Tak terhitung sudah berapa kali saya ke kota Malang. Kota yang dijuluki kota Apel ini memiliki kesejukan yang menurut saya tiada tara. Beruntung sekali masih banyak kerabat saya yang masih tinggal di kota Malang ini. Kebetulan bapak dan ibu saya bertemu dan menikah di kota ini. Jadi kalau istilahnya mudik Lebaran, ya kota Malang inilah yang menjadi tujuan utama kami untuk pulang kampung.
Terus terang, kalau yang namanya ke Malang itu gak pernah yang namanya jalan-jalan ke tempat wisata kota Malang. Padahal banyak sekali tempat wisata di kota ini. Itu semua karena waktu yang sempit untuk bisa jalan-jalan keliling kota Malang. Transportasi menggunakan mobil pribadi dan pulang-balik memakan waktu 4 hari. Total di Malang hanya 3 hari, dan itu semua saya sibuk mengunjungi semua keluarga di Malang.
Tapi kali ini saya sangat beruntung. Setelah sekian lama gak pernah jalan-jalan di kota Malang, kunjungan kali ini bisa merasakan yang namanya jalan-jalan. Tugas dari kantor mengantarkan saya mengunjungi kota ini kembali. Bersama Mbak Widya temen satu kantor, kami ditugaskan untuk mengikuti KAS Partner Conference dengan tema Democratization Experience: 20 Years Reunification, 10 Years Reformasi, 10 Years Independence di Hotel Tugu Malang dilanjuti seminar perempuan di hari kedua berikutnya.
Menurut ibu saya, dulunya Hotel Tugu adalah hotel mewah, walaupun sekarang memang masih mewah. Yang bisa menginap disana hanya orang elit atau kaya raya atau kalau kata bos saya, orang ningrat. Banyak hotel yang menjual kemewahan. Tapi hotel tugu Malang selain menjual kemewahan, hotel ini menjual daya tarik tamu yang mampir di hotel ini. Hotel Tugu menyajikan hal itu melalui perabotan, lukisan dan benda-benda sejarah yang tersimpan rapi dan bersih disetiap sudut hotel. Pesona yang dipancarkan dari Jl. Tugu seolah bertolak belakang dari modernsasi.
Tak ada yang bisa menceritakan secara penuh tentang sejarah Hotel Tugu pada saat itu. Saya hanya bisa meraba saksi bisu sejarah ratusan tahun yang lalu. Perpaduan nuansa Jawa, Belanda dan China menjadi sentuhan di Hotel Tugu. Diyakini, tidak akan pudar untuk dinikmati sepanjang zaman anak dan cucu kita kelak.
Ketika saya mencari ruangan untuk acara dinner bersama teman-teman dari Konrad Adenauer Stiftung, saya tersesat disuatu ruangan berukuran 7 x 8 meter. Masuk di ruangan tersebut terasa ada unsur magis didalamnya. Masih saya pandangi banyak foto dan guci tersusun rapi di lemari-lemari kayu jati kuno. Walaupun saya masih terasa ada yang aneh, saya berusaha untuk tetap tenang. Yakin ruangan tersebut bukan yang saya maksud, saya berbalik arah untuk keluar dari ruangan tersebut. Dan, ups…!!! terpampang foto berbingkai wanita berambut panjang. Duh, kaget banget, tapi sebenernya takut juga sih…Dibawah foto tersebut tertuliskan nama Oei Hui Lan. Konon sang ayah yang bernama Oei Tiong Ham merupakan raja gula di Asia Tenggara yang begitu tersohor. Karena kepiawaiannya mengelola bisnis gulanya itu, menjadi cikal bakal berdirinya pabrik gula Krebet di Malang. Serpihan kejayaan Oei Tiong Ham diperkuat dengan berburuan Anhar terhadap barang-barang peninggalannya.
Ruangan 7 x 8 meter ini disebut ruang Rajaharum. Diruangan ini, satu set meja dari kayu model klasik tradisonal yang dahulu biasa digunakan Oei Tiong Ham untuk memimpin rapat bersama dengan saudagar kelas dunia terkait bisnisnya berhasil didapat dari Semarang. Satu set meja tersebut diletakkan tepat di tengah-tengah. Pak Anhar inilah yang menemukan meja tersebut karena memiliki cita-cita luhur ingin mengingatkan kembali pada sejarah yang terlupakan. Meja sejarah itu pun bebas dimanfaatkan para sekadar untuk bercengkerama dan makan.
Kembali ke cerita lukisan Oei Hui Lan, sang putri dari Oei Tiong Ham. Lukisan yang berukuran 1 x 1,5 meter itu memang mampu memberi kesan lain begitu melihat setiap detilnya. Setelah saya kembali esoknya ke ruangan Rajaharum, Setiap melihat lukisan ini bulu kuduk bisa merinding. Aura seninya begitu kuat. Mistik tapi indah untuk dilihat. Tak bisa terlalu lama saya melihat lukisan tersebut, karena bisa membuat bulu kuduk berdiri.
Dari keterangan google yang saya dapatkan, Oei Hui Lan merupakan putri kesayangan Oei Tiong Ham. Sang putri ini yang selalu setia mendampingi ayahnya dalam menjalankan bisnisnya. Termasuk menjadi penterjemah ketika ayahnya pergi ke Eropa. Sayang lukisan tersebut tidak tercantum nama si pelukis.
Ada lagi ruangan yang membuat saya kagum kembali. Saat melangkah di Endless Love Avenue to The Sahara, sebuah lorong cinta yang bergaya arsitektur era kerajaan Mesir dengan didukung temaram cahaya yang menimbulkan kesan romantisme.
Oh iya, di lt. 2 kalau gak salah ada sebuah peta asli rencana tata kota Shanghai yang diterbitkan North China Daily News and Herald Limited pada 1928. Peta ini berukuran satu meter persegi dan terpajang di salah satu dinding. Sayang, saya gak sempat foto peta tersebut karena saya selalu menunda-nunda kesempatan, akhirnya terlupakan mengambil foto kembali.
Jika ke Malang, saya akan sempatkan mengunjungi kembali Hotel Tugu….



















minta info rate harga kmr disini donk..
bener mbak, malang emang asoy. dan saya pernah tinggal beberapa taun di malang, belom pernah sekalipun masuk ke hotel tugu. paling cuman lewat doang di bundaran tugu.