Spirit of Me

Free love? As if love is anything but free. Man has bought brains, but all the millions in the world have failed to buy love. – Emma Goldman

Hotel Tugu Malang yang menawan October 21, 2009

Filed under: fearFactOr, jaLan-jAlaN, mySouL — rizka @ 3:37 pm
Tags: , , ,

Tak terhitung sudah berapa kali saya ke kota Malang. Kota yang dijuluki kota Apel ini memiliki kesejukan yang menurut saya tiada tara. Beruntung sekali masih banyak kerabat saya yang masih tinggal di kota Malang ini. Kebetulan bapak dan ibu saya bertemu dan menikah di kota ini. Jadi kalau istilahnya mudik Lebaran, ya kota Malang inilah yang menjadi tujuan utama kami untuk pulang kampung.

Terus terang, kalau yang namanya ke Malang itu gak pernah yang namanya jalan-jalan ke tempat wisata kota Malang. Padahal banyak sekali tempat wisata di kota ini. Itu semua karena waktu yang sempit untuk bisa jalan-jalan keliling kota Malang. Transportasi menggunakan mobil pribadi dan pulang-balik memakan waktu 4 hari. Total di Malang hanya 3 hari, dan itu semua saya sibuk mengunjungi semua keluarga di Malang.

Tapi kali ini saya sangat beruntung. Setelah sekian lama gak pernah jalan-jalan di kota Malang, kunjungan kali ini bisa merasakan yang namanya jalan-jalan. Tugas dari kantor mengantarkan saya mengunjungi kota ini kembali. Bersama Mbak Widya temen satu kantor, kami ditugaskan untuk mengikuti KAS Partner Conference dengan tema Democratization Experience: 20 Years Reunification, 10 Years Reformasi, 10 Years Independence di Hotel Tugu Malang dilanjuti seminar perempuan di hari kedua berikutnya.

Menurut ibu saya, dulunya Hotel Tugu adalah hotel mewah, walaupun sekarang memang masih mewah. Yang bisa menginap disana hanya orang elit atau kaya raya atau kalau kata bos saya, orang ningrat. Banyak hotel yang menjual kemewahan. Tapi hotel tugu Malang selain menjual kemewahan, hotel ini menjual daya tarik tamu yang mampir di hotel ini. Hotel Tugu menyajikan hal itu melalui perabotan, lukisan dan benda-benda sejarah yang tersimpan rapi dan bersih disetiap sudut hotel. Pesona yang dipancarkan dari Jl. Tugu seolah bertolak belakang dari modernsasi.

Tak ada yang bisa menceritakan secara penuh tentang sejarah Hotel Tugu pada saat itu. Saya hanya bisa meraba saksi bisu sejarah ratusan tahun yang lalu. Perpaduan nuansa Jawa, Belanda dan China menjadi sentuhan di Hotel Tugu. Diyakini, tidak akan pudar untuk dinikmati sepanjang zaman anak dan cucu kita kelak.

Ketika saya mencari ruangan untuk acara dinner bersama teman-teman dari Konrad Adenauer Stiftung, saya tersesat disuatu ruangan berukuran 7 x 8 meter. Masuk di ruangan tersebut terasa ada unsur magis didalamnya. Masih saya pandangi banyak foto dan guci tersusun rapi di lemari-lemari kayu jati kuno. Walaupun saya masih terasa ada yang aneh, saya berusaha untuk tetap tenang. Yakin ruangan tersebut bukan yang saya maksud, saya berbalik arah untuk keluar dari ruangan tersebut. Dan, ups…!!! terpampang foto berbingkai wanita berambut panjang. Duh, kaget banget, tapi sebenernya takut juga sih…Dibawah foto tersebut tertuliskan nama Oei Hui Lan. Konon sang ayah yang bernama Oei Tiong Ham merupakan raja gula di Asia Tenggara yang begitu tersohor. Karena kepiawaiannya mengelola bisnis gulanya itu, menjadi cikal bakal berdirinya pabrik gula Krebet di Malang. Serpihan kejayaan Oei Tiong Ham diperkuat dengan berburuan Anhar terhadap barang-barang peninggalannya.

Ruangan 7 x 8 meter ini disebut ruang Rajaharum. Diruangan ini, satu set meja dari kayu model klasik tradisonal yang dahulu biasa digunakan Oei Tiong Ham untuk memimpin rapat bersama dengan saudagar kelas dunia terkait bisnisnya berhasil didapat dari Semarang. Satu set meja tersebut diletakkan tepat di tengah-tengah. Pak Anhar inilah yang menemukan meja tersebut karena memiliki cita-cita luhur ingin mengingatkan kembali pada sejarah yang terlupakan. Meja sejarah itu pun bebas dimanfaatkan para sekadar untuk bercengkerama dan makan.

oei hui lan Kembali ke cerita lukisan Oei Hui Lan, sang putri dari Oei Tiong Ham. Lukisan yang berukuran 1 x 1,5 meter itu memang mampu memberi kesan lain begitu melihat setiap detilnya. Setelah saya kembali esoknya ke ruangan Rajaharum, Setiap melihat lukisan ini bulu kuduk bisa merinding. Aura seninya begitu kuat. Mistik tapi indah untuk dilihat. Tak bisa terlalu lama saya melihat lukisan tersebut, karena bisa membuat bulu kuduk berdiri.

Dari keterangan google yang saya dapatkan, Oei Hui Lan merupakan putri kesayangan Oei Tiong Ham. Sang putri ini yang selalu setia mendampingi ayahnya dalam menjalankan bisnisnya. Termasuk menjadi penterjemah ketika ayahnya pergi ke Eropa. Sayang lukisan tersebut tidak tercantum nama si pelukis.

Ada lagi ruangan yang membuat saya kagum kembali. Saat melangkah di Endless Love Avenue to The Sahara, sebuah lorong cinta yang bergaya arsitektur era kerajaan Mesir dengan didukung temaram cahaya yang menimbulkan kesan romantisme.

Oh iya, di lt. 2 kalau gak salah ada sebuah peta asli rencana tata kota Shanghai yang diterbitkan North China Daily News and Herald Limited pada 1928. Peta ini berukuran satu meter persegi dan terpajang di salah satu dinding. Sayang, saya gak sempat foto peta tersebut karena saya selalu menunda-nunda kesempatan, akhirnya terlupakan mengambil foto kembali.

Jika ke Malang, saya akan sempatkan mengunjungi kembali Hotel Tugu….

 

Misteri dan Kemegahan Istana Bogor August 19, 2009

Filed under: jaLan-jAlaN — rizka @ 3:55 pm
Tags: , , , , ,

Kantor kami InterMatrix Communications (IMX) tiap tahun mengadakan acara outing. Tahun-tahun kemarin kita outing ke Anyer, Puncak, Bali, Jogja dan Surabaya. Maka 2009 ini kita outing ke Bogor. “Together is always better” adalah tema yang diusung oleh IMX untuk tahun ini. Memang, kebersamaan sangat penting, gak hanya di keluarga aja lho, tapi di kantor juga penting. Kenapa? Karena kita bekerja membutuhkan orang lain, bekerjasama dan tidak tertekan. Mmmmh…panjang juga kalau cerita tentang kebersamaan di dalam kantor yah…

Tapi outing kali ini benar-benar ceria. Kita bisa berkunjung ke Istana Bogor lho. Seumur hidup gue, gue baru berkunjung ke Istana Bogor dan bisa melihat dengan lebih dekat ruang kerja Presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno. Sangat luar biasa. Mulai dari arsitektur yang ditinggalkan oleh Belanda sampai barang-barang seni yang dikoleksi oleh Bung Karno. Seakan saya ingin kembali ke zaman dahulu dengan kehidupan Bung Karno dan pemerintahannya.

bogor Dari Jakarta ke Bogor hanya kami lalui satu setengah jam. Sesampai di pintu masuk istana, kemegahan istana mulai terasa di jiwa saya. Selain kemegahan bangunan, saya mulai merenungi misteri tentang peninggalan sejarah dari tempat itu, terutama diruang Bung Karno bekerja dan menandatangani Super Semar yang berbuntut pada kejatuhannya.

Pak Cecep adalah guide kami dari Istana. Beliau membawa kami mulai dari gedung sayap kiri melewati ruang kerja, ruang makan, perpustakaan, ruang tidur sampai ruang pertemuan yang disebut ruang teratai. Kenapa? Karena di ruang itu terdapat lukisan bunga teratai.

Saya takjub dengan lukisan-lukisan indah berseni yang terpajang disetiap sudut ruangan. Kebanyakan lukisan wanita, ada juga lukisan wanita yang tidak menggunakan sehelai benangpun. Tapi ingat, jangan dibilang porno lho, tapi sebuah karya seni. Cieee…

Ternyata Bung Karno-lah yang mengisi semua karya seni masuk ke istana. Selain lukisan, ada juga koleksi guci, piring, porselen dan patung. Lampu kristal yang dibeli di Cekoslovakian menghiasi ruang–ruang utama. Beratnya ada yang mencapai 500 kg, “kata Pak Cecep.

Menurut Mbah Google, Istana Bogor mulai dipakai sebagai istana kepresidenan tahun 1950. Sebelumnya bangunan yang berdiri di tanah seluas 28,8 hektar ini difungsikan sebagai tempat tinggal Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Adalah Gubernur Jenderal GW Baron van Imhoff yang menemukan lokasi ini. Sebuah catatan menyebutkan, pada 10 Agustus 1744 Imhoff melakukan inspeksi ke Cianjur, Jawa Barat, dan kemudian menemukan tempat yang dianggap strategis dan cocok untuk beristirahat yakni Bogor.

Setahun kemudian ia memerintahkan membangun sebuah tempat peristirahatan yang gaya bangunannya meniru bangunan gedung Bleinheim Palace, rumah tinggal Duke of Malborough, di wilayah Oxford, Inggris. Tentu gaya bangunan yang kemudian terwujud belumlah semegah dan sebesar sekarang ini. Imhoff kemudian menamai duplikat Bleinheim Palace itu Buitenzorg atau San Souci yang artinya bebas masalah dan kesulitan.

Tak sedikit Gubernur Jenderal yang menjabat setelah Imhoff kemudian mengadakan perubahan-perubahan bentuk bangunan. Begitu pula pada masa perang antara Indonesia lawan Belanda, banyak bagian Buitenzorg yang hancur dan kemudian diperbaiki.

Selain menambahkan bangunan, ada juga gubernur jenderal yang memperhatikan keindahan di luar bangunan. Herman Willem Daendels, pembangun jalan Anyer-Panarukan, misalnya, malah mengupayakan adanya hewan-hewan liar yang akan dilepas di halaman pesanggrahan.

Gubernur jenderal yang berkuasa antara tahun 1808-1811 itu mendatangkan 12 ekor atau enam pasang rusa yang berasal dari perbatasan India dan Nepal.Rusa-rusa ini kemudian dibiarkan lepas dan berkembang biak di lingkungan halaman istana. Kini rusa-rusa tersebut jumlahnya sudah mencapai 800-an.

Tapi karena jumlahnya yang terus bertambah, beberapa kali pihak istana menyerahkan rusanya ke Taman Safari Indonesia. “Karena tempatnya sudah sangat sempit untuk jumlah yang besar itu,” lanjut Pak Cecep.
Oh iya, ada cerita yg tertinggal…Di ruang istana terpasang berhadap-hadapan cermin berukuran sekitar 1 x 1,5 meter. Sekilas, tak ada yang istimewa pada kaca itu. Tapi, ketika didekati, ada yang membedakannya dari cermin biasa: setiap orang yang bercermin di kaca tersebut, akan terlihat pantulan dirinya dengan jumlah yang tidak terhitung. Itulah cermin yang terbuat dari kristal yang disebut Kaca Seribu Wajah.

 

Sekali Berlayar, Empat Pulau Kudatangi May 14, 2009

Filed under: fearFactOr, jaLan-jAlaN — rizka @ 6:41 pm
Tags:

kepulauan seribu Horeee!!! Gue jalan-jalan lagi…kali ini gue jalan menuju kepulauan seribu bareng temen-temen yang luaaarrr biasa hebatnya. Nginep sehari sabtu-minggu dan mendirikan tenda di pinggir pantainya Pulau Untung Jawa. Dari Muara Angke, bersama kita menuju ke kepulauan seribu dengan 2 perahu. Tapi sayang, alat safety-nya kurang. Hanya beberapa orang yang mendapat jaket pelampung. Tapi alhamdulillah kita semua selamat tak kurang satu apapun. Mungkin lain kali kalau mau mengadakan lagi, Event Organizer lebih memperhatikan keselamatan peserta.

Selama kita berkemah di Pulau Kampung Jawa, semua peserta mampir ke pulau-pulau yang saya tulis dibawah ini. Yang paling mengesankan di pulau Onrust. Banyak puing-puing sejarah yang ditinggalkan oleh Belanda dan menjadi saksi bisu. Yang paling menyedihkan yaitu pulau-pulau yang kurang dirawat dan sampah di tepi pantai yang ikutan bersandar. Mau coba membantu apa ya? masih bingung. Masa sih sampahnya dibawa lagi ke Jakarta, nanti pas dibawa ke Jakarta, sampah menepi lagi di pulau-pulau utara tsb.

Kesan ikut jalan-jalan ya asyik-asyik aja, walaupun masih ada kurang sana-sini, khususnya si EOnya. Kelamaan nunggunya…kurang koordinasi dengan peserta. Yang paling bete pas kita berada di Pulau Rambut. Hampir 2 jam lebih kita bingung harus menunggu kapal yang akan menjemput kita untuk kembali ke Pulau Untung Jawa. Membayangkan kita terdampar di pulau yang masih ada biawak, burung, ular dan binatang liar lainnya. Thank God, akhirnya kita dijemput juga untuk kembali pulang ke Jakarta. Tapi, karena gak ada rundown, saya dan beberapa teman hampir tertinggal. Hahahahha…saking kelamaan nunggu, kita bernarsis ria dengan foto-foto dulu. Lari-lari deh ngejar perahu…sampe ngos-ngosan.

Dari info yang gue dapet dari Google, inilah cerita pulau-pulau yang gue datengi:

Pulau Onrust

Pulau Onrust memang punya sejarah yang panjang, terutama berkaitan erat dengan sejarah Jakarta tentunya. Letaknya yang tidak jauh dari daratan Jakarta harusnya membuat Pulau Onrust memiliki daya tarik tersendiri dari sisi sejarah.

Dimasa kemerdekaan, Pulau Onrust dijadikan rumah sakit karantina bagi penderita penyakit menular. Juga pernah dimanfaatkan sebagai penampungan gelandangan dan pengemis juga latihan militer. Tahun 1968 Pulau Onrust dijajah habis-habisan sehingga bangunan-bangunan bersejarah lenyap menyisakan puing-puing saja. Pulau ini kemudian diubah fungsinya menjadi karantina haji di tahun 1911.

Setelah itu Pulau Onrust menjadi sepi. Onrust yang berarti sibuk, harusnya tidak pantas disandang pulau ini. Walaupun sekarang pulau ini sepi, jejak-jejak kesibukannya masih bisa ditelusuri. Bekas-bekas fondasi bangunan menyisakan kepiluan yang menyesakkan. Di Pojok Pulau masih dijumpai pekuburan Belanda dimana jasad Maria dikuburkan. Maria sangat dikenal karena ia satu-satunya penghuni kuburan ini yang masih bisa dilacak keberadaannya melalui prasasti yang ditinggalkan. Konon, gadis Belanda yang meninggal muda di Hindia Belanda masih menampakkan sosoknya di malam hari.

Kalau Pulau Onrust dipugar atau setidaknya direkontruksi. Saya yakin, bangunan-bangunannya akan mampu memberi gambaran yang utuh bagaimana kesibukan di Pulau Onrust dulunya. Juga bagaimana pentingnya pulau yang terabrasi oleh gelombang lautan ini bagi kerajaan Belanda dulunya. Juga babak-babak penyerangan ke daratan Jakarta yang membuat Belanda makin menancapkan kuku-kukunya negeri ini. Pemerintah kita nampaknya tidak pernah mau serius pada masa lalunya dan tidak peduli dengan pelajaran sejarah serta pentingnya masa lalu. Maka jadilah sejarah mati di Pulau Onrust dengan sampah-sampahnya.

Pulau Kelor

kepulauan seribu Dari kejauhan hanya berbentuk bulat menyerupai cerobong asap pendek di tengah lautan. Tidak terlihat tanah di pulau ini. Hanya ada hamparan pasir putih yang seakan-akan menyembul dari permukaan laut. Sesungguhnya itulah daratan dari Pulau Kelor.

Pulau Kelor tidak memiliki dermaga sehingga menyulitkan kapal/ perahu merapat di pulau ini. Sisa-sisa dermaganya memang ada tetapi tidak adanya perawatan membuat sembilan puluh lima persen rusak. Akibatnya, dermaga tidak bisa sama sekali digunakan. Kalaupun ingin merapat ke pulau ini, harus pagi hari atau setidaknya sebelum tengah hari. Kabar yang pernah saya dapatkan adalah posisi pantai tidak memungkinkan didarati bila gelombangnya besar. Kapal bisa membentur bagian pulau yang berisi batuan-batuan pemecah gelombang atau menghantam dermaga yang rusak. Bisa juga kapalnya terjungkal karena adanya gelombang tidak memungkinkan bagian depan kapal menyentuh pantai berpasir di daratan pulau.

Kelor tetaplah sebuah pulau kecil yang eksostis. Pulau yang dari kejauhan yang memperlihatkan kemegahan benteng Martellonya ternyata menyimpan daya darik tersendiri untuk mengunjunginya. Semoga dalam pelayaran yang akan datang, saya akan sempat menginjakkan kaki di pulau kecil yang menarik ini

Pulau Cipir/Kahyangan

Pulau ini seperti “gudang” pulau onrust. Jika ada barang yang tak muat ditampung atau jumlah pasien sudah overloaded di onrust, maka akan dikirim (diinapkan) di cipir.

Waduh data tentang pulau cipik kurang nih, ada yang mau nambahin gak?

Pulau Rambut

Pulau ini menyimpan beraneka ragam rahasia alam. Pulau Rambut sendiri sebenarnya adalah pulau yang ditutupi hutan hujan tropis. Sebagian berawa dan terendam air jika pasang tiba. Tetapi tempat ini patut dijelajahi karena ini adalah tempat favorit para biawak. Biawak yang hidup dari memangsa telur dan anak burung memang hidup di rawa-rawa ini. Kalau kita beruntung, biawak-biawak sepanjang dua meter masih terlihat di sini. Selain rawa-rawa, jangan melewati kesempatan untuk memanjat menara pemantau burung. Aneka burung akan mudah dilihat dari ketinggian. Bagi pecinta fotografi, menara ini menjadi tempat yang paling menyenangkan untuk mengabadikan burung-burung terbang.

Pulau Untung Jawa

Pulau Untung Jawa terletak di sebelah barat Teluk Jakarta. Dari Jakarta bisa ditempuh dengan kapal penyebrangan satu sampai satu setengah jam.

Pulau Untung Jawa memiliki luas yang memadai untuk dijelajahi. Di dekat pelabuhan terdapat tempat yang dirancang pemerintah setempat sebagai tempat wisata. Masuk ke dalamnya akan ditemui masjid dan tempat-tempat wisata.

Para pemancingpun tidak harus jauh-jauh melemparkan kailnya. Cukup memancing di dermaga, ikan-ikannya cukup memadai.

Sayangnya Pulau yang terletak dekat dengan daratan Tangerang ini cukup dibombardir oleh sampah daratan. Di beberapa bagian pulau, sampah-sampah itu menyangkut di pohon-pohon bakau. Sebuah pemandangan yang tidak mengenakkan dilihat mata.

Suasana pulau yang berbeda dengan daratan membuat kita melupakan sedikit ketegangan akibat bekerja selama seminggu. Tapi jangan lupa, kalau menginginkan Pulau Untung Jawa bersih dari sampah, kurangi sampah dengan membuang pada tempatnya. Kalau perlu sampah-sampah yang kita temui selama keliling di Pulau Untung Jawa, dimasukkan ke dalam keranjang sampah. Dengan demikian kita sudah berandil menjaga lingkungan. Sederhana bukan?

 

Filmnya Raditya Dika, si Kambing Jantan March 5, 2009

kambingjantan Nothing to loose, ketika ada sayembara ticket gratis premiere film kambing jantan di PIM2 tanggal 3 maret. Masalahnya design template diblog “spirit of me” tidak ada ruang peletakan banner. Ya sudahlah, nontonnya nunggu dilepas tanggal 5 maret di bioskop terdekat…

Beberapa hari kemudian, ada pesan masuk dari WW di komputerku:
WW: RN (my initial) suka kambing jantan kan?
RN: iya WW, suka…
WW: saya sedang usahakan satu undangan untuk perdana filmnya di PIM 3 Maret, buat RN
RN: mauuuuu……mau….mau,,,,,, WW…..makasih :)
WW: yup… mudah2an dapet ya, nanti saya kasih tahu lagi

Dalam hati: horeeeeeeeeeeeeeeeeee………..makasih WW yang baik 

Dan akhirnya, 2 lembar undangan sudah berada ditangan gue dan melda. Mmmh…asyik nonton bareng, tapi jam pemutarannya kemaleman nih kayaknya…20.30, trus selesai filmnya jam berapa nih? Aaahh…cuek aja, kan deket bioskop dari kantor dan rumah.

Karena tiba-tiba WW sakit, 2 undangan sisa yang rencananya WW mau datang untuk nonton diserahkan ke Dewi dan Wulan. Semoga sekarang WW udah sembuh. Dan WW sempat menyampaikan sms ketidakhadirannya ke Radith via gue.

Akhirnya kita berempat: rizka, melda, wulan dan dewi berangkat. Tapi sebelumnya kita mampir ke rumah WW di Jl, madarasah untuk mengambil 2 undangan lagi. Sayang banget deh…WW gak bisa ikut. Tapi gak apa-apa, kan masih ada pemutaran besok-besoknya di bioskop.

Pas kita datang di bioskop PIM 2, dari jauh udah keliatan antrian panjang banget. Ooooh…ternyata undangan itu dituker dengan ticket masuk. Sempet juga sih antrian gue and wulan salah jalur. Tapi dengan cekatan, wulan bisa dapet dengan cepat. Hehehehe…good job wulan :P

Dengan lari-lari kecil diantara para ABG, kita berempat mulai bergerilya untuk menuntaskan tujuan kita datang ke bioskop ini. Pertama yaitu menyerahkan kaos souvenir dengan gambar kartun PO, lalu dengan bangganya radith kudu membuka kaosnya dan foto dengan Wimar angels. Hehehehe…Selanjutnya cari-cari orang lain yang kita kenal tentunya untuk berfoto bersama. Secara gak sengaja, di luar bioskop kita ketemu sama vokalis PADI si Fadly…Hehehe…lumayanlah.

Sambil menunggu jam masuk studio, kita screaning orang yang kita kenal. Tapi gak ada lagi. Udah capek dan ngantuk. Tapi orang-orang tak henti-hentinya berebut foto dengan Raditya Dika. Ck…ck…ck…hebat loe dith. Sempet gue perhatiin, pas Radith ditarik ke backdrop tengah, tampang radith bingung gitu dikerubungi oleh penggemar dan infotainment. Tapi gue percaya, loe bisa mengatasinya dan mudah2an loe aman dengan perubahan loe sekarang ini. Soalnya temen gue melda denger ada cewek yang bilang gini nih “pasti radith udah lupa sama gue”. Trus temennya si cewek bilang “emang loe siapanya’? Kata cewek itu “Gue mantan dia waktu SMP” sambil melewati Radith yang sibuk diwawancarai. Hiks radith…cewek mana lagi yg kamu kirimi surat waktu SMP dulu???? Ciri-cirinya tuh cewek yaitu rambut panjang dan mungil.

Review setelah nonton film kambing jantan? Mmmmm….gue lebih suka baca bukunya kambing jantan….

 

Raja Penjelajah: Bukan Indiana Jones, Bukan Rick O’Connel, Bukan Edmund Hillary tapi Don Hasman October 8, 2008

Filed under: jaLan-jAlaN — rizka @ 5:24 am

Mencari sesuatu yang baru, juga mencari sesuatu untuk bisa disebarluaskan agar bisa mempunyai nilai manfaat adalah kepuasan bagi seorang Don Hasman.

Bertemu dengan seorang Don Hasman adalah kesempatan yang sangat berharga buat saya. Kesempatan itu saya dapat karena sosok beliau yang baik, sederhana, lincah dan pintar walaupun sudah berumur 68 waktu saya bertemu saat itu.

donhasman Ada ketertarikan untuk enggan pergi dari Pak Don, ketika beliau menceritakan pengalaman menjelajah dunia kepada kami. Ternyata beliau sudah begitu banyak “mengukur” panjangnya jalan, menelusuri gua-gua, bersepeda, menyelam, mendaki gunung-gunung di Indonesia bahkan sampai Australia maupun Eropa. Foto-foto yang dihasilkan beliaupun tak kalah indahnya dengan cerita indah yang disampaikan. Beliau juga banyak mendapatkan penghargaan dari hasil menjelah ini. Ck…ck..ck…saya mulai jatuh cinta dengan Don Hasman…jatuh cinta dengan semangatnya dan karya-karya fotonya.

Pak Don, kalau Anda masih ingat dengan kami (Rizka dan Wulan), kami menunggu kabar dari Pak Don untuk melanjutkan obrolan-obrolan kita dimanapun Pak Don mau. Belum terlambat kan untuk explore tempat-tempat di pelosok negeri yang asyik untuk kita kunjungi?

Yang saya harapkan dari Pak Don yaitu diberikan kesehatan yang prima, supaya keinginan Pak Don untuk menjelajah daerah yang memiliki sejarah paling tua di dunia yaitu Amerika Latin bisa terwujud. Amin.

For wulan, thanks for your contribution on making this writing, gave me an inspiration.

Baca juga: Menjelajah Sampai ke Ujung Dunia