop terdekat…


















