
Ingin tahu bagaimana Wimar membahas dunia perfilman, bersama salah satu pembuat film muda?
Talk about Movies bersama Wimar Witoelar dan Riri Riza
Selasa, 13 Maret 2007 pukul 19.30 WIB, Pisa Cafe Mahakam
Join Us
Free of Charge
Disiarkan langsung di Trijaya FM 104,6FM dari Pisa cafe & Resto Mahakam.
—————————————————————————-
Update 14 Maret: Laporan acara oleh Wulan yang dikutip dari www.perspektif.net
Kali ini, producer acara ini dari Trijaya FM memohon maaf atas keterlambatan siaran selama 32 menit yang disebabkan trouble di pemancar. Siaran masuk di tengah percakapan.
WW: Bagaimana Riri mendefinisikan film Inggris.
RR: Film Inggris sangat kental dengan tone, wittiness, serta aura sinematografi.
WW : bisa cerita tentang film yang akan tayang di bulan Juni, yaitu: 3 hari untuk selamanya?
RR: bersama dengan Miles membuat film ini selama 24 hari, kisah 2 anak muda, berumur sekitar 21 tahun, yang melakukan perjalanan selama 3 hari. Dalam 3 hari itu telah mengubah pandangan hidup, diri mereka dan relationship mereka satu sama lain, berubah untuk selamanya. Film ini akan release bulan Juni, post production telah selesai di bulan November tahun lalu. RR dan tim promo menyediakan 6 bulan untuk mengatur strategi promo film ini. Film yang siap edar sudah melewati prosedur baku, termasuk pengeditan di Lembaga Sensor Film. LSF juga yang menentukan apakah film itu untuk remaja, dewasa, atau untuk semua umur.
WW: Bagaimana keterkaitan LSF di dunia film Indonesia, apakah film yang sudah di edit oleh LSF bisa edar?
RR: setelah melewati proses edit oleh badan LSF, misalnya ada satu film ditarik karena tidak layak edar, mereka bisa ajukan kembali dengan mengubah judul, atau memotong bagian yang sudah mereka sensor untuk kemudian dapat diedarkan. LSF yang menentukan apakah film tersebut layak diputar atau tidak. Sebagian besar UU yang telah direvisi isinya masih sama dengan yang sebelumnya, masih melibatkan LSF, birokrasi di lembaga pemerintah (Menbudpar, Menkominfo, Presiden), dsb.
Tjabe, a Dutch intern at IMX: Is there one particular movie that inspired you to write movies and direct movies eventually, like an American movie in English? Like film directors you admire?
RR; Basically I graduated from high school without knowing what I would like to be, I like music and photography and wanted to combine that into movies. I went to an art school which is the only one we had in Jakarta, Institut Kesenian Jakarta. I found it pleasant to join, how to make film, how to direct. In 1988 Steven Spielberg, George Lucas, inspired me in film making. In the mid 90’s, a new generation in Chinese film making madev Asian films more interesting than European films.
SMS: Why do you always make movies with a family theme, why don’t you try a horror movie?
RR: Tidak selalu membuat tema keluarga. Tapi saya tinggal di Indonesia dimana keluarga adalah bagian yang sangat mempengaruhi hidup saya. Saya tinggal bersama keluarga selama 23 tahun. Itu sangat berefek buat kehidupan saya. Bahkan di film berbau politik seperti Gie pun saya banyak mengangkat kehidupan dimensi keluarganya. Krn saya percaya aktifis politik itu banyak belajar ttg hidup dari keluarga. Saya dan tim selalu ada usaha untuk memastikan film saya punya prospek ekonomi. Di film “Untuk Rena”, saya punya cita-cita kalau bisa film ini jadi film yang sangat bisa dimengerti di masyarakat, terbukti waktu saya dan tim memutar film itu di barak camp waktu di aceh, mereka menyambutnya.
Hari: apakah di negara lain di luar spt India, dll apakah ada sensor spt ini. Apakah mempengaruhi jumlah film?
RR: Di tiap negara ada. Pengaruhnya di industri sangat relatif. Kontroversi film yang di-ban itu kemudian malah menjadikan film itu laris. Di tahun 2006 ada 300 film yang beredar di bioskop Indonesia, dari 300 itu hanya 37 film yang film Indonesia. Tapi 40% dari karcis terjual adalah untuk film Indonesia. Saat ini ada film Indonesia yang menebus angka 1.000.000 penonton. Bahkan sampai 2.000.000 penonton.
Film kami yang paling laris adalah Ada Apa Dengan Cinta, mencapai 2,700,000 juta penonton
Pornografi: apa pornografi dalam film adalah suatu factor peningkat kriminalitas?
Saya rasa pronografi tidak bisa disalahkan.
Riri (penonton): Apa ada rencana buat film kolosal?
RR: menurut saya Soe Hok Gie termasuk kategori kolosal, scene tertentu pemainnya sampai 1000 orang.