Spirit of Me

Free love? As if love is anything but free. Man has bought brains, but all the millions in the world have failed to buy love.

Toko Merah, Saksi Sejarah di masa VOC June 4, 2007

Filed under: jaLan-jAlaN — rizka @ 9:42 am

Hari libur kemaren, gue niat banget mau ke Kota tempat museum-museum berada untuk hunting foto-foto narsis. Tadinya sih pengen sendiri, tapi kalo sendiri siapa yang ambilin foto narsis gue? Bisa sih pake tripod, tapi lupa bawa, lagian ribet ah.

Sampe Kota, gue langsung hubungin temen gue yang anaknya rada-rada narsis juga kayak gue. Ronny namanya. Kasian banget, selama ini dia pengen banget bisa jalan-jalan bareng gue, tapi guenya selalu gak bisa. Karena gue bingung lagi mau ngajak siapa, akhirnya gue hubungi Ronny yang kata kakaknya masih tidur waktu gue telp ke rumahnya. Dengan maksud menghemat pulsa, akhirnya gue telp juga ke hp nya, dan gak tidur, waah…kakaknya sentimen banget ama cewek yang nyari ronny. Payah dah!

ronny Gue dan Ronny menyelusuri Jl. Kalibesar Barat, Jakarta Kota, yang di masa VOC merupakan pusat kota Batavia. Kita berhenti di sebuah gedung yang hampir seluruh bagian depannya berwarna merah. Di tembok merahnya, terdapat label yang bertuliskan: Toko Merah. Toko Merah itu, terletak berdekatan dengan stadhuis (Balaikota Batavia) yang kini masih tetap berdiri kokoh meskipun telah berusia tiga abad. Sejumlah gubernur jenderal VOC pernah mendiami gedung ini. Yang membangun gedung berlantai dua ini adalah Gustaff Baron van Imhoff pada 1730. Begitu bersejarahnya gedung tersebut, hingga ia banyak didatangi para wisatawan asing, maupun para pecinta gedung tua.

toko merahDi depan gedung inilah mengalir sungai Groote Rivier (Kali Besar) yang pada masa itu suatu kerusuhan besar terjadi yaitu pembantaian terhadap orang-orang Tionghoa. Peristiwa itu terjadi 10 tahun setelah gedung tersebut berdiri (1740). Di muara Ciliwung ini, yang kala itu airnya jernih, pada pagi dan sore, menjadi tempat mandi para Indo-Belanda. Sementara di malam terang bulan, para muda-mudi, sambil main gitar, bernyanyi menumpahkan isi hati mereka.
Selesai di Toko Merah, gue and Ronny berjalan menyelusuri jalan untuk menuju jembatan di Kota Intan, tapi sayang…jembatannya ditutup. Akhirnya kita balik menuju Gedung Museum Fatahillah untuk foto-foto narsis lagi.

 

~ CAP GO MEH 2007 ~ February 21, 2007

Filed under: jaLan-jAlaN — rizka @ 3:16 am

caphg

******* JELAJAH KOTA TOEA 2007 *******

******** CAP GO MEH IN CHINA TOWN ********

TEMPAT: Museum Bank Mandiri - Jl. Lapangan Stasiun No. 1 Jakarta-Kota

HARI/TANGGAL: Minggu, 04 Maret 2007

WAKTU: 07.30 WIB - Selesai

TIKET: Rp. 50.000

FASILITAS: Snack, Lunch, Sinopsis, Tour Guide, d-Card, Nonton Film Tempo Doeloe, dan masih banyak lagi lainnya

RUTE: Pasar Pagi Lama - Rumah Jalan Pasar Gelap - Toko Obat Lay Tan Tong - Klenteng Budi Dharma - Klenteng Aria Marga - SMU 19 - Rumah Keluarga Shouw - Toko Tiga - Gedung Kahar Lukman - Ruko Blandongan - Klenteng Panda Bhakti - Klenteng Toa Sei Bio - Gereja Maria de Fatima - Klenteng Jin De Yuan - dll

INFORMASI: Kartum Setiawan (0817 9940 173)

Buat yang pengen tahu acara Cap Go Meh itu kaya apa , bisa baca pengalaman gue ikut acara Cap Go Meh tahun lalu

Yuk yuk ikutan :)

==================================================================

SAHABAT MUSEUM dengan hati seneng presenteren:
*******PLESIRAN TEMPO DOELOE: GOEDANG VOC*******

Museum Bahari
Menara Syahbandar
Pelabuhan Sunda Kelapa
Es Kelapa Muda
Roti Boeaja
Aer Poetih

Minggu, 4 Maret
Rp.30.000/orang
(tiga puluh ribu)

Kalo pada mau
ngedaftar, hub:
adep@cbn.net.id

Tempat terbatas!

 

Imlek? Apaan sih sebenernya itu? February 20, 2007

Filed under: bla..bla..bla, jaLan-jAlaN — rizka @ 8:26 am

gongxifatchai Gara-gara baca artikel di Pikiran Rakyat , gue jadi lebih ngerti tentang Imlek nih. Maklum gue menurutin saran dari Tantowi Yahya buat baca koran tiap hari, hihihihihiihi padahal dia promosiin KORAN SINDO yah bukan Pikiran Rakyat.

Tau ga? Ternyata IMLEK lebih merupakan perayaan tahun baru yang gak ada hubungannya dengan kepercayaan atau agama apapun. Imlek lebih merupakan titik penanda berakhirnya musim dingin dan permulaan musim semi. Konon, pada musim semi inilah para petani mulai kembali menggarap lahannya di daratan Tiongkok sana. Inilah yang kemudian dipahami sebagai moment untuk mulai menemukan kembali berbagai harapan atas pemaknaan waktu.

Dalam praktiknya di kemudian hari ini, lahir satu kebutuhan bagi masyarakat untuk memaknai moment permulaan menanam padi tersebut dalam bentuk perayaan. Nah baru deh di dalam perayaan tersebut, muncul berbagai mitos kepercayaan yang dianggep sebagai kekuatan yang sakral dalam suasana ritual yang dijadikan moment untuk berharap.

Dalam rentang waktu ribuan tahun, berbagai perubahan cara pandang terhadap IMLEK terjadi dari generasi ke generasi. Namun inti utamanya adalah tetap sebagai sebuah tradisi yang berhubungan erat dengan pemaknaan manusia atas waktu dan harapan.

=======================================================================

Barongsai

Menurut kepercayaan, Barongsai adalah sejenis makhluk khayalan yang bisa menolak segala sesuatu yang bisa mengganggu. Itulah sebabnya di bank atau di tempat-tempat tertentu selalu di tempatkan makhluk menyerupai singa, jadi mereka seolah-olah menjaga atau menghalau bala. Agak-agak mirip Singapore gitu deh, dimana mana banyak patung singanya kan (apa gara-gara itu ekonominya bagus terus ya??? uangnya ga ada yang ‘ilang’ soalnya hihihihihihi). Silahkan lihat foto pertunjukan Barongsai di Mal Pondok Indah yang gue foto minggu lalu.

barongsaiPS: Btw, ternyata kalau pemain barongsai nya bagi-bagiin amplop angpao ke penonton itu justru minta diisi ya???? Gue kira mereka ngasih ngasih angpao isi duit gratis ke penonton…, makanya gue ikut buru-buru nyamperin tu barongsai-barongsai pas ada pembagian amplop. Pas gue tau kalau ternyata tu amplop kosong dan malah minta untuk diisi penonton…. langsung deh tanpa ragu-ragu gue mengambil langkah seribu dari situ. Yah…..beginilah orang yang selalu nyari kesempatan dalam kesempitan hihihi..gpp donk yak..namanya juga nyoba-nyoba…syukur syukur dapet :)

=======================================================================

Makanan Lezat

Makanan-makanan khas imlek yang paling popular dapat ditemui di hotel-hotel berbintang di Hongkong dan Shanghai adalah sebagai berikut:

1. Peking Duck (ADUHHHH NGILERRRR)

peking duck

Ga usah dijelasin lagi dong tentang betapa populernya Peking Duck ini. Hmmm…digoreng dengan sangat gurih sampai lemak-lemaknya menetes, atau dibakar sampai mengkilat, maupun digoreng renyah yang kemudian dimakan dengan kecap asam manis, acar maupun sambal tetap aja rasanya gurih banget. Jangan lupa tambahkan Nasi putih hangat + Green Tea Dingin yah… sedappp

2. Chicken Feet (DUHHH JADI NGILER LAGIII)

chicken

Hm, kayaknya enak ya. Katanya sih kaki ayam ini di Shanghai sana ngetop banget buat dijadiin sajian makan makan pas merayakan Imlek. Bisa dengan hanya di buat soup, disajikan dengan mie rebus tebal, atau bisa juga dibuat asam manis dengan jamur atau kecap manis yang bikin makin guuuurihhhhhh. Nyam nyam dan menggoda banget kayaknya ya :). Aduhhh kalau makan ini mah, kudu minumnya es jeruk dingin yang terasa segar di tenggorokan yakk ! :) uhhhhh jadi laper nih bayanginnya slurrp slurp slurrppp…..hihihihihihi…..

3. Sup Otak Monyet (BENERANNN LHO)

soup monkey

Pertama-tama kepala monyet dipasung pada pemotong berbentuk melingkar. Saat ada pembeli yang tertarik untuk mencicipinya, pemotongnya tinggal digerakkan dan tersajilah otak monyet dengan kulit yang sudah terkelupas. Kemudian si pencicip akan menyuapi otak monyet langsung ke mulutnya atau bisa juga request agar otak monyetnya dibuat sup. Katanya rasanya enak, mirip tahu air yang gurih dan kaya akan gizi.

=======================================================================

Yah begitulah beberapa informasi tentang Imlek. Lewat perayaan Imlek, paling tidak manusia diingatkan untuk tidak putus-asa dalam berharap dan menjaga setiap harapan itu. Intinya biar jadi orang yang selalu optimis dalam menghadapi masa depan :)

Yuk kita semua berharap agar di tahun 2007 ini semua hal - insya allah - akan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Buat teman-teman yang merayakan, Gong Xi Fat Chai ya !

 

Long Road To Heaven, Tidak ada jalan pintas ke surga February 9, 2007

Filed under: bla..bla..bla, jaLan-jAlaN — rizka @ 9:13 am

Oleh Maro Alnesputra & Rizka Nurlita Andi

Jam menunjukkan pukul 18.45, ketika 2 pasang mata mulai menonton film Long Road To Heaven. Rentetan gambar dan dialog seakan menemani derasnya hujan di luar Mal Pondok Indah.

lrth Mari kita temui Hannah Catrelle, seorang wanita asal Amerika Serikat yang tinggal di Bali pada saat bom Bali berlangsung. Patah hati karena kehilangan kekasih tercinta pada kejadian WTC 11 September 2001, membuat Hannah cenderung apriori terhadap kaum muslim di dunia. Kecenderungan itu diungkapkan Hannah pada saat berteriak frustasi ketika melihat tumpukan mayat korban bom bali kepada seorang Haji yang sedang ikut menolong para korban.

“WHY DO YOUR PEOPLE HATE US SO MUCH? WHY DO YOU WANT TO KILL US!”

Perkataan tajam yang dilontarkan Hannah kepada Haji yang bernama Ismail itu akhirnya harus ditelan bulat-bulat. Melalui perjalanan panjang yang dialaminya selama 3 hari berikutnya, Hannah pada akhirnya bisa melihat bahwa mayoritas kaum Islam sendiri sangat tidak setuju dan mengutuk perbuatan terorisme itu.

Lalu, mari kita temui Liz Thompson, seorang journalist dari Australia yang datang 7 bulan sesudah tragedi Bom Bali terjadi. Datang jauh-jauh dari benua kangguru ke Bali, Liz ingin mengetahui kemarahan dan kemurkaan orang-orang Bali akan kejadian yang menimpa Pulau mereka tersebut. Bersama dengan seorang Supir Taksi bernama Wayan Diya, Liz berkeliling Bali untuk mendapatkan liputan yang menarik. Sayang seribu sayang bahwa dia tidak menemukan hal tersebut. Penduduk yang dijumpainya malah seakan menerima dengan ikhlas kejadian tersebut dan hanya berharap masa depan Bali akan menjadi lebih baik. Cacian, makian, kemarahan, kemurkaan, terhadap kejadian dan pelaku Bom Bali tersebut tidak dapat ditemukannya.

Namun akhirnya Wayan menunjukkan suatu sisi lain dari kepasrahan penduduk Bali kepada Liz.

Ucapan Wayan kepada Liz:


“We believe that for every kindness, evilness would always come with it.”

Kita juga akan bertemu dengan tokoh-tokoh di balik peristiwa Bom Bali yang akan membuat kita semua tertegun. Kita seakan tidak percaya bahwa ada orang-orang seperti itu di dunia. Mari kita temui Amrozi, seorang yang sangat membenci orang non muslim dan menganggap bahwa membunuh orang bule adalah suatu jalan menuju kebaikan dan peringatan pada kaum muslim Indonesia untuk tidak menikmati kegiatan orang-orang kafir ini. Ada juga Ali Gufron yang semula ragu untuk meneruskan rencana pemboman tersebut, namun akhirnya takluk dan ikut menjadi pelaku pemboman tersebut. Tentunya tak lupa kita temui seorang Iman Samudra, yang merupakan seorang diktator pengecut yang hanya mau merekrut orang-orang naïf untuk meledakkan dirinya sendiri, dan malah menjilat sendiri ludahnya dengan tidak jadi untuk meledakkan dirinya sendiri di depan Konsulat Amerika di Bali. Kebencian antara Amrozi dengan Imam Samudra merupakan satu hal yang mengejutkan, mengingat bahwa kita selalu menganggap komplotan penjahat sebagai gabungan orang-orang yang kompak dalam segala hal.

Dan akhirnya sampailah kita pada gerombolan yang membuat rencana master plan ini, Hambali, Muchlas, dan kawan-kawan. Sebuah gerombolan yang ternyata sangat tidak secure satu sama lain sehingga saling menikam di belakang. Kita melihat Muchlas yang menyatakan alasan utama dirinya mentargetkan Bali kepada Zulfikri.


Zulfikri: Mengapa awak pilih Bali sebagai target? Kenapa tidak Phuket di Thailand? Toh sama banyaknya orang baratnya bukan?
Mukhlas: Masih ingat pada waktu kita berjalan cepat menuju lift? Orang barat itu tidak mau satu lift dengan kita dan sengaja dengan cepat menekan tombol closed agar lift segera tertutup. Orang itu memakai Baju bertulisan “I LOVE BALI”, itulah sebabnya saya sengaja memilih bali untuk di bom.”
Zulfikri: Macam mana andai kata itu orang pake t-shirt tulisan I Love Thailand??
Mukhlas: Yah Thailand lah yang akan kita bom!

Film ini termasuk serius dan datar, apabila orang berharap akan menemukan kejenakaan atau satir satir menyindir yang biasa terdapat pada film film Nia Dinata mungkin akan merasa kecewa. Saran kami adalah bahwa anda jangan coba-coba ke wc selama film ini berlangsung, karena semua cerita di atas diceritakan tidak secara sistematis, namun secara metode flashback dan berganti-ganti satu sama lain. Konsentrasi penuh diperlukan untuk mengerti film ini. Film Long Road To Heaven jelas bukan film untuk segala umur apalagi film keluarga. Kami termasuk orang yang menonton dengan serius bahkan setengah mengantuk untuk mengerti arti film ini.Satu hal yang perlu dipuji adalah acting pemain yang berperan sebagai Amrozi, serta dua pemain yang berperan sebagai dua pelaku bunuh diri di Sari & Paddy’s Club tersebut. Kemiripan muka dua orang tersebut dengan dua pelaku asli di dunia nyata sangat mengagumkan. Simak dan perhatikan baik baik apabila anda menonton film ini.

Hardrock-Bali Selain itu suasana setting di Bali seperti Hard Rock Café, Pantai Kuta, Jalan Legian dan jalan-jalan di Bali lainnya serasa sangat nyata dan kami seakan berada di sana dan berpesta bersama-sama dengan bule-bule tersebut. Tapi bedanya, alhamdulillah kami ada di bioskop dan tidak di bom. Jadi masih ada kesempatan untuk pesta-pesta kalau kami ke Bali lagi hehehe.

Tapi setidaknya dengan hanya membayar 15.000 per tiket untuk menonton film di 21 Pondok Indah Mall di hari senin, pengalaman menonton Long Road To Heaven cukup manis untuk dikenang. Film yang dibuat berdasarkan research dan penelitian atas kejadian Bom Bali ini dapat memberi kesan tersendiri bagi penontonnya

===================================================================

Catatan: Penulis berasal dua suku berbeda, dua agama berbeda, dua jenis kelamin berbeda, dan dua generasi berbeda, namun mempunyai satu kesamaan pendapat:

If Heaven was full with people like Amrozi, Mukhlas, and others..
We don’t think we would want to be there…

==================================================================

Photo by Susy Magdalena

Keterangan Foto (kiri-kanan): Haris, Maro, Rizka, Lasut dan Melda
- the good old days at Bali -

untuk lebih jelasnya silahkan klik www.longroadtoheaven.com

 

Glenn, Januari is yours! February 1, 2007

Filed under: jaLan-jAlaN — rizka @ 6:20 am

glenn fredly

Kasihku…
Sampai disini kisah kita..
Jangan tangisi keadaannya..
Bukan karena kita berbeda..

Dengarkan…
Dengarkan lagu… lagu ini
Melodi rintihan hati ini
Kisah kita..
Berakhir…
Di…. Januari…….

WOW!!! AWESOME performance from Glenn Fredly on Wednesday night, with Susy, Melda, Vivi and Lia (Melda’s sister).

 

De oude banken van Batavia (Jelajah Kota Toea) January 28, 2007

Filed under: jaLan-jAlaN — rizka @ 3:43 pm

Untuk melupakan si “scaatje” yang udah pergi ke Belanda, di hari Minggu gue menjelajahi daerah Kota bersama Komunitas Jelajah Budaya (KJB). Topik atau tujuan kali ini adalah “Jelajah Kota Toea” (JKT). Wah, benar-benar kota tua kami jelajahi. Untung aja kondisi alam sangat bersahabat. Panas nggak, mendungpun juga tidak. Yang ada capek!

mbi Gue terlambat ketika sampai di Museum Bank Mandiri (MBM), karena disitulah lokasi tempat berkumpulnya peserta JKT diadakan. Pesertanya banyak, hampir 200 orang memadati gedung yang merupakan warisan kolonial Belanda yang terletak di kawasan BEOS, tepatnya di depan stasiun kereta api Jakarta-Kota. Snack dan minuman hangat sudah disediakan, panitiapun terlihat sangat pro aktif menemani peserta dengan baik. Ketika gue dateng dan registrasi, pemutaran film MBM Mandiri sedang diputar. Selain film MBM, diputar juga slide gedong Perbankan tempo doeloe.

Kartum Setiawan adalah leader guide dari KJB yang poskonya terletak di Jl. Lapangan Stasiun, Jakarta Kota. Selain itu, MBM juga meng-organized acara JKT ini. Gue baru mengikuti komunitas ini, biasanya kan gue selalu gabung dengan “Sahabat Museum” (BatMus). Tapi kali ini si ketua BatMusnya (Adep) ikutan juga acara JKT ini. Seru jadinya!

Sinopsis yang dibuat oleh Kartum Setiawan sangat berguna untuk baca-baca di rumah dan mengisi pengetahuan tentang kota-kota tua di Jakarta. Sambil kita berjalan-jalan, sambil kita baca.

Nico Selain Kartum Setiawan, KJB mendatangkan seorang Sejarawan atau Archivaris KITLV dari Belanda langsung yang bernama Nico van Horn. Mister ini menerangkan kembali sejarah kota tua yang kita kunjungi. Selain itu, dia juga sangat fasih berbahasa Indonesia dengan logat yang agak ke-belanda-belandaan.

Gedong ex-De Nederlanche Handel Maatschappij

Bangunan ini dirancang oleh para arsitek Belanda, yakni J.J.J. de Bruyn, A.P Smits dan C. van der Linde (duh, susah banget yah namanya…). Pada 1929 gedung ini mulai dibangun oleh kontarktor NV. Nedam (Nederlanche Handel Maatschappij) dan diresmikan 14 Januari 1933 oleh C.J. Karel van Aalst (Presiden ke-10 NHM) saat itu sebagai gedung De Factorij, De Nederlanche Handel Maatschappij (NHM) di Batavia, sebutan lainnya Netherlands Trading Society (NTS). Setelah Factorij NHM dinasionalisasi oleh Pemerintah Republik Indonesia, kemudian dilebur ke dalam Bank Koperasi Tani & Nelayan (BKTN) pada 5 Desember 1960. Riwayat gedung inipun berubah menjadi Kantor Pusat BKTN Urusan Ekspor Impor. Pada 17 Agustus 1965 dimulailah era “Bank Tunggal”, gedung ini menjadi salah satu Kantor Pusat Bank Negara Indonesia (BNI) lalu lahirlah pada tanggal 31 Desember 1968 Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim) sampai 1995.

Gedung berarsitektur Indisch gaya Nieuw-Zakelijk ini memiliki pesona yang kuat. Salah satu bagian yang menarik dari gedung bersejarah ini adalah ragam kaca patri yang menggambarkan adanya empat musim dan tokoh nakhoda Belanda, Cornelis de Houtman yang mendarat di Banten tahun 1596. Oh iya, gedung ini menjadi asset Bank Mandiri karena pada tanggal 2 Oktober 1998 bergabungnya 4 Bank Pemerintah, yaitu Bank Bumi Daya (BBD), Bank Dagang Negara (BDN), Bank Exim dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo).

Gedong ex-De Javanche Bank

mbi Setelah gue bercerita tentang Museum Bank Mandiri (MBM), selanjutnya gue mendatangi gedung yang tepat berada di sebelah MBM. Kini akan diresmikan Museum Bank Indonesia (MBI) pada tahun 2008. Hebatnya kita sudah bisa berkunjung, walaupun masih direnovasi. Gedung ini, merupakan salah satu asset bangunan bersejarah milik Bank Indonesia. MBM yang dahulu sebagai kantor pusat NMN didirikan di Amsterdam pada 1824, sementara Javanche Bank didirikan 24 Januari 1828 di Batavia. Percaya gak? Jauh sebelum dibangun kantor De Javanche Bank di tanah itu terdapat bekas rumah sakit (Binnenhospitaal) di dalam tembok kota Batavia.

Biro Arsitek Ed Cuypers en Huswit, salah satu arsitek ternama yang banyak merancang gedung di Batavia termasuk gedung MBI. Pembangunan tahap pertama dilaksanakan 1909-1912, dengan gaya neo klasik. Tahap kedua dilaksanakan 1922. Penambahannya yaitu beberapa ruang baru seperti ruang rapat besar yang didindingnya ditutup keramik hijau khusus yang didatangkan dari negeri Belanda. Renovasi kedua ini dipercayakan pada Biro Arsitek NV Architecten Ingenieursbureau Fermont-Cuypers. Tahap ketiga, keempat dan kelima sudah menjadikan tidak ada lagi pembangunan yang mengubah gedung secara esensial hingga menjadi MBI yang sampai di sepanjang Javabankstraat (Jalan Bank) hingga Kali Besar.

Gedong ex-De Nederlandsch-Indische Handelsbank

Kalau temen-temen datang dari arah jalan Pintu Besar Selatan atau Glodok, menuju Stasiun Jakarta-Kota persis di halte Busway Stasiun Kota, sosok gedung bergaya Art0Deco yang tegak lurus jalan pasti terlihat jelas. Arsitekturnya sederhana tapi memiliki keindahan sendiri. Sekarang gedung ini menjadi Kantor Wilayah dan Cabang Bank Mandiri Jakarta-Kota, sebelumnya digunakan sebagai Kantor Cabang Bank Bumi Daya (BBD) sampai 1999. Pemandangan indah dijumpai mulai dari ruang lobby yang menampilkan desain tangga menuju banking hall di lantai yang posisinya lebih tinggi.

Gedong ex-De Excompto Bank

Masih milik Bank Mandiri, gedung tua ini berarsitektur Indisch yang terletak di pojok pertemuan jalan Pintu Besar Utara dan Jalan Bank. Mulanya adalah merupakan Kantor Pusat De Nederlandsch-Indische Escompto Maatschappij di Batavia yang dibeli 1902. Keunikan gedung De Escomtobank ini pada bagian atas dinding luarnya terdapat ornament lambing-lambang kota Hindia Belanda seperti Surabaya, Batavia dan Semarang dan juga terdapat lambing kerajaan Belanda dan kota Amsterdam.

Gedong ex-chartered Bank Australia, India & China

Gedung ini memiliki sitra arsitektur klasik yang mengawali gaya modern dengan banyak ornament hias seperti kaca patri. Pada awal mulanya bangunan ini digunakan sebagai kantor cabang Chartered Bank of India, Australia & China di Batavia. Sejak 2 Maret 1965 pengelolaan gedung ini diserahkan oleh pemerintah kepada Bank Umum Negara (BUNEG) yang kemudian menjadi bank Bumi Daya (BBD) pada Desember 1968.

Yaaaaa…begitulah sinopsis yang disampaikan oleh Kartum Setiawan. Mudah-mudahan museum-museum yang tersebar di seluruh Indonesia (bukan hanya di Jakarta aja) dikembangkan dan bagian dari kawasan perlu dilestarikan.

Kalo ada acara beginian lagi, gue usahain akan ikut lagi. Gak akan bosen deh ngeliatnya!

Info lebih lengkap bisa gabung di mailing listnya yaitu jelajahbudaya@yahoogroups.com

 

“Rock Beach” yang menawan December 20, 2006

Filed under: jaLan-jAlaN — rizka @ 7:33 am

Ketika kita melihat ombak di lautan, dan kadang kita bertanya dalam hati. Kapan ombak akan berhenti?

Kita hanya bisa terdiam, karena masalah dalam hidup akan datang silih berganti bagai ombak di lautan.

Carita, 18 Desember 2006

Kebiasaan gue di hari senin dengan tampang muka bete, tapi di senin minggu ini ke-bete-an gue berkurang.

Pantai carita dengan panoramanya yang indah di propinsi Banten, gue datangi bersama teman-teman satu kantor termasuk Bos Besar yang dengan baik hati menyediakan lokasi buat kita pindah tongkrongan atau pintong. Asyik banget bisa berkumpul dengan temen-temen kantor dengan tempat dan suasana yang berbeda.

dasa wisata carita Pantai Dasa Wisata atau kita menyebutnya “Rock Beach” adalah pantai yang kondisi pantainya bisa berjalan lebih dari 500 meter ketika air laut surut dari bibir pantai. Bisa bayangkan! Dengan berjalan berhati-hati, kita seakan-akan sudah berada di tengah laut ketika kita sudah berjalan jauh dari bibir pantai. Tapi hati-hati dengan sisi-sisi karang ketika ketika kita melangkah. Lebih baik menggunakan sendal atau sepatu agar tidak terkena karang yang tajam. Dan ketika air laut mulai pasang, karang-karang akan tenggelam tertutup air laut dan bisa dipakai untuk bermain dan berenang. Seru banget…

Tiada kesan jika mini outing ini tidak ada acara berfoto-foto dan mengadakan permainan.

Thanks buat Bos Besar, kita semua senang, kita semua gembira.

Cerita detailnya ada di blognya Mbak Widya Lengkap banget…

 

Singapore, perjalanan unik yang tidak terlupakan [hari II dan III] December 11, 2006

Filed under: jaLan-jAlaN — rizka @ 11:29 am

Diceritakan oleh Rani Sartika

rani and echa Dengan menggunakan taksi dan biaya yang tidak terlalu mahal (mahal kaleee…), kita berempat melanjuti perjalanan di hari kedua mengunjungi Merlion Park. Ada apa di merlion park? Disana terdapat patung singa yang besar dan dari mulutnya keluar air yang deras sekali seperti air pancuran. Pada awalnya, Merlion dirancang sebagai lambang Singapore Tourism Board (STB) di tahun 1964. Pemandangan disana sangat bagus dan pas banget untuk berfoto ria, bukan sekedar kami saja yang berfoto tapi banyak juga para turis mengambil moment-moment indah disana.

Tidak puas memang kalau cuma jalan-jalan dan berfoto-foto tanpa membeli apa-apa, dari Dhoby Ghaut, kami menggunakan MRT menuju China Town, pusat budaya para imigran China. Pemandangan dan keramaian China Town sangat khas yang merah menyala. Kami sibuk memilih oleh-oleh buat keluarga dan teman dari ujung sampai ujung lagi. Sampai di ujung kami sempat mampir ke kuil Sri Mariamman untuk melihat bagaimana cara orang India berdoa. Pengalaman Rani temen kantor gue, merasakan telapak kaki terasa panas dan kayaknya ada yang aneh waktu masuk ke kuil itu, entah kenapa hanya rani yang merasakan itu sedangkan mereka bertiga biasa-biasa aja.

murtabak Waktu sudah semakin siang dan perut sudah terasa lapar kembali. Little India adalah tempat yang tepat untuk makan siang siang. Target yang kita cari memang makanan khas India yaitu roti prata dan chicken murtabak [Indonesia: martabak]. Sepertinya hanya 1 tempat yang menjual roti prata ama murtabak itu, karena kami udah muter-muter, yang ktemu ya tempat kami makan ini. Awalnya kami tanya makanan roti cane, ternyata roti cane itu mereka menyebutnya “plain prata”, jadi kita ketawa-ketawa aja karena salah menyebutkan nama makanan. Murtabak di India, pilihannya ada yang kecil, sedang dan besar. Harganyapun S$ 5/6/7. Kami pilih yang kecil. Ternyata pas pesanan kami datang, bentuk murtabaknya besar. Kami berempat aja ampe gak abis. Mmmmh…lumayan enak lho murtabaknya. Gue jadi kepengen lagi, rahasianya resepnya apa ya? Oh iya, roti pratanya juga enak, guriiih…

By taxi, kami melanjutkan perjalanan menuju Mustafa Centre, masih di daerah Little India juga yang merupakan satu-satunya pusat perbelanjaan yang buka 24 jam. Electronic, fashion, food and beverage, etc…mereka hampir menjual semua kebutuhan orang-orang, khususnya turis yang ingin belanja coklat buat oleh-oleh.

Malemnya, window shopping sekitar Orchard Road seperti Takashimaya, Paragon dll.

Langsung aja di hari ke-3 ya, hari terakhir kita berada di Singapore yang bersih, tertib, orang-orang yang selalu melangkah dengan cepat, tampang-tampang ceweknya yang hampir mirip dan badan-badannya yang langsing kayak gue ini. Bener deh…di Singapore tampang ceweknya hampir sama. Rambutnya aja, modelnya hampir mirip semua.

Bangun pagi-pagi selalu dibangunin oleh Mbak Yani. Di waktu yang tersisa ini, kita sempatkan jalan-jalan ke Little John, Lucky Plaza lalu ke “House of Condom”. Kami melihat sesuatu di sana dan gue membeli sesuatu juga di toko tersebut.

Good bye Singapore…Welcome Jakarta!

 

Singapore, perjalanan unik yang tidak terlupakan [hari I] December 6, 2006

Filed under: jaLan-jAlaN — rizka @ 9:57 am

Selain unik, juga sangat melelahkan. Perjalanan ini, perjalanan pertama gue ke luar negeri sehingga menjadi pengalaman yang baru buat gue. Mata menjadi terbuka lebar melihat Singapore dari deket, jadi gak melulu melihat Jakarta. Kesempatan ini gue ambil tanpa mengambil resiko. Kalo gak begini, kapan lagi gue bisa ke Singapore? Walaupun di bulan ke depan, gue akan bawa makan siang dari rumah dan gak belanja-belanja lagi ampe gajian dateng lagi.

Perjalanan kali ini dimotori oleh Mbak Yani temen kantor gue. Beliau sudah berpengalaman dalam perjalanan ke Singapore melalui Batam. Hehehe…penghematan bow! Diikuti oleh anak-anak buahnya yaitu gue, Echa and Rani.

Pukul 06.45 pesawat dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Batam. Wajah-wajah ngantuk para menumpang terlihat dari sisi kacamata hitam. Dari Jakarta kami ngobrol dengan cowok, awal kenalnya karena kita dan dia saling bertanya-tanya tentang keberangkatan pesawat. Kami kemana-mana jadi bersama-sama. Namanya gak tau, karena dia gak memperkenalkan diri, tapi kita punya inisiatif untuk memberi dia nama, dia bernama “Rangga”. Jadi kalo tuh cowok ilang dikit di hadapan kita, Echa bilang “Eh, Rangga mana?”

Kurang lebih satu jam empat puluh lima menit, pesawat kami mendarat, dinginnya pesawat masih terasa ketika kami akan turun menuju Bandara Hang Nadim, Batam. Setelah kita mengurusi barang-barang, kita langsung menuju arah keluar untuk melanjutkan perjalanan ke Batam Centre dengan menggunakan taksi. Biaya taksi dari Bandara Hang Nadim menuju Batam Centre adalah 70 ribu rupiah. Kita berpisah dengan “Rangga” di Airport Hang Nadim ini.

Berikutnya, perjalanan feri ke Singapura melalui Batam Centre akan memakan waktu sekitar satu jam. Kita memilih feri “Batam Fast” dengan tiket return. Harga tiket Batam Centre menuju Harbourfront [return] adalah S$ 20. Oh iya, waktu Singapore itu satu jam lebih cepat dari waktu Batam.

rizka rani echa Sesampainya di Singapore, feri akan berlabuh di pelabuhan Harbourfront. Nah, selagi keluar dari feri nih…semua penumpang harus membawa barang-barangnya sendiri lalu melewati imigrasi. Di tempat inilah, dada terasa dag dig dug…Walaupun passport gue gak bermasalah, tapi entah kok deg-degan ya? Ya iyalah, liat tampang-tampang petugas imigrasi Singapore yang super jutek itu gue jadi jiper.

Kami menginap di Orchad Hotel, yang letaknya di Orchad Road. Transportasi dari Harbourfront menuju hotel menggunakan taksi. Biaya argo/meteran awal mulai dari S$ 2.40, termasuk kilometer pertama. Setelah itu biayanya akan bertambah 10 sen setiap 225 meter jarak tempuh berikutnya. Setiap perusahaan taksi menetapkan biaya tambahan yang berbeda, dan kami hanya membayar S$ 6. Setiap perusahaan perusahaan taksi menetapkan biaya tambahan yang berbeda, lebih baik tanyakan dulu pada supirnya sebelum naik. Biaya tambahan ini meliputi Electronic Road Pricing, jam sibuk dan hari libur nasional.

Setibanya di hotel, kita beristirahat sebentar. Tak ingin kehilangan waktu yang tersisa di hari pertama, dari Orchard Road kita melangkah cepat menuju Stasiun MRT. MRT adalah kereta penumpang modern dan ber-AC akan singgah di banyak stasiun yang tersebar di seluruh Singapore. Kereta ini beroperasi mulai dari jam 6 pagi hingga tengah malam tiap harinya. Harga karcisnya, berkisar antara S$0 0.90 hingga S$ 1.90. Tempat yang kita sekarang tuju adalah Snow City. Dari Orchard Road kita menuju ke Jurong dengan MRT lalu disambung lagi dengan bis umum. Biaya bis dari Terminal Jurong menuju Snow City S$ 95 sen.

Sampailah kita di tempat yang super dingiiiiiin…bayangin deh, kita semua dimasukkan ke dalam ruangan yang suhunya -6 derajad celcius. Bbbbrrrrr…dingin banget. Kita diberi waktu 1 jam untuk bermain ice sky dengan biaya S$ 12. Kalau yang gak kuat dingin, kita bisa keluar sebelum 1 jam yang kita miliki. Seru deh pokoknya…Oh iya, dengan S$ 12 itu sudah termasuk jaket mantel dan sepasang sepatu booth. Untuk sepasang sarung tangan ada biaya tambahan lagi sebesar S$ 2. Seperti nakalnya anak-anak kecil, kami melepaskan tawa diimbangi dengan seramnya ketika kami meluncur jauh ke ujung. Jika kurang puas, naik lagi ke atas menuju puncak luncuran lalu kita di dorong turun agar bisa meluncur.

clarke quay Dari Snow City, tujuan selanjutnya yaitu Clarke Quay. Ingin menghibur hati dan bersenang-senang? Segera saja menuju ke boat quay, perintis dunia hiburan Singapore. Dengan gabungan resto kelas atas, santap malam alfresco, serta bar dan pub yang meriah, tak keliru jika dikatakan Boat Quay merupakan tempat favorit untuk bersantai bagi kaum profesional dan ekspatriat. Tapi sayang…gue gak naik boat quay. Hiks! Oh iya, ada G-Max Reverse Bungy! G-Max adalah kendaraan ekstrim pertama di Singapura. Di sini, tiga orang duduk di sebuah kapsul terbuka kerangka baja yang dirancang khusus, terikat dengan kawat bungy (telah teruji di AS) ke dua buah menara. Kabel ini lalu ditegangkan, dan kemudian dilepas, meluncurkan kapsul 60 m ke udara dengan kecepatan 200 kilometer perjam. Permainan ini berlangsung selama 5 menit. Di sini gue juga gak main…hiks lagi.

Hari pertama kami sangat lelah dan kaki pegel…tapi kami senang.

Cerita dihari kedua akan gue posting, tunggu ajah…

 

Cerita dikit dugem di jakarta dan bali November 28, 2006

Filed under: jaLan-jAlaN — rizka @ 12:04 pm

Moamar Emka bisa saja menulis tentang kondisi dan situasi kota Jakarta’s Red District. Tapi, gue mau mencoba menceritakan gambaran gue yang pernah mengalami dugem di Jakarta dan Bali.

Jakarta

Selama ini saya hanya mendengarkan teori dari seorang teman tentang kehidupan kota Jakarta, entah di tempat karaoke, nite-club, klub kebugaran atau strip-bar. Suatu saat saya ingin langsung ke inti realty show, walaupun tidak mendatangi semua red district yang saya sebutkan tadi. Saya tidak mengeluarkan uang sepeserpun, saya hanya mengeluarkan biaya taksi untuk pulang karena tidak mungkin saya pulang larut malam bahkan hingga dini hari jika keadaan saya masih menerawang.

Temen saya seorang yang berduit, tidak sayang menghabiskan uang hanya untuk hura-hura. Dan saya berpikir, bahwa dia mempunyai alasan tersendiri untuk itu.

Saya dan temans menuju tempat yang mungkin tidak begitu terkenal dan bukan tempat untuk kalangan elit Jakarta. ”RM” adalah tempat red district di wilayah Barat. Tiba di tempat itu, kelihatannya teman saya ini begitu kenal dengan daerah dan orang-orangnya. Teman saya begitu dihormati, karena teman saya yang lain bilang bahwa dia memang sering ke tempat ini dan ”belanja” banyak. Mungkin dia termasuk orang yang memberikan inventasi yang besar buat pemasukan di club itu.

Kondisi masih sepi ketika kita semua tiba di tempat. Lambat laun, malam semakin larut, situasi makin ramai dan gelap lalu musik makin keras di speaker yang tepat berada di samping saya duduk. DJ starts the music…

Satu setengah jam kemudian, muncul 3 striper lokal di atas panggung untuk menari. Tidak lebih dari setengah jam mereka menari. Selebihnya melakukan pendekatan personal untuk urusan kencan lanjutan. Saya baca di majalah AREA, kalau striper bule lebih banyak unjuk kebolehan dengan menari seksi dan makin banyak tip yang keluar, makin liar mereka menari.

Bali

Bali memang tempat liburan yang aman dan nyaman. Saya dan beberapa teman mencari tempat dugem yang heboh pada malam itu. Sayang sekali, club ”KS” yang terkenal tutup. Lalu kita menuju ke kawasan Seminyak. Hentakan musik yang dimainkan DJ dari diskotik ”DS” sudah terdengar dari tempat parkir. Digelapnya malam juga terdengar suara ombak yang terletak persis di seberang diskotik.

Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 Wita. Di sudut pojok diskotik yang cukup terkenal ini tampak sejumlah turis asing sedang berbincang-bincang sambil menikmati minuman. Diskotik ini sudah cukup terkenal di kalangan wisatawan domestik (wisdom) maupun wisatawan mancanegara (wisman). Suasana di dalam juga nyaman. Di tengah-tengah sebelum kita masuk ke ruangan disko, ada kolam renang yang juga digunakan untuk bungee jumping bagi orang yang ingin menikmati dinginnya air pada dini hari. Seperti saya, setelah lelah berdisko melangkahlah saya menuju pinggiran kolam sambil menunggu orang untuk berjumping ria.

Semakin malam, Bali semakin liar. Tempat yang kami kunjungipun semakin ramai. Dentuman musik semakin keras rasanya terdengar. Orang-orangpun terlelap oleh gerakan dan hentakan musik.

Pukul 04.00. Kami sudah lelah. Maka istirahatlah dipinggir kolam renang ditemani oleh minuman yang selalu setia. Lalu…tak lama kemudian, masuklah beberapa kaum lelaki lokal dari arah luar club mendatangi lelaki bule. Di depan mata, saya melihat 2 lelaki itu berciuman. Lelaki lokal dan lelaki bule. Wow!!!

Besoknya kembali dugem di ”EM”, tepatnya di Jl. Legian. Di ”EM” ini 85% lebih banyak orang-orang dari manca negara dibandingkan dengan orang-orang lokal (pelancong lokal dan orang lokal). Saya agak bingung, tempatnya diskonya berbeda dengan di ”DS”. Kali ini lebih sempit, tapi pengunjungnya banyak. Saya dan salah satu teman saya hanya duduk di tepi meja bar sambil melihat para bule berdisko dan beberapa teman saya turun untuk berdisko. Lagi menikmati minuman, tiba-tiba saya ditarik oleh cewek lokal untuk menemani berdisko dengan cowok bulenya. Tapi kok, lama-lama tuh cewek lokalnya menghilang dan membiarkan saya hanya berdua dengan cowok bule ini? Saya mulai tidak nyaman, saya mencari teman-teman saya, terlihat teman-teman saya hanya senyum-senyum mendukung saya tetap berjoget dengan bule itu.

Akhirnya saya terbebas dari bule itu dan kembali ke bangku bar yang terlihat kosong. Teman saya bilang akan ke toilet sebentar. Maka tinggal saya sendirilah diantara bule-bule yang berseliweran. ”Halo, siapa nama kamu?” tiba-tiba cowok bule persis di sebelah tanya ke saya dengan bahasa Indonesia yang bercampur logat kebule-bulean. ”Hah?” Saya? Nama saya Nanda, teriak saya. ”Nanda? nama yang bagus sekali” Kenalkan, nama saya……..[gak denger waktu itu], saya dari Spanyol. ”Mmmh…kamu cantik sekali”. ”Oh, thanks…jawab saya.”

Cerita belum selesai di situ, temen saya belum muncul dari toilet. Lalu, si bule menyodorkan segelas tequilla ke saya. Saya jawab, ”no, thanks”. Si bule bilang kalo minuman tequilla adalah minuman kesukaan dia. Oh ya? Lalu dia berkata lagi ”kamu mau menikah dengan saya?”

The end…