Spirit of Me

Free love? As if love is anything but free. Man has bought brains, but all the millions in the world have failed to buy love.

Keliling stasiun kereta api July 13, 2008

Filed under: fearFactOr, jaLan-jAlaN — rizka @ 12:51 pm

kereta api Pernah naek Kereta Api? Pernah naek Trem? atau pernah naek PPD? hehehe yang terakhir pastinya pernah yah, kalo gak pernah kebangetan! Tetapi kalo memang blom pernah sama sekali naek bus PPD atau Kereta Api, lebih baek baca laporan singkat saya jalan-jalan dengan sahabat museum keliling stasiun, spoorwegstations di Batavia.

Mungkin banyak diantara kita-kita penduduk Jakarta belum pernah merasakan nikmatnya naik kereta api. Katanya nih, kereta api dulunya pernah dibredel pada zaman Bung Karno karena ada yang bilang transportasi Belanda itu sangatlah belanda, berisik, semrawaut dan tidak enak didenger bunyinya yang kerap menderit bunyinya ketika lewat jalan besar dan juga sering nabrakin orang.

Sebelum naik KA, kita ngumpul dulu di statiun beos (sekarang stasiun jakarta kota). Udah janjian sama mbak desy, kenalan dari komunitas batmus dari Bali setahun yang lalu dan kebetulan mbak desy lagi di Jakarta.

Sambil menunggu teman-teman batmus yang lain, kita nonton film dokumenter tentang Beos, sekalian slide-show foto jadulnya. Dan ada yang bilang, bahwa film dan foto2 itu didapatkan dari arsip di belanda sono. Abis itu, kita keliling deh liat2 arsitektur peninggalan belanda yang keren abis. Seakan kita kembali ke zaman belanda lho. Oh iya, kereta api itu bisa dibilang trein (bahasa belandanya kereta api itu trein yah, bukan sepur-dari kata spoor, karena kalo spoor itu artinya jalur).

Lalu kita semua naik trein ekonomi dari stasiun beos menuju stasiun manggarai. Selama naik trein, kita semua diceritain lho riwayat trein dari IRPS (Indonesian Railway Preservation Society). Perihal fungsi dari pernak-pernik kereta api yang dinaikin sampe penjelasan perkara asal muasal kawasan dari stasiun yang kita lewati semua diceritain.

Mungkin karena bareng temen-temen batmus, suasana di kereta api ekonomi yang kita naikin jadi terasa lebih nyaman dan indah, padahal hari itu panasnya luar biasa loh. Dengan sok berani, saya bisa duduk di pinggir pintu kereta, padahal sangat berbahaya. Untuk menuju stasiun manggarai, harus melewati stasiun sawah besar-stasiun djuanda-stasiun gondangdia-stasiun gambir hingga ke stasiun cikini.

Dari Station Manggarai, berjalan kaki sedikit melewati salah satu lokomotif listrik yang ada di batavia dengan model lokomotif listrik WERKSPOOR-HEEMAF nomor 201 (ESS 3201).

Loko ini merupakan salah satu sejarah dari masa kejayaan yang patut dilestarikan. Namun sayang banget bahwa loko itu tampaknya agak terlupakan di tengah arus sejarah. Nah sebagi satu organisasi yang perduli thdp asset perkeretaapian yang bernilai sejarah, IRPS berniat utk melestarikan lokomotif ini bekerjasama dengan berbagai pihak yang terkait guna membuat monumen lokomotif listrik agar dikenal oleh generasi mendatang. Lokomotif ESS 3201 ini punya nama lho, namanya Bon Bon. Selain Bon Bon, banyak gerbong kereta api yang sudah tidak terpakai berada di halaman balai yasa manggarai. Gerbong ini disusun rapi. Banyak temen-temen batmus yang berfoto melihat keunikan gerbong-gerbong itu.

Perjalanan naik bus PPD dilaksanakan dari stasiun manggarai menuju ke stasiun tanjung priok. Lelah, panas dan lapar mengikuti masing-masing orang. Lumayan, saya bisa tidur sejenak selama perjalanan.

Tiba di stasiun tanjung priok, kita berkumpul untuk makan bersama. Menunya masakan padang lho, mungkin karena lapar, ya masakan padangnya enaak banget. Oh iya, sambil makan kita menonton kembali sejarah stasiun tanjung priok yang didirikan tahun 1885. Sampai saat ini stasiun tanjung priok sudah lama tidak digunakan. Kenapa ya?

Banyak ruangan gelap yang bisa ditemui di stasiun tanjung priok ini. Gak heran deh, bau-bau yang tidak sedap banyak berseliweran di udara karena stasiun ini sama sekali kurang perawatannya. Pak menteri, gimana? Urus dong gedung itu, kan sangat bersejarah banget. Malah dulunya dibilang “white house” tuh gedung, karena dulunya indah banget.

Huuuh…udah ah ceritanya…pokoknya capek akhirnya terbayarkan juga dengan mengelilingi tiga stasiun kereta api di jakarta.

Akhirnya kita berpisah di stasiun beos dan kembali ke rumah masing-masing. Sahabat Museum, ditunggu PTD berikutnya.

 

Semarang: Bandeng Presto, Lumpia, Wingko babat sampai Kota Lama June 4, 2008

Filed under: fearFactOr, jaLan-jAlaN — rizka @ 10:00 am

Kalau mau ke Semarang, jangan lupa bawa payung”, Percakapan saya dengan Mbak Riri teman blog ketika kami berYM-an.

Payung? “Iya, karena Semarang itu sangat terik, panas”.

simpang lima Yesssss…. tiba di Bandara Ahmad Yani bersama Melda disambut dengan cerahnya kota Semarang. Di Semarang kami mengikuti Bos Wimar Witoelar, dalam acara Forum WW: Dialog Interaktif Calon Gubernur & Wakil Gubernur Jateng 2008-2013 yang disiarkan live dari Auditorium RRI Semarang melalui TVRI Jawa Tengah dan RRI Semarang, Solo & Purwokerto.

Setelah tiba, kami dijemput oleh Mbak Eni panitia lokal dari Semarang. “Halo Mbak Eni, sayang ya kita belum ngobrol banyak karena kita lagi sama-sama sibuk waktu itu. Tapi Mbak Eni udah pegang kartu nama saya kan? Please telp saya ya, biar kalo saya ke semarang lagi saya bisa diajak jalan-jalan keliling kota semarang sama Mbak Eni.”

Kebolehan saya dan Melda untuk memanfaatkan kerja di luar kota memang tidak kalah hebatnya. Setelah kita menyelesaikan pekerjaan dengan panitia lokal pada hari itu, kami berkeliling sedikiiit di kota semarang bersama driver dari panitia lokal yaitu Mas Arief. Beruntung punya driver plus mercy baby benz yang mengantarkan kami jalan-jalan.

Di hari pertama, tujuan pertama yaitu beli oleh-oleh terkenal bandeng presto+wingko babat di Bandeng Juwana Jl. Pandanaran. Beli buat temen-temen kantor dan keluarga di rumah. Karena kedua makanan tersebut tipe yang tidak tahan lama untuk berhari-hari, maka kami minta dikirimin ke hotel sehari sebelum kami balik ke Jakarta. Wah, asyiiik…dikirimin langsung ke Hotel ternyata bisa lho!

Untuk harga satu kilo ikan bandeng presto Rp. 48.500, isi 4-5 ekor. Sedangkan satu dus wingko babat campur ukuran besar yaitu Rp. 38.000. Wingko babatnya saya akui sangat lezat dan gurih. Nendang banget buat mengisi perut yang sedang lapar.

Proses beli oleh-oleh bereslah udah, kini kami menelusuri kota semarang yang mulai terik oleh panasnya matahari. Melewati, tertujulah oleh bangunan kuno yang bernama lawang sewu. Kesan pertama saya adalah: “aneh, tapi mengesankan”.

Sesuai dengan sejarahnya, Lawang Sewu adalah gedung bekas kantor pusat Nederlands Indische Spoorweg Maatschapij (NIS), sehingga sangat ideal jika dikembalikan sesuai dengan fungsi semula. Gedung tersebut memang dirancang sebagai kantor, sehingga dengan sedikit renovasi dapat difungsikan menjadi perkantoran modern yang antik.

Konon gedung berarsitektur unik ini menyimpan kekuatan magis seribu hantu. Hal tersebut bisa dimaklumi, karena pada masa peperangan dulu, yang melibatkan Angkatan Muda Kereta Api (pemuda-pemuda Semarang) melawan bala tentara Kido Buati Jepang, gedung Lawang Sewu menjadi ajang penyiksaan dan pembantaian. Tidak jelas berapa nyawa telah melayang, tapi jumlahnya bisa dipastikan mencapai ribuan.Saking banyaknya korban yang dibantai pada waktu itu, Lawang Sewu kini juga mendapat julukan sebagai kawasan wisata horor. Menegangkan sekaligus mengasyikkan. Puluhan paranormal dari berbagai penjuru Tanah Air pun sempat menjadikan tempat ini sebagai ladang perburuan hantu. Dinamakan Lawang-Sewu karena gedung tersebut memiliki ciri khas bangunan megah ini memiliki pintu atau lawang sebanyak seribu atau sewu. Oh iya, ada kami ditemani oleh Ibu Kenik yang baik, dan diajak berkeliling di sebagian kecil wilayah Lawang Sewu.

Dari Lawang Sewu, lanjut lagi menuju Gereja Belenduk dan kawasan Kota Lama Semarang. Arsitekturnya hampir sama dengan kawasan Kota Tua di Jakarta, unik dan indah. Di tengah Kota Lama terhampar Polder Tawang yang fungsinya untuk mengatasi banjir di Stasiun Tawang. Tidak lupa, kami berfoto narsis di sana :P

Tapi sepertinya kurang sreg kalau kami belum mencicipi yang namanya lumpia semarang. Nyam…nyam… Mas Arief langsung memberi rekomendasi lumpia yang paling enak menurut dia di kota semarang, yaitu lumpia Mbak Lien di Jl. Grajen. Lokasinya di tempat yang sangat sederhana yang berada di gang kecil dengan gerobaknya. Lalu, terlihat seonggok laptop macintosh terletak di meja sang pemilik. Hebat.

Hari kedua. Saya, Melda dan Lila dengan menggunakan taksi mengunjungi eyangnya Mbak Lila di daerah Jati Ngaleh Semarang Atas. Suasana pedesaan masih tercium ketika kami tiba di rumah eyang dengan ditemani anggrek dan tanaman lainnya. Kerinduan Mbak Lila terhadap eyangnya terbayar sudah. Cukup terharu sih, soalnya inget sama almarhumah eyangku di Malang. Hiks!

Okeeeehhh…acara puncaknya niiih. Laporan lengkap ada di sini niih…

 

Assetnya Pak Bobby May 5, 2008

Filed under: fearFactOr — rizka @ 10:52 am

asset Sabtu kemarin saya diminta teman menjadi photographer. Kali ini bukan cowok ganteng atau cewek cantik yang saya pakai sebagai objek. Tapi beberapa asset tidak bergerak yang dimiliki oleh seorang pegawai kantoran. Sebut saja Pak Bobby. Katanya teman saya, Pak Bobby bekerja menjadi pegawai itu cuma iseng. Saya malah membayangkan bagaimana ya kalau anak-anaknya Soeharto iseng menjadi pegawai kantoran yang tiap hari bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore? Lebih iseng lagi kalau dia kebetulan disuruh bosnya angkat-angkat kardus dan lembur tiap malam.

Saya tidak akan menceritakan anak-anaknya Pak Harto. Tapi saya akan menceritakan Pak Bobby. Menurut saya, Pak Bobby ini orangnya baik, cool, dan pastinya punya banyak uang. Ceritanya saya bisa ketemu dengan Pak Bobby dan menjadi photographer asset-assetnya sebenarnya panjang. Saya akan mencoba menjelaskan. Tapi kalau masih pada bingung ya nanti saya jadi bingung juga.

Saya punya teman kuliah yang namanya Oleng yang bekerja sebagai pengusaha screen printing. Oleng ini punya beberapa anak buah. Nah, salah satu anak buahnya bernama Jabar (nih nama kok aneh lagi…). Saya gak tau nama aslinya si Jabar. Pertama dikenalin ya namanya Jabar, bukan Jatim atau Kalsel. Jabar punya kakak ipar yang namanya kali ini saya gak tau. Lalu Kakak iparnya Jabar ini teman kantornya Pak Bobby. Dan Pak Bobby ingin membangun website khusus yang isinya asset-asset yang dia miliki untuk disewakan atau dijual. Lalu kakak iparnya Jabar menghubungi Jabar dan menyerahkan proyek website ini melalui perusahaannya Oleng.

Karena situasinya bermacam-macam, saya mau cerita sedikit jumlah uang yang akan saya terima jika foto saya berhasil ditampilkan di websitenya Pak Bobby. Begini…dari Pak Bobby ke Oleng satu foto dibayar 35 ribu. Karena proyek ini didapatkan bareng-bareng, maka dari 35 ribu itu dibagi lagi. Untuk Oleng sebagai owner Rp 10 ribu, dan untuk Jabar sebagai perantara Rp 10 ribu. Sisanya Rp 15 ribu dibayarkan ke saya untuk satu foto yang saya jelaskan tadi. Kalau situasinya menjadi seperti ini, saya akan mengiyakan karena saya juga masih belajar dan makin ingin tahu.

Saya duduk manis di mobil Jazz milik Pak Bobby. Di depan ada Pak Bobby dan Jabar. Saya dibelakang saja sambil nyanyi-nyanyi kecil. Saya akui, hari itu udara terasa panas. Matahari gak malu tuh ngeluarin semua cahayanya ke bumi. Langsung aja, kita bertiga pergi untuk mengambil gambar sebagian assetnya Pak Bobby. Kata Pak Bobby, “hari ini kita ambil 6 tempat dulu, setelah saya lihat tampilan website yang sudah ok dengan design+fotonya, saya akan kasih alamat asset saya yang lain lalu kalian pergi tanpa saya”. Lalu sambung lagi “Saya punya tanah di Puncak dan Bali, lalu punya lagi di bla…bla…bla…” lalu “Saya pernah ditipu teman saya untuk bangun tempat kursus, saya kasih modal Rp. 100 juta. Akhirnya tidak pernah kedengaran lagi…”. Ada lagi “Saya mau modalin untuk bikin tempat usaha, tapi saya gak punya orang untuk bisa marketing bla…bla…bla…”.

Kalo diliat secara seksama nih, Pak Bobby mirip banget ama pembalap Rifat Sungkar.

Waaah…kalau saya pintar ngomong nih, saya langsung tunjuk tangan dan siap menadah uang ratusan juta buat modal boutique saya nantinya. Tapi sayang…saya cuma orang yang sedikit bicara banyak bekerja, gak seperti kebanyakan teman saya yang bisa banyak bicara dan banyak bekerja. Kalaupun saya paksakan dan itu berlaku buat saya ya gak bisa dipaksakan. Karena sifat orang tidak bisa dipaksakan. Kalau dipaksakan malah hasilnya gak baik. Saya masih tahu kemampuan saya. Gak bisa kalau orang yang dasarnya pendiam seperti saya, harus cuap-cuap di podium atau mengajarkan Public Relations. Saya adalah saya. Bersyukurlah orang-orang yang mempunyai kelebihan seperti itu.

Kembali lagi ke Pak Bobby. Lokasi pertama yang kita datangi yaitu masih disekitar rumah utamanya Pak Bobby di daerah Kemang Timur. Lokasi kedua ruko di kawasan Mampang, lalu yang ketiga bangunan berupa restoran Padang di Jl. Nipah, keempat yaitu ruko di Jl. Dharmawangsa, selanjutnya ruko lagi di jl. Arteri Pondok Indah dan yang keenam kembali lagi ke daerah Kemang Timur yaitu kost-kostan expatriat.

Akhirnya setelah berpanas-panasan, selesai juga foto-memfoto hari ini. Hari sudah siang, waktunya makan. Tapi…kalau dihitung-hitung, jatah uang makan belum termasuk hitung-hitungan saya dengan teman saya itu. Tapi gak apa-apa, namanya juga pengalaman.

Setelah (akhirnya) ditraktir mie ayam + 2 the botol sama Oleng, pentransferan foto dimulai di rumah teman daerah Pondok Pinang setelah kami janjian. Dari Oleng tidak ada komentar tentang hasil foto yang saya ambil. Jujur, untuk belajar saya siap dimasuki saran-saran dan masukan.

Semua selesai, sayapun pulang…

Malamnya, Oleng telpon saya. “Ka, ada masukan nih dari owner kedua”

Saya: Masukan apa”
Oleng: Katanya yang loe foto, semuanya gak ada angel.
Saya: Saya sempet membela diri, gini nih belaannya “Lho, yang namanya ambil foto property kita harus ambil foto yang kelihatan luas. Kalo ambil angel cukup ambil meja atau bunganya aja dong”
Oleng: “Kata dia, kalo hasil fotonya kayak gitu, dia juga bisa”.
Saya: “Ya udah, kalo gak puas sama hasil foto gue, gak dipake lagi juga gak papa” (ngambek nih ceritanya)
Oleng: “Gak kok, tenang…loe masih dipake. Nanti tinggal orang web designer aja yang akan mempercantik foto loe”.

Ok deh, kalo gitu kalo foto-foto lagi, orang yang bilang “foto yang gak ada angelnya” harus ikut ke lokasi. Ya gimana yaaa…gak ada angel emang karena isi rumahnya kosong!!!

 

The hot “Benny & Mice” March 4, 2008

Filed under: fearFactOr — rizka @ 11:03 am

Sebagai seorang photographer (ceile…ngaku-ngaku lagi jadi photographer!), kadang kalau ada event gue jarang ada, istilahnya low profile lah. Tapi, tidak semua orang tau aslinya gue. Boleh aja nih di depan orang apalagi “gebetan” gue gue agak-agak jaim, tapi saking jaimnya kadang gue keliatan bodoh. Tapi itu sih karena Tuhan menciptakan tampang gue yang lugu dan imut ini.

Semua tau nama Benny & Mice. Tiap Kompas minggu terbit, kartunnya Benny & Mice terpampang di koran itu. Dulu gue sempet mikir kartunnya Benny & Mice ini diimport dari luar negeri dan dipasang di Kompas. Karena dulu penyebutannya gue masih “benny” “and” “mais” (penyebutan versi bule). Ternyata bener-bener “MICE” dari nama asli Muhammad Misrad. Kalo Benny sih nama beneran dia, dari nama lengkap Benny Rachmadi.

benny&mice Untuk kedua kalinya gue ketemu pasangan Benny & Mice di Bantara Budaya pas dengan peluncuran buku “Lagak Jakarta” tentang “100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta”.

Sekali lagi, kalo gak ada WW … gak mungkin gue bisa kenal B & M dan foto-foto di acara mereka. Apalagi mereka punya kelebihan membuat kartun yang bisa menghibur orang-orang dari goresan antiknya dengan menelanjangi kegiatan atau kebiasaan orang-orang yang istilahnya lagi ngetrend saat ini.

Jujur, gue suka banget ama cowok pinter. Karena bisa membangkitkan kebodohan gue untuk ikutan jadi pinter. Nah, itulah alasannya gue ngefans banget ama mereka berdua. Ngefansnya sih biasa aja, gak sampe yang nyubit-nyubitin atau ngecakar mereka. Ya, biasa aja lah…

Acara peluncuran buku kemaren (28/02) seru banget! Rugi banget deh orang yang ngefans ama mereka tapi gak bisa dateng pas peluncuran buku tersebut. Ada temen gue nih Ryan Wijaya. 10 hari sebelum acara, gue udah sms dia. Eeeh…tgl 28 masih seminggu lagi, dia malah mikir acaranya tgl 21. Lebih cepat seminggu. Untung banget gue telp, kalo acaranya masih seminggu lagi. Kalo dateng, alamat kosong tempatnya… Ternyata bener dugaan gue…pas hari H nya, gue cari2 dia di acara gak ada. Tau2nya dia kelupaan :) Iiiih…gemez deh, dasar pelupa! Padahal dia punya bukunya dan kepengen banget ditandatangani ama B & M.

Seru kalo melihat tingkah mereka. Keduanya dasarnya susah banget ngomong, kalo ngomong cuma sedikit-dikit doang tapi jawabannya bikin kita ketawa. Ngeliat muka mereka aja, rasanya udah pengen ketawa.

Yang lebih serunya lagi, lagi asyik-asyiknya motret nih. Ada kejadian yang bikin muka gue jadi merah padaaaam…

Ceritanya begini:
WW dan temen-temen InterMatrix ceritanya niiih mau ngedekitin gue ama mice, secara mice masih jomblo. Hehehehe…tau aja kan kalian semua…kalo ada cowok jomblo temen-temen pasti ngasihin ke gue untuk menjadi mangsa. Hehehehe….serem bener. Ya gitu deh, gue kan agak-agak pemalu gitchuu…

WW sebagai bintang tamu dalam acara itu membawakannya sangat kocak disertai dengan celetukan sang MC (maaf, lupa namanya) yang bisa benget menghidupkan suasana menjadi sangat meriah dan lucu. Selain WW, terpampang nama Dian Satro juga mau dateng, tapi sayang dia gak dateng pada hari itu karena masih di Kalimantan. Chit-chat via tele conferencepun terjadi. Hihihihihi…lucu banget deh, kocak. Banyak yang gak percaya kalo suara itu Dian Sastro. Tapi akhirnya ya dipaksa percaya.

Yang paling seru nih buat gue, ada kejadian malu-maluin…tapi ya akhirnya gue seneng juga. Baru kali itu muka gue meraaah membara karena dipaksa naik ke panggung gara-gara WW. Kejadiannya pas Benny ditanya sudah punya pasangan atau belum. Ya Benny ditanya sudah punya bini, nah pas Mice ditanya, ternyata dia masih jomblo…hehehe…WW bilang, dia punya calon untuk Mice yaitu gue. Waaaaaaaakkkk…sssss….maluuuu akuuuuu. Naik ke atas panggung. Maap ya mas Mice, jadinya ketawa mulu. Ampuuun…Tapi sebenernya loe suka gak sih ama gue. Hehehehehehe… :P (ngareeep…)

 

Pestanya Blogger 2007, Suara Baru Indonesia October 29, 2007

Filed under: fearFactOr, jaLan-jAlaN — rizka @ 9:11 am

Dalam tidur gue, tiba-tiba gue terbangun. Hah!!! udah jam 10, waduuuh…gue terlambat ke pesta blogger nih! Pas gue liat jendela…kok masih gelap ya? Mmmmh….tau-taunya jam 10 malem, masih hari jum’at. Hehehehe…pantesan! Kan pesta bloggernya hari sabtu.

ini gado-gado Yes..yes…yes!!! i join Pesta Blogger 2007. Thanks for my bos.Akhirnya ikutan juga gue di acara pb2007 ini. Gue bisa bertemu dengan blogger lainnya, gue bisa ketemu sama blogger yang gue sukaaaa banget ama cerita current issuenya. Dan di acara itu, gue bisa ketemu dia dan foto bareng. Waaah…gak kebayang deh. Trus jadi punya temen dan wawasan baru. Dan yang lebih seru lagi, gue dapet foto-foto yang seru dari awal sampai akhir acara.

Kesimpulannya…acaranya sukses banget, seru dan gue berharap ditahun-tahun selanjutnya Pesta Blogger diadakan kembali.

Baca cerita lengkapnya yang ditulis oleh Lidyawangsa dan Nindita di: Pesta Blogger 2007: Kopi Darat Blogger Se-Indonesia

photo by satya

 

Sembelit saat ngabuburit September 20, 2007

Filed under: fearFactOr — rizka @ 2:24 am

pribadi-prananta written by: Pribadi Prananta

Di kantor saya ada kebiasaan baru di bulan puasa ini. Karena kebijakan kantor yang menurut saya tidak bijak, yaitu tidak menyediakan ta’jil dan menu buka puasa, maka para pekerja di kantor saya beralih profesi menjadi pemburu.

Ya, berburu ta’jil hingga ke seberang sana. Maklum, kantor saya dengan jalan raya dipisahkan oleh kali selebar kali-kali pada umumnya, jadi untuk menuju ke kota kami harus menyeberang.

Hari demi hari kami terus berburu sampai akhirnya salah seorang rekan mencetuskan ide cemerlang, “Gimana kalo kita bawa aja penjualnya ke kantor?”

Akhirnya kami memutuskan untuk menculik seorang penjual dengan iming-iming dagangannya bakal laku keras di kantor kami. Dia pun setuju untuk diculik dengan syarat dia diperbolehkan menjual dagangan di kantor kami. Kami pun terpana mendengarnya.

Maka sejak Senin kemarin si mbak itu pun mulai rajin datang ke kantor membawa semua varian jajanan, mulai dari yang kering sampai yang basah, mulai dari yang bentuknya lonjong sampai yang berlubang. Khusus untuk varian terakhir ini dia punya cara tersendiri untuk mempromosikannya, “Mas, mbak.. donat.. donat.. enak dan istimewa… ada lubangnya lho…” Kami pun kembali terpana mendengarnya.

Seperti layaknya pekerja kantoran yang tidak diberi jatah ta’jil dan menu buka puasa, kami pun langsung bergerombol dan saling berebut untuk membeli begitu si mbak itu datang. Hawa persaingan pun timbul, apalagi sejak petugas front office dengan semena-mena mengumumkan kedatangan si mbak lewat intercom. Kehadiran si mbak yang awalnya eksklusif untuk sebagian akhirnya jadi milik semua penghuni kantor sampai ke bagian paling ujung sekalipun. Akibatnya, banyak yang tidak kebagian jajan dan akhirnya memilih untuk mengabaikan nasihat ibu mereka saat masih kecil, yaitu jajan di sembarang tempat.

Itulah yang terjadi pada saya yang kemarin memilih untuk jajan sembarangan. Hasilnya, di saat ngabuburit yang harusnya dipakai untuk belanja ta’jil seperti kemarin-kemarin, kali ini harus saya lewati di depan komputer sambil memegang perut karena sembelit.

Selamat berbuka puasa semuanya.

NB: Tulisan ini dibuat di bawah tekanan perut yang melilit dan jeweran teman yang meminta saya menulis untuk blognya. Semoga Rizka Nurlita Andi diberi pahala yang besar. Amin

 

Senyumku di hari Senin :) July 30, 2007

Filed under: fearFactOr — rizka @ 9:36 am

Biasanya sih, kalau hari senin itu, orang-orang kurang semangat dan agak agak lesu untuk memulai hari.

Standarlah, senin kan biasanya macet, balik ke rutinitas kerja, dan yang jelas senin adalah tanda bahwa………..UDAH GA WEEKEND. Huhuhuhu….

Tapi senin ini, gue seneng karena gue bisa senyum seharian, kenapa senyum?

Karena gue hari ini ikut dalam acara Gerakan Nasional ‘Senyum Indonesia Senyum Pepsodent’, kebetulan kantor gue yang handle Program PR-nya. Inti acaranya adalah bagaimana masyarakat harus aktif merawat kesehatan gigi dan mulutnya dengan inisiatif dari diri sendiri.

2 hal penting:

- Sikat gigi sebelum tidur itu hukumnya wajib !

- Sikat gigi itu harus sesudah makan, jangan sikat gigi terus baru sarapan

Dan khusus hari ini gue bisa tenang karena salah satu anak magang yang baru si Ade ternyata bisa moto dengan bagus.

So gue bisa jadi model terus deh selama event ini berjalan. Hihihihihi….

Enjoy foto gue dan teman-teman gue di event ini yah.
imxers-pepsodent

Gimana??? cukup maniskah senyum kita-kita untuk indonesia ??

Photo by Narpati Adityasa

 

Hunting di acara jakarnaval 2007 July 10, 2007

Filed under: fearFactOr — rizka @ 1:06 pm

Untuk pertama kalinya, tanggal 7Juli kemaren gue gabung ke acaranya komunitas photographer.net dalam acara hunting foto bareng di acara Jakarnaval melalui Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI. Tau dong itu siapa?? Ya Pemprov DKI, secara Sutiyoso gitu lhooo … dalam rangka merayakan HUT ke 480 Kota Jakarta. Tema kegiatan ini adalah “Mari Kita Wujudkan Kota Jakarta Sebagai Lambang Budaya Indonesia yang Multikultural”. Mariii…ayo!

Tapi gue gak mikirin siapa penyelenggaranya. Yang paling penting gue bisa hunting foto dengan teman-teman baru dari photographet net, sahabat museum dan penggemar fotografi dari seluruh nusantara.. Foto yang diambil juga bebas, yang penting human interest plus foto yang bercerita.

Setelah peserta diberi nametag, kita semua seakan haus akan objek. Dari bapak-bapak penjual warung, orang lagi makan di pinggir jalan sampe sopir bajaj yang lagi benerin bannya yang kempes di pinggir jalan kita fotoin. Hahahaha…bukannya bantuin malah ngerepotin, dalam hatinya si tukang bajaj. Saya kan jadinya harus berpose. Gaya bener dah!!

Pawai dimulai pukul 20.00, molor setengah jam, karena gue denger dari pembicaraan polisi dengan pemda DKI bahwa SBY mau melewati jalan yang akan dilewati pawai nanti. Hehehehe…tau gak, dengan menggunakan nametag tadi, gue bisa kesana-kemari kayak kutu loncat mengambil objek yang suatu saat bisa gue ambil.

Bentuk kegiatan Jakarnaval ini terdiri dari pergelaran tari kolosal, pawai lintas budaya dan pawai mobil hias. Route pawai dalam Jakarnaval ini berawal dari depan halaman Balaikota Jl. Merdeka Selatan trus belok kiri ke Jl. MH Thamrin.

Kelompok-kelompok yang berpawai dalam Jakarnaval tersebut terdiri dari Kelompok Pembuka Jalan berupa pasukan berkuda, Harley Davidson Club, marching band dari STIP. Kemudian diikuti Kelompok Pendukung berupa pasukan pembawa bendera merah Putih. Setelah kelompok tersebut berlalu diikuti Kelompok Seni Budaya yang terdiri dari
egrang, ondel-ondel, rebana marawis, tanjidor, tari aceh, tari manortor (Batak), warok atau reog Ponorogo, tari Papua dan Liong gelas plastik. Para peserta selain dari kalangan pemerintah provinsi, juga dari kalangan artis ibu kota.

Karena gue masih belajar foto, ada kesulitan nih waktu pengambilan foto di malam hari. Secara gue belum bisa mainin tekniknya. Sempet belajar sih ama yang lebih senior, tapi setelah itu, gue ngeblank lagi.

Jadi hasil fotonya belum maksimum, hehehehehe…dan belum bisa ikutan lomba foto yang diselenggarakan oleh Jakarnaval.

 

Salurkan energi dengan totok aura May 10, 2007

Filed under: fearFactOr — rizka @ 11:53 am

Mumpung pulangnya bisa sorean, ingin rasanya coba-coba sesuatu yang baru. Gak ada salahnya kan coba-coba yang baru? Kali ini sih sesuatu barunya yang positif, masa sih yang negatif mulu. :P

Seorang teman lama, mengusulkan untuk mencoba totok aura. Selama ini, gue mikirnya totok aura itu yang kayak di film-film, kayak film Xena gitu. Jadi pas Xena men-totok musuhnya, Xena mematikan gerak langkah lawannya. Tapi yang gue denger dari temen yang pernah totok aura, totok sekarang bisa bikin orang tambah sehat dan cantik. Mmmmh…kalo cantik, emang udah dari dulu sih. Hehehehehe…kidding. Asli deh, gue jadi penasaran ama tuh totok aura.

Pertama gue dateng di tempat totok aura Dian Kenanga di daerah Ampera (sebelahan ama Pengadilan Negeri Jakarta Selatan), yang gue dapet ada suasana tempat tunggu yang nyaman dan tenang ditambah wangi-wangian yang bisa menyejukkan jiwa untuk sementara. Setelah mengisi formulir berupa kartu dengan data pribadi dan memilih jenis perawatan, menunggu beberapa menit lalu gue berganti alas kaki dengan sendal yang disediakan. Lalu gue diajak ke lantai dua, dimana ruang perawatan berada. Sebelum perawatan dimulai, gue mengganti baju gue dengan kemben.

Pada saat itu, gue memilih totok wajah dan kaki. Begitu berbaring, gue gak langsung di totok lho, tapi di massage dulu. Baru setelah tubuh dan wajah agak relaks, para terapis mulai menotok dengan memakai tenaga prana/bio energi. Katanya kalau agak-agak sensitif, akan merasakan energi panas yang mengalir dari tangan terapis. Tapi gue agak-agak sibuk dengan kenikmatan massage jadi kurang merasakan energi panas itu.

Namanya memang totok wajah, tapi yang ditotok bukan hanya wajah aja lho. Bagian punggung atas sampai pinggang, bahu, dada, lengan atas, leher dan kepala juga tak luput dari totokan terapis.

Ada bagian-bagian bahu dan punggung atas gue yang terasa sakit saat ditotok. Katanya sih, bahu gue sangat kaku dan tegang. Diantara tarikan dan urutan, tangan-tangan terapis berhenti di titik-titik tertentu.

Setelah selesai, wajah dimasker campuran bubuk bengkoang, sarang burung walet dan air mawar. Adeeeeem banget…

Sudah cukupkah perawatan? Saya sudah berubah?

Kali kedua gue datang ke totok aura lagi. Kali ini gue mencoba yang lebih menyeluruh, yaitu tubuh. Katanya nih, totok seluruh tubuh akan memperlancar aliran energi ke tempat lain yang mungkin tersumbat.

Secara garis besar, totok tubuh memberi tekanan dengan jari-jari menggunakan tenaga prana pada titik-titik akupunktur di seluruh kaki, bokong, pinggul, tangan, punggung dan perut. Yang jelas setelah penotokan wajah, kaki dan tubuh, saya benar-benar relaks bahkan mengantuk.

Kali ketiga, saya mungkin akan totok wajah lagi. Siapa yang ingin coba?

 

Kesaksian Gusti March 1, 2007

Filed under: fearFactOr — rizka @ 8:47 am

gusti Pernah nggak loe melihat orang yang di layar kaca, tiba-tiba orang itu berada persis di depan loe? Kalo gue sih sering, tapi orang ini bukan artis atau orang terkenal lainnya, dia hanya orang biasa yang pada hari itu bertugas sebagai reporter Indosiar yang sedang meliput kapal Levina yang terbakar.

Apa yang bisa gue lakukan ya kalo gue mengalami kejadian mengerikan seperti ini? Trus apa yang akan terjadi ya ketika gue harus melewati kehidupan gue ketika kejadian itu terlewati?

I Gusti Eka Sucahya bersama temannya sudah terlihat dari cafetaria JAK-TV yang terletak di SCDB Sudirman. Tampangnya memang tidak asing bagi yang sering menonton televisi dalam melihat perkembangan berita tenggelamnya kapal Levina 1. Kenapa gue bisa berada di JAK-TV? Hehehehe…gue lagi bertugas nemenin Bos Besar dalam acara Wimar’s World yang disiarkan langsung tiap Rabu pukul 21.30-22.30 di JAK-TV.

Ok, mulailah cerita tragis dimulai, dari seorang I Gusti Eka Nurcahya. Perbincangan ini semuanya gue kutip abis dari perspektif.net. Cerita lengkapnya ada disitu semua.

wimars world - Kami kumpul di pelabuhan dengan rencana melihat bangkai kapal Levina. Tidak ada rencana naik ke kapal. Yang akan naik itu tim Puslabfor dan KNKT. Malah diingatkan bahaya laut, sebab kemarin ada wartawan ikut kapal polisi malah mabuk laut.

- Juga diingatkan bahwa Levina masih berasap. Kemungkinan besar wartawan tidak bisa naik. Maka saya yang tadinya mau naik, menekan keinginan itu.

- Tiga boat mengelilingi Levina, satu diantaranya berisi wartawan. Beberapa kali mengitari Levina. Kemiringan kapal tidak menguatirkan, dan laut kelihatan sangat bersahabat, cuaca bagus. Lalu kita lihat tim Puslabfor naik.

- Saya belum membayangkan akan naik, bisa dekat saja sudah bagus. Sebab hawa kapal masih terasa panas, bau besi terbakar, karet terbakar. Setelah itu tim KNKT naik, kami mengambil jarak.

- Setelah kurang lebih setengah jam kami diizinkan naik.

- (Wimar: sambil dikasih petunjuk menghadapi bahaya? disuruh pakai pelampung?) Tidak. Hanya dikasih tahu caranya naik kapal, supaya naik secepatnya dan turun secepatnya dengan kamera dan peralatan.

- Pada waktu itu yang terpikir bukan pakai baju pelampung dulu, yang kepikir adalah naik dulu, karena semula tidak kepikiran diperbolehkan naik, tiba-tiba boleh naik.

- Kita berada di kapal itu tidak lama. mungkin 10 menit, semua wartawan. Tiba-tiba Levina terasa miring. Belum ada kepanikan, cuman cepet-cepet turun. Tahu-tahu diteriakin dari kapal Polri pakai megaphone: “Cepat turun, kapal miring!!!”

- Tidak ada tempat untuk keluar, jadi harus lewat jendela yang menghadap ke atas. Semua lompat ke dalam air. Saya bisa berenang, tapi teman-teman wartawan ada yang tidak bisa.

- Teman-teman yang tidak berenang itu panik, antara lain teman saya Mas Guntur dari RCTI. Dia teriak-teriak: “Tolongin gua, tolongin gua, gua nggak bisa berenang”

- Saya tarik tangannya, diangkat ke atas baling-baling kapal yang sudah berada di atas. Mas Guntur masih pegang kamera, malah bilang “Selamatkan kamera, selamatkan kamera”. Saya sempat ambil kamera dan mengembalikannya, tapi kemudian masuk air deras. Saya bilang, “buang kamera, buang kamera,” tapi tidak jelas jawabannya.

- Tiba-tiba kapal penyelamat datang dan melempar tali. Saya ikatkan tali pada diri saya, dan sebagian saya kasih ke Mas Guntur. Tapi rupanya lepas, dan dia tenggelam.

- Wimar: “Pak Gusti orang terakhir yang melihat Pak Guntur dalam keadaan hidup?”

- Gusti: “Ya, saya lihat tangan dia masuk kedalam air.”

Gusti: Awalnya joke, kalau terjadi sesuatu maka yang ditanya kameranya dulu baru orangnya. Tapi kemudian bukan joke lagi. Itu sudah merupakan sesuatu yang melekat dalam diri kita seperti senjata pada tentara. Senjata saya adalah jiwa saya.