Spirit of Me

Free love? As if love is anything but free. Man has bought brains, but all the millions in the world have failed to buy love.

Keliling stasiun kereta api July 13, 2008

Filed under: fearFactOr, jaLan-jAlaN — rizka @ 12:51 pm

kereta api Pernah naek Kereta Api? Pernah naek Trem? atau pernah naek PPD? hehehe yang terakhir pastinya pernah yah, kalo gak pernah kebangetan! Tetapi kalo memang blom pernah sama sekali naek bus PPD atau Kereta Api, lebih baek baca laporan singkat saya jalan-jalan dengan sahabat museum keliling stasiun, spoorwegstations di Batavia.

Mungkin banyak diantara kita-kita penduduk Jakarta belum pernah merasakan nikmatnya naik kereta api. Katanya nih, kereta api dulunya pernah dibredel pada zaman Bung Karno karena ada yang bilang transportasi Belanda itu sangatlah belanda, berisik, semrawaut dan tidak enak didenger bunyinya yang kerap menderit bunyinya ketika lewat jalan besar dan juga sering nabrakin orang.

Sebelum naik KA, kita ngumpul dulu di statiun beos (sekarang stasiun jakarta kota). Udah janjian sama mbak desy, kenalan dari komunitas batmus dari Bali setahun yang lalu dan kebetulan mbak desy lagi di Jakarta.

Sambil menunggu teman-teman batmus yang lain, kita nonton film dokumenter tentang Beos, sekalian slide-show foto jadulnya. Dan ada yang bilang, bahwa film dan foto2 itu didapatkan dari arsip di belanda sono. Abis itu, kita keliling deh liat2 arsitektur peninggalan belanda yang keren abis. Seakan kita kembali ke zaman belanda lho. Oh iya, kereta api itu bisa dibilang trein (bahasa belandanya kereta api itu trein yah, bukan sepur-dari kata spoor, karena kalo spoor itu artinya jalur).

Lalu kita semua naik trein ekonomi dari stasiun beos menuju stasiun manggarai. Selama naik trein, kita semua diceritain lho riwayat trein dari IRPS (Indonesian Railway Preservation Society). Perihal fungsi dari pernak-pernik kereta api yang dinaikin sampe penjelasan perkara asal muasal kawasan dari stasiun yang kita lewati semua diceritain.

Mungkin karena bareng temen-temen batmus, suasana di kereta api ekonomi yang kita naikin jadi terasa lebih nyaman dan indah, padahal hari itu panasnya luar biasa loh. Dengan sok berani, saya bisa duduk di pinggir pintu kereta, padahal sangat berbahaya. Untuk menuju stasiun manggarai, harus melewati stasiun sawah besar-stasiun djuanda-stasiun gondangdia-stasiun gambir hingga ke stasiun cikini.

Dari Station Manggarai, berjalan kaki sedikit melewati salah satu lokomotif listrik yang ada di batavia dengan model lokomotif listrik WERKSPOOR-HEEMAF nomor 201 (ESS 3201).

Loko ini merupakan salah satu sejarah dari masa kejayaan yang patut dilestarikan. Namun sayang banget bahwa loko itu tampaknya agak terlupakan di tengah arus sejarah. Nah sebagi satu organisasi yang perduli thdp asset perkeretaapian yang bernilai sejarah, IRPS berniat utk melestarikan lokomotif ini bekerjasama dengan berbagai pihak yang terkait guna membuat monumen lokomotif listrik agar dikenal oleh generasi mendatang. Lokomotif ESS 3201 ini punya nama lho, namanya Bon Bon. Selain Bon Bon, banyak gerbong kereta api yang sudah tidak terpakai berada di halaman balai yasa manggarai. Gerbong ini disusun rapi. Banyak temen-temen batmus yang berfoto melihat keunikan gerbong-gerbong itu.

Perjalanan naik bus PPD dilaksanakan dari stasiun manggarai menuju ke stasiun tanjung priok. Lelah, panas dan lapar mengikuti masing-masing orang. Lumayan, saya bisa tidur sejenak selama perjalanan.

Tiba di stasiun tanjung priok, kita berkumpul untuk makan bersama. Menunya masakan padang lho, mungkin karena lapar, ya masakan padangnya enaak banget. Oh iya, sambil makan kita menonton kembali sejarah stasiun tanjung priok yang didirikan tahun 1885. Sampai saat ini stasiun tanjung priok sudah lama tidak digunakan. Kenapa ya?

Banyak ruangan gelap yang bisa ditemui di stasiun tanjung priok ini. Gak heran deh, bau-bau yang tidak sedap banyak berseliweran di udara karena stasiun ini sama sekali kurang perawatannya. Pak menteri, gimana? Urus dong gedung itu, kan sangat bersejarah banget. Malah dulunya dibilang “white house” tuh gedung, karena dulunya indah banget.

Huuuh…udah ah ceritanya…pokoknya capek akhirnya terbayarkan juga dengan mengelilingi tiga stasiun kereta api di jakarta.

Akhirnya kita berpisah di stasiun beos dan kembali ke rumah masing-masing. Sahabat Museum, ditunggu PTD berikutnya.

 

Semarang: Bandeng Presto, Lumpia, Wingko babat sampai Kota Lama June 4, 2008

Filed under: fearFactOr, jaLan-jAlaN — rizka @ 10:00 am

Kalau mau ke Semarang, jangan lupa bawa payung”, Percakapan saya dengan Mbak Riri teman blog ketika kami berYM-an.

Payung? “Iya, karena Semarang itu sangat terik, panas”.

simpang lima Yesssss…. tiba di Bandara Ahmad Yani bersama Melda disambut dengan cerahnya kota Semarang. Di Semarang kami mengikuti Bos Wimar Witoelar, dalam acara Forum WW: Dialog Interaktif Calon Gubernur & Wakil Gubernur Jateng 2008-2013 yang disiarkan live dari Auditorium RRI Semarang melalui TVRI Jawa Tengah dan RRI Semarang, Solo & Purwokerto.

Setelah tiba, kami dijemput oleh Mbak Eni panitia lokal dari Semarang. “Halo Mbak Eni, sayang ya kita belum ngobrol banyak karena kita lagi sama-sama sibuk waktu itu. Tapi Mbak Eni udah pegang kartu nama saya kan? Please telp saya ya, biar kalo saya ke semarang lagi saya bisa diajak jalan-jalan keliling kota semarang sama Mbak Eni.”

Kebolehan saya dan Melda untuk memanfaatkan kerja di luar kota memang tidak kalah hebatnya. Setelah kita menyelesaikan pekerjaan dengan panitia lokal pada hari itu, kami berkeliling sedikiiit di kota semarang bersama driver dari panitia lokal yaitu Mas Arief. Beruntung punya driver plus mercy baby benz yang mengantarkan kami jalan-jalan.

Di hari pertama, tujuan pertama yaitu beli oleh-oleh terkenal bandeng presto+wingko babat di Bandeng Juwana Jl. Pandanaran. Beli buat temen-temen kantor dan keluarga di rumah. Karena kedua makanan tersebut tipe yang tidak tahan lama untuk berhari-hari, maka kami minta dikirimin ke hotel sehari sebelum kami balik ke Jakarta. Wah, asyiiik…dikirimin langsung ke Hotel ternyata bisa lho!

Untuk harga satu kilo ikan bandeng presto Rp. 48.500, isi 4-5 ekor. Sedangkan satu dus wingko babat campur ukuran besar yaitu Rp. 38.000. Wingko babatnya saya akui sangat lezat dan gurih. Nendang banget buat mengisi perut yang sedang lapar.

Proses beli oleh-oleh bereslah udah, kini kami menelusuri kota semarang yang mulai terik oleh panasnya matahari. Melewati, tertujulah oleh bangunan kuno yang bernama lawang sewu. Kesan pertama saya adalah: “aneh, tapi mengesankan”.

Sesuai dengan sejarahnya, Lawang Sewu adalah gedung bekas kantor pusat Nederlands Indische Spoorweg Maatschapij (NIS), sehingga sangat ideal jika dikembalikan sesuai dengan fungsi semula. Gedung tersebut memang dirancang sebagai kantor, sehingga dengan sedikit renovasi dapat difungsikan menjadi perkantoran modern yang antik.

Konon gedung berarsitektur unik ini menyimpan kekuatan magis seribu hantu. Hal tersebut bisa dimaklumi, karena pada masa peperangan dulu, yang melibatkan Angkatan Muda Kereta Api (pemuda-pemuda Semarang) melawan bala tentara Kido Buati Jepang, gedung Lawang Sewu menjadi ajang penyiksaan dan pembantaian. Tidak jelas berapa nyawa telah melayang, tapi jumlahnya bisa dipastikan mencapai ribuan.Saking banyaknya korban yang dibantai pada waktu itu, Lawang Sewu kini juga mendapat julukan sebagai kawasan wisata horor. Menegangkan sekaligus mengasyikkan. Puluhan paranormal dari berbagai penjuru Tanah Air pun sempat menjadikan tempat ini sebagai ladang perburuan hantu. Dinamakan Lawang-Sewu karena gedung tersebut memiliki ciri khas bangunan megah ini memiliki pintu atau lawang sebanyak seribu atau sewu. Oh iya, ada kami ditemani oleh Ibu Kenik yang baik, dan diajak berkeliling di sebagian kecil wilayah Lawang Sewu.

Dari Lawang Sewu, lanjut lagi menuju Gereja Belenduk dan kawasan Kota Lama Semarang. Arsitekturnya hampir sama dengan kawasan Kota Tua di Jakarta, unik dan indah. Di tengah Kota Lama terhampar Polder Tawang yang fungsinya untuk mengatasi banjir di Stasiun Tawang. Tidak lupa, kami berfoto narsis di sana :P

Tapi sepertinya kurang sreg kalau kami belum mencicipi yang namanya lumpia semarang. Nyam…nyam… Mas Arief langsung memberi rekomendasi lumpia yang paling enak menurut dia di kota semarang, yaitu lumpia Mbak Lien di Jl. Grajen. Lokasinya di tempat yang sangat sederhana yang berada di gang kecil dengan gerobaknya. Lalu, terlihat seonggok laptop macintosh terletak di meja sang pemilik. Hebat.

Hari kedua. Saya, Melda dan Lila dengan menggunakan taksi mengunjungi eyangnya Mbak Lila di daerah Jati Ngaleh Semarang Atas. Suasana pedesaan masih tercium ketika kami tiba di rumah eyang dengan ditemani anggrek dan tanaman lainnya. Kerinduan Mbak Lila terhadap eyangnya terbayar sudah. Cukup terharu sih, soalnya inget sama almarhumah eyangku di Malang. Hiks!

Okeeeehhh…acara puncaknya niiih. Laporan lengkap ada di sini niih…

 

Pestanya Blogger 2007, Suara Baru Indonesia October 29, 2007

Filed under: fearFactOr, jaLan-jAlaN — rizka @ 9:11 am

Dalam tidur gue, tiba-tiba gue terbangun. Hah!!! udah jam 10, waduuuh…gue terlambat ke pesta blogger nih! Pas gue liat jendela…kok masih gelap ya? Mmmmh….tau-taunya jam 10 malem, masih hari jum’at. Hehehehe…pantesan! Kan pesta bloggernya hari sabtu.

ini gado-gado Yes..yes…yes!!! i join Pesta Blogger 2007. Thanks for my bos.Akhirnya ikutan juga gue di acara pb2007 ini. Gue bisa bertemu dengan blogger lainnya, gue bisa ketemu sama blogger yang gue sukaaaa banget ama cerita current issuenya. Dan di acara itu, gue bisa ketemu dia dan foto bareng. Waaah…gak kebayang deh. Trus jadi punya temen dan wawasan baru. Dan yang lebih seru lagi, gue dapet foto-foto yang seru dari awal sampai akhir acara.

Kesimpulannya…acaranya sukses banget, seru dan gue berharap ditahun-tahun selanjutnya Pesta Blogger diadakan kembali.

Baca cerita lengkapnya yang ditulis oleh Lidyawangsa dan Nindita di: Pesta Blogger 2007: Kopi Darat Blogger Se-Indonesia

photo by satya

 

Fenomena mudik lebaran October 24, 2007

Filed under: jaLan-jAlaN — rizka @ 10:24 am

Hihihihi…gue akhirnya ikutan mudik juga ke Malang, Jawa Timur. Kangen juga ama perjalanan panjang dari Jakarta-Malang-Jakarta dengan mobil. Kangen sempit-sempitan, kangen gak sikat gigi, kangen gak mandi…Hehehehehe…yang paling kangen sih sama suasana di Kota Malang apalagi sama saudara-saudara yang kebanyakan memang berada di Malang. Secara, bokap-nyokap dulu tinggalnya di Malang.

Jalur yang gue lalui Jakarta-Malang adalah jalur utara dan memang biasanya jalur tersebut yang kita pakai kalau mudik ditahun-tahun sebelumnya. Disamping jalan raya kebanyakan lurus, view kiri kanannya juga bagus. Mungkin gak kalah juga sih ama jalur selatan, ya karena belum dicoba aja.

Kami berangkat Minggu (14/7) pas dengan hari kedua lebaran. Alasannya biar jalanan sepi dan pemudik sudah berangkat sebelum lebaran. Dan memang, perjalanan lancar sekali. Alhamdulillah. Selain lancar, jalan yang kita lalui mulusssss…thanks buat pihak-pihak yang terkait dalam memuluskan jalanan yang dilalui oleh para pemudik. Tapi sayang, kecelakaan kendaraan beberapa pemudik tidak bisa dihindari ketika kami akan masuk ke Kota Cirebon. Kami sempat melihat kecelakaan motor dengan bus tepat di depan mata kami. Orang tersebut terlihat jelas sedeng berjuang menyelamatkan nyawanya sendiri, sedangkan motornya yang sudah hancur berada di bawah ban bus tersebut. Mudah-mudahan sampai saat ini, orang tersebut sudah sehat walafiat. Amin.

Perjalanan kami lanjutkan kembali. Tiba di Kota Kudus, hujan lebat datang. Hujan yang disertai dengan angin kencang membuat kami khawatir dengan pohon-pohon besar yang berada di kanan-kiri jalan. Dan benar saja, mobil yang berada diperlintasan kejatuhan ranting sedang. Secara gotong royong, beberapa orang membantu menyingkirkan ranting dan jalanan kembali lancar.

Tiba di Kota Tuban, kami istirahat dulu di rumah tante. Persis dibelakang rumahnya adalah laut dengan pasir putihnya yang terhampar sangat luas. Main di laut memang saat yang ditunggu-tunggu.

Ada cerita lucu nih dengan penduduk yang tinggal di dekat pantai. Jangan heran, jangan bingung atau jangan jijik ya dengan kebiasaan penduduknya yang buang hajat dibibir pantai sembarangan. Kalau pagi-pagi nih, banyak yang pada jongkok lho, ya itu…bagi-bagi granat. Hihihihi…jijay. Karena gue dari kecil sering jalan-jalan ke pantai Tuban, ya berarti kalau jalan harus hati-hati dengan tumpukan granat yang sembunyi di pasir. Wakakakakak…

Siang hari, kami lanjut ke Malang. Pulau Jawa keliatannya sedang kemarau. Pohon kebanyakan menjadi kering, ranting-ranting hampir tidak berdaun. Dan panas sangat menyengat. Dalam perjalanan, kami seperti ada ditengah gurun. Sempet surprise ditengah gurun, ternyata ada penjual es cendol, sendirian pula. Tadinya gue pikir fatamorgana kaya cerita di Tintin, tau-taunya beneran tukang es cendol. Ya udah, untuk membuktikan si es cendol bukan fatamorgana, kamipun berhenti untuk menikmatinya. Suegeeer…

Untuk menuju ke Malang, kami harus melewati jalan raya porong dan melewati area lumpur lapindo. Mmmh…sebenernya pengen banget ngeliat area tersebut. Tapi bokap males dengan kemacetan yang terjadi, soalnya denger-denger daerah itu macet total karena banyak wisatawan yang berhenti untuk melihat dan berfoto. Akhirnya, kami lewatin jalan tikus deh dengan melewati persawahan dan kebun teb lalu muncul-munculnya malah di PT. Lapindo Brantas.

Nah, di daerah porong ini, kami mampir lagi di rumah adik bokap yang sekarang bertugas di LP Porong.

Malang sudah tidak seperti yang dulu. Tidak dingin dan tidak sejuk lagi. Sudah mulai banyak perumahan dan pertokoan yang bertebaran di sana.

Tiba di rumah Eyang, suasana tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Yang biasanya eyang menyambut kami di depan rumahnya, kini tidak lagi. Kali ini, kami menemui eyang di tempat peristirahatan yang tenang.

Kalo udah di Malang, pengen cepet balik lagi ke Jakarta. Pulang deh ke Jakarta melalui Kota Batu trus lewat jalur selatan lalu ketemu di Kota Tuban jalur utara.

Yah, itulah sekilas tentang pengalaman gue mudik lebaran. cukup fenomenal bukan ??

Tahun depan mudik ke amsterdam ah hihihihihihihi…..

 

Kulewati Garis Khatulistiwa September 5, 2007

Filed under: jaLan-jAlaN — rizka @ 11:59 am

pontianak

Setelah Surabaya, Palembang dan Banjarmasin. Kini tiba saatlah roadshow Perspektif Baru Live di empat kota berakhir di Pontianak. Kota yang terletak di garis khatulistiwa ini merupakan tempat tinggal dari berbagai macam suku dan etnis. Meskipun berbeda-beda, namun masing-masing pihak selalu berusaha menghargai perbedaan yang ada. Hal ini mungkin dapat dilihat dari poster-poster dan gambar-gambar dari para calon gubernur dan wakil gubernur yang akan bersaing di Pilkada. Apabila calon gubernurnya berasal dari etnis melayu, maka wakilnya berasal dari etnis Tionghoa atau sebaliknya. Hal ini juga berlaku pada latar belakang agama calon pasangan tersebut. Terlihat sekali bahwa para calon pasangan ini, inging mengakomodir keinginan dari banyak pihak di masyarakat.

Rombongan tiba di Kota Pontianak sekitar pukul 12 siang lebih. Tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dengan Pontianak. Alhamdulillah, perjalanan lancar dengan Batavia Airlines. Tumben, yang biasanya delay, ini gak lho meskipun ada sedikit guncangan-guncangan kecil pas di udara. Hehehehehe…

Setiba di Bandara Supadio Pontianak, kami dijemput oleh panitia lokal dari Pontianak Post. Lalu rombongan meluncur ke restoran untuk makan siang. Cuaca pada saat itu cerah menjurus panas, tapi itu tidak mengurangi selera makan kami dalam menikmati hidangan yang tersedia, apalagi dengan adanya es buah lidah buaya yang segar sekali. Senang sekali rasanya menikmati hidangan yang lezat ketika pertama kali menginjakkan kaki di pulau Kalimantan ini.
Sehabis makan siang, rombongan pun meluncur menuju Hotel Grand Mahkota yang akan menjadi tempat menginap rombongan kami. Hotel ini merupakan hotel tertinggi di Pontianak. Hotel ini sebenarnya sudah cukup lama umurnya, tapi dengan adanya renovasi, kondisi dan interior dari Grand Mahkota masih dalam kondisi yang bagus. Rombongan pun beristirahat untuk bersiap siap akan kegiatan padat yang akan dilalui esok harinya.

Kegiatan yang dilakukan di hari Senin adalah Talk Show Perspektif Baru Live yang diadakan di Universitas Tanjungpura bersama Wimar Witoelar dan A.B. Tangdililing. Talk show ini dihadiri oleh anak anak SMA, mahasiswa, dan masyarakat umum. Para peserta sangat antusias dalam mengikuti diskusi tersebut.

Pada hari Selasa, acara Seminar Pilkada bersama Wimar Witoelar, Hadar N. Gumay, Aida Mochtar, dan Muhammad pun dilaksanakan. Ratusan mahasiswa, masyarakat umum, LSM, dan media yang datang dengan antusias menjadi peserta seminar ini. Senang sekali rasanya mendapat sambutan yang meriah dalam acara ini. Semua kerja keras dan rasa capai terbayar rasanya.

Harus diingat bahwa Pontianak ini terkenal sebagai Kota Khatulistiwa karena dilalui garis lintang nol derajat bumi. Di utara kota ini, tepatnya Siantan, terdapat monumen atau Tugu Khatulistiwa yang dibangun pada tempat yang tepat dilalui garis lintang nol derajat bumi
Makanya saat disana, rombongan kami menyempatkan diri untuk datang dan melihat Tugu Khatulistiwa yang legendaris tersebut. Tugu ini kaya akan nilai sejarah lho.

Berdasarkan catatan yang diperoleh pada tahun 1941 , pada bulan Maret 1928 telah datang di Pontianak satu ekspedisi Internasional yang dipimpin oleh seorang ahli Geografi berkebangsaan Belanda untuk menentukan titik/tonggak garis equator di kota Pontianak dengan konstruksi sebagai berikut :

a. Tugu pertama dibangun tahun 1928 berbentuk tonggak dengan anak panah.

b. Tahun 1930 disempurnakan, berbentuk tonggak dengan lingkarang dan anak panah.

c. Tahun 1938 dibangun kembali dengan penyempurnaan oleh opzicter / architech Silaban. Tugu asli tersebut dapat dilihat pada bagian dalam.

d. Tahun tahun 1990, kembali Tugu Khatulistiwa tersebut direnovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu asli serta pembuatan duplikat tugu dengan ukuran lima kali lebih besar dari tugu aslinya.

e. Pada bulan Maret 2005, Tim Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan koreksi untuk menentukan lokasi titik nol garis khatulistiwa di Kota Pontianak. Koreksi dilakukan dengan menggunakan gabungan metoda terestrial dan ekstraterestrial yaitu menggunakan global positioning system (GPS) dan stake-out.

Anyway, bisa dilihat di foto berikut gimana kerennya Tugu Ini ? Udah gitu semua orang yang datang ke sini, dapat mendapatkan sertifikat sebagai tanda bahwa kita telah melampui garis khatulistiwa dengan hanya membayar Rp. 10.000. Seru kan ?

Sebuah pengalaman menyenangkan di Kalimantan yang akan selalu saya kenang. Yuk yuk yang mau kesana, jangan ragu-ragu :)

 

Dalam sehari, tiga acara kena August 27, 2007

Filed under: jaLan-jAlaN — rizka @ 2:10 pm

Hari sabtu kemaren, rencana acara sangatlah padat. Rencana pertama nih, diajak maro ama keket ke SDN 15 Pondok Labu untuk ngeliat anak-anak SD shooting cuci tangan dengan sabun bersama Trans 7. Acara kedua yaitu ke Snappy Gandaria untuk cetak nametag media untuk acara seminar senin. Ketiga, diajak tetangga cari onderdil mobil di Kota, trus keempat mau ke cafe Omah untuk datengin acara bedah bukunya Andrea Hirata dan minta tandatangan buku tetraloginya. Lalu jam 17.00 di sms ama EI, acara mendadak di rumah Arifin Panigoro dalam rangka party ala Om Arifin di rumahnya. Tentu gue pergi bersama WW, HW and Atun. Trus rencana acara terakhir nonton acara tujuhbelasan di komplek gue.

Akhirnya dalam sehari total acara yang gue lakoni ada 3 yaitu:
- Ke Snappy Gandaria untuk cetak nametag media untuk acara seminar senin. Karena snappy ada warnetnya yang cepet aksesnya, selama 2 jam gue nongkrong di warnet. Hehehehe…gak terasa lho.

arifin panigoro-wimar witoelar - Dari snappy, pulangnya sorean trus istirahat dan langsung mandi untuk siap-siap ke rumah Om Arifin di Jl. Jenggala. Kumpul di rmh WW jam 19.00 dan berangkat dari rmh WW ke rmh Om Ipin jam 19.30. Acaranya sekedar ngobrol-ngobrol aja, seperti reuni gitu. Soalnya antara WW dengan Arifin Panigoro dulunya temen kampus di ITB. Betul kan W? Rumahnya sangat-sangatlah nyaman, suasananya juga asyiik. Jadi nambah pengalaman nih, berkunjung ke rumah orang terkaya ke 5 di Indonesia.

- Pukul 21.00 pulang, karena 22.00 ada pertandingan bola. Tapi gue nekat mau ke Cafe Omah, cuma mau minta tandatangan seorang penulis novel Andrea Hirata. Andrea Hirata, out of the blue yang belum gue kenal sebelumnya. Awalnya karena kakak gue, Lulu Putri Andi punya ketiga buku Tetraloginya Andrea. Saking suka dengan cerita-ceritanya, Andrea sudah menjadi fans beratnya dia. Pas mbak lulu ketemu gue di rumah, dia menceritakan buku yang berjudul Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor dan andrea hirata Maryamah Karpov (ini blm keluar) sebagai novel yang hebat. Katanya gue harus baca keempat buku ini. Dengan adanya web 2.0, gue cari tuh dimana Andrea bisa ditemukan. Eeehhh…gue search deh di google, ketemu no hp nya dan tempat dia akan membedah bukunya. Nah, di cafe omah-lah dia bedah buku. Dari sms-smsan, gue dan andrea bisa ketemuan. Maap ya WW, WW jadi kerepotan cari2 cafe Omah buat rizka :). RN dan mbak Lulu makasih banget. Singkat cerita gue tiba di cafe omah. Pukul 21.10 acara belum selesai, soalnya gue cuma mau minta tandatangan trus pulang. Ya udah, gue minta di drop aja, biar pulangnya naik taksi. Soalnya gak enak juga kalo mereka nunggu lama. Aha…akhirnya ketiga buku udah ditandatangani oleh seorang Andrea Hirata. Pasti kakak gue seneng banget deh. Pas gue pamit pulang, Andrea bilang untuk selalu contact-contact-kan. Pastilah Andrea… :)

 

Holiday in Purwokerto August 14, 2007

Filed under: jaLan-jAlaN — rizka @ 9:38 am

Pada 8-9 Agustus lalu, secara gak niat gue berangkat ke Purwokerto. Dengan Kereta Api, kami berempat berangkat untuk mengikuti acara jumpa fans di Zone Cafe & Discotheque, Hotel Moro Seneng, kawasan Objek Wisata Baturraden Purwokerto. Salah satu dari kami berempat, kata orang sih selebritis dan yang gue tau dia pernah main sinetron Ada Apa Dengan Cinta.

Ah, dengan artis siapa gue pergi itu bukan masalah. Tapi masalahnya adalah, gue berada di Purwokerto. Kata orang-orang, Purwokerto itu suka disebut Puerto Rico. Soalnya penyebutannya hampir mirip. Kota ini terletak di Jawa Tengah dan merupakan ibu kota kabupaten Banyumas. Menurut Wikipedia, perkembangan terakhir Purwokerto adalah munculnya wacana untuk mengubah Purwokerto menjadi kota, tetapi masih terjadi tarik ulur di kalangan DPRD Banyumas. Gak tau tuh sebabnya apa.

Walaupun hanya sehari berada di Purwokerto, tapi kesan gue dapet banyak sekali. Orangnyapun ramah-ramah. Pas dihari kita tiba di Purwokerto, tujuan utamanya yaitu makan siang di Restoran Laguna, di Jl RA. Wiryaatmaja. Untuk di daerah Purwokerto, restoran ini lumayan bagus. Suasana seperti di Jakarta aja kalo kita udah berada didalamnya. Rasa makanannya juga oke. Setelah kenyang, kita berlanjut menuju Radio Crez FM. Setelah si seleb chit-chat selama sejam on air di radio, lalu kita naik mobil dan langsung menuju lokasi acara nanti malam untuk mengecek situasi dan kondisi Cafe. Hampir sejam jam kita ngecek, selanjutnya kita istirahat di hotel yang berada jauh dibelakang café tersebut. Karena acara inti pukul 24.00, kita harus menunggu beberapa jam. Walaaah…capek juga nunggunya. Udah gitu dingin banget. Brrrrr…untung hotelnya nyediain hot water buat mandi.

Pukul 21.00 kita dijemput oleh panitia lokal untuk makan malam, makan malamnya juga special. Tidak lupa, restoran menyajikan makan tradisional Purwokerto yaitu tempe mendoan. Mmmmh…lagi dingin-dingin, kita makan tempe mendoan. Asyiiik…disediain 2 piring penuh dengan tempe mendoan. Gimana gak mabok tempe tuh :P

Setelah selesai makan. Kita-kita yang bukan seleb nih, sudah terbiasa dengan permintaan penggemar-penggemar si seleb buat foto bareng. Pokoknya dari stasiun Gambir, dari dalem Kereta Api sampe kita pulang lagi ke Jakarta, banyak yang minta foto bareng. Gue sebenernya pengen juga sih foto ama dia, tapi nanti-nanti mulu, eeh,….malah kelupaan ampe pulang berpisah.

Terusin lagi nih ceritanya…setelah itu abis makan kita balik lagi ke hotel untuk persiapan acara tengah malam. Pokoknya, kesimpulannya…acaranya seru, sukses dan gak nyangka kota seperti Purwokerto punya café dengan nuansa Jakarta.

purwokerto team

Ada permintaan perpanjangan cerita nih dari Jai. Siapa Jai? (Jai atau Jay sih?) Jay aja deh :P
Lanjuuut…Ketiga temen gue melakukan tugasnya masing-masing. Si seleb bertugas untuk memberikan kepuasan terhadap para penggemarnya, sedangkan kedua temen gue menjaga si seleb dan kontrol situasi agar si seleb nyaman. Sedangkan gue? manyun-manyun aja sambil melihat situasi. Kadang suka aneh aja keliatannya, banyak cewek-cewek ngefans banget ama tuh seleb. Gue mah, biasa aja tuh. Ya, orang memang beda-beda sih…jangan disalahin juga. Mungkin kalo seorang Horrison Ford dateng ke rumah gue, gue juga akan tergila-gila. Hehehehehe…

Jujur seeh…gue bete banget saat itu. Soalnya semua orang yang gue kenal punya tugasnya masing-masing. Berjalan mendekati meja media, gue mencari-cari wajah yang bisa gue ajak ngobrol. Aha…ada cowok-cowok dari media berkumpul di suatu sudut cafe. Nah, gue kenal Jay ya disitu, Jay bekerja di Surat Kabar Kedaulatan Rakyat untuk zona Purwokerto (bener gak Jay?) Mungkin karena Jay ngeliatin gue yang lagi bete. Ya sudah deh, kita ngobrol ngarul ngidrul. Dari A sampe Z. Trus dari Z balik lagi ke A. Akhirnya waktu berpisah. Jay dan kawan-kawannya pulang pukul 02.00. Sedangkan acara selesai pukul 03.00. Otomatis, gue dan rombongan balik ke hotel pukul 02.30. Mmmh…banyak hal yang berkesan. Mulai perjalanan dari Jakarta ke Purwokerto maupun sebaliknya sampai akhirnya ada Jay di Purwokerto. Buat Jay, nice to meet you… :) ——– Kalo kata tukul: puas!!! ——- canda Jay :)

 

Nongkrong sambil makan ice cream Ragusa July 25, 2007

Filed under: jaLan-jAlaN — rizka @ 10:24 am

Pfff…udah lama nih gak makan ice cream. Makan ice cream tuh enaknya bareng-bareng ama temen, trus sambil ngobrol-ngobrol seru deh. Bener-bener nikmat pokoknya.

Sebenernya sih, gue gak sampe bela-belain buat makan ice cream. Yang ada disekitar aja, yang gampang ditemuin. Misalnya kalo yang di PIM 1 itu Baskin & Robins, trus PIM 2 ada Haagen Dazs. Ada lagi sih sebenernya gue pernah nyobain di PIM 2 lantai 3, tapi gue lupa nama tempatnya dan kayaknya udah tutup. Trus yang di Chitos, tongkrongan asyik sambil makan ice cream ya di Café Pisa.

toko ice cream ragusa Tapi kalo ice cream yang ini-nih, ice cream yang rasa dan tempatnya lain dari yang lain. Nggak semua orang lho tau area ice cream Italia ragusa, tepatnya di Jl. Veteran I/10 JakPus. Kalo gue, awalnya baru tau nama doang, tempatnya belom tau pada waktu itu. Tapi setelah diajak ama Andi, waah…gue seneng banget diajak ke sana. Apalagi makan ice creamnya segelas berdua. Dan tuh ice cream gue yang ngabisin. Secara, porsinya lumayan besar. Mmmmhhh…dan emang, rasanya enak dan suegeer….

Selain rasa ice yang enak, toko ice cream ini memiliki cerita sejarah. Menurut berbagai sumber, pemiliknya sekarang adalah Effendi Sumartono. Beliau adalah anak dari Lam Khai Tjioe, juru masak asal Canton RRC yang mendirikan restoran khusus makanan Cina. Restoran ini sudah ada sejak tahun 1947 bersama dengan Tan Kim Poo dan Tan Lung, namu kalo adanya gedung ini sekitar tahun 30-an. Nah, sejak berdirinya toko ini, cat restoran itu hanya sekali berubah, dari biru menjadi hijau. Dan daftar menu yang terpampang masih ditulis dalam ejaan lama!

Yuk, pintong ke Ragusa!

 

Fantastic Four, Rise of the silver surver June 15, 2007

Filed under: jaLan-jAlaN — rizka @ 2:29 pm

fantastic four Ceritanya nih… Pahlawan seluruh keluarga yang menghadapi tantangan terbesar. Hadir sebagai wujud misterius, pertempuran antar galaksi, Silver Surfer datang ke bumi untuk membuat pengrusakan. Saat Silver Surfer beraksi, Reed, Sue, Johnny dan Ben harus membongkar misteri Silver Surfer yang mendapat mandat dari bosnya untuk melenyapkan planet-planet yang ada di alam semesta untuk dijadikan sumber kekuatan dan menghadapi kembalinya musuh mereka, Dr Doom, sebelum semua harapan sirna.

Selesai nonton, sama sekali gue gak ngerti ceritanya. Aneh banget nih film! Cape deeh…

 

Toko Merah, Saksi Sejarah di masa VOC June 4, 2007

Filed under: jaLan-jAlaN — rizka @ 9:42 am

Hari libur kemaren, gue niat banget mau ke Kota tempat museum-museum berada untuk hunting foto-foto narsis. Tadinya sih pengen sendiri, tapi kalo sendiri siapa yang ambilin foto narsis gue? Bisa sih pake tripod, tapi lupa bawa, lagian ribet ah.

Sampe Kota, gue langsung hubungin temen gue yang anaknya rada-rada narsis juga kayak gue. Ronny namanya. Kasian banget, selama ini dia pengen banget bisa jalan-jalan bareng gue, tapi guenya selalu gak bisa. Karena gue bingung lagi mau ngajak siapa, akhirnya gue hubungi Ronny yang kata kakaknya masih tidur waktu gue telp ke rumahnya. Dengan maksud menghemat pulsa, akhirnya gue telp juga ke hp nya, dan gak tidur, waah…kakaknya sentimen banget ama cewek yang nyari ronny. Payah dah!

ronny Gue dan Ronny menyelusuri Jl. Kalibesar Barat, Jakarta Kota, yang di masa VOC merupakan pusat kota Batavia. Kita berhenti di sebuah gedung yang hampir seluruh bagian depannya berwarna merah. Di tembok merahnya, terdapat label yang bertuliskan: Toko Merah. Toko Merah itu, terletak berdekatan dengan stadhuis (Balaikota Batavia) yang kini masih tetap berdiri kokoh meskipun telah berusia tiga abad. Sejumlah gubernur jenderal VOC pernah mendiami gedung ini. Yang membangun gedung berlantai dua ini adalah Gustaff Baron van Imhoff pada 1730. Begitu bersejarahnya gedung tersebut, hingga ia banyak didatangi para wisatawan asing, maupun para pecinta gedung tua.

toko merahDi depan gedung inilah mengalir sungai Groote Rivier (Kali Besar) yang pada masa itu suatu kerusuhan besar terjadi yaitu pembantaian terhadap orang-orang Tionghoa. Peristiwa itu terjadi 10 tahun setelah gedung tersebut berdiri (1740). Di muara Ciliwung ini, yang kala itu airnya jernih, pada pagi dan sore, menjadi tempat mandi para Indo-Belanda. Sementara di malam terang bulan, para muda-mudi, sambil main gitar, bernyanyi menumpahkan isi hati mereka.
Selesai di Toko Merah, gue and Ronny berjalan menyelusuri jalan untuk menuju jembatan di Kota Intan, tapi sayang…jembatannya ditutup. Akhirnya kita balik menuju Gedung Museum Fatahillah untuk foto-foto narsis lagi.