Kalau mau ke Semarang, jangan lupa bawa payung”, Percakapan saya dengan Mbak Riri teman blog ketika kami berYM-an.
Payung? “Iya, karena Semarang itu sangat terik, panas”.
Yesssss…. tiba di Bandara Ahmad Yani bersama Melda disambut dengan cerahnya kota Semarang. Di Semarang kami mengikuti Bos Wimar Witoelar, dalam acara Forum WW: Dialog Interaktif Calon Gubernur & Wakil Gubernur Jateng 2008-2013 yang disiarkan live dari Auditorium RRI Semarang melalui TVRI Jawa Tengah dan RRI Semarang, Solo & Purwokerto.
Setelah tiba, kami dijemput oleh Mbak Eni panitia lokal dari Semarang. “Halo Mbak Eni, sayang ya kita belum ngobrol banyak karena kita lagi sama-sama sibuk waktu itu. Tapi Mbak Eni udah pegang kartu nama saya kan? Please telp saya ya, biar kalo saya ke semarang lagi saya bisa diajak jalan-jalan keliling kota semarang sama Mbak Eni.”
Kebolehan saya dan Melda untuk memanfaatkan kerja di luar kota memang tidak kalah hebatnya. Setelah kita menyelesaikan pekerjaan dengan panitia lokal pada hari itu, kami berkeliling sedikiiit di kota semarang bersama driver dari panitia lokal yaitu Mas Arief. Beruntung punya driver plus mercy baby benz yang mengantarkan kami jalan-jalan.
Di hari pertama, tujuan pertama yaitu beli oleh-oleh terkenal bandeng presto+wingko babat di Bandeng Juwana Jl. Pandanaran. Beli buat temen-temen kantor dan keluarga di rumah. Karena kedua makanan tersebut tipe yang tidak tahan lama untuk berhari-hari, maka kami minta dikirimin ke hotel sehari sebelum kami balik ke Jakarta. Wah, asyiiik…dikirimin langsung ke Hotel ternyata bisa lho!
Untuk harga satu kilo ikan bandeng presto Rp. 48.500, isi 4-5 ekor. Sedangkan satu dus wingko babat campur ukuran besar yaitu Rp. 38.000. Wingko babatnya saya akui sangat lezat dan gurih. Nendang banget buat mengisi perut yang sedang lapar.
Proses beli oleh-oleh bereslah udah, kini kami menelusuri kota semarang yang mulai terik oleh panasnya matahari. Melewati, tertujulah oleh bangunan kuno yang bernama lawang sewu. Kesan pertama saya adalah: “aneh, tapi mengesankan”.
Sesuai dengan sejarahnya, Lawang Sewu adalah gedung bekas kantor pusat Nederlands Indische Spoorweg Maatschapij (NIS), sehingga sangat ideal jika dikembalikan sesuai dengan fungsi semula. Gedung tersebut memang dirancang sebagai kantor, sehingga dengan sedikit renovasi dapat difungsikan menjadi perkantoran modern yang antik.
Konon gedung berarsitektur unik ini menyimpan kekuatan magis seribu hantu. Hal tersebut bisa dimaklumi, karena pada masa peperangan dulu, yang melibatkan Angkatan Muda Kereta Api (pemuda-pemuda Semarang) melawan bala tentara Kido Buati Jepang, gedung Lawang Sewu menjadi ajang penyiksaan dan pembantaian. Tidak jelas berapa nyawa telah melayang, tapi jumlahnya bisa dipastikan mencapai ribuan.Saking banyaknya korban yang dibantai pada waktu itu, Lawang Sewu kini juga mendapat julukan sebagai kawasan wisata horor. Menegangkan sekaligus mengasyikkan. Puluhan paranormal dari berbagai penjuru Tanah Air pun sempat menjadikan tempat ini sebagai ladang perburuan hantu. Dinamakan Lawang-Sewu karena gedung tersebut memiliki ciri khas bangunan megah ini memiliki pintu atau lawang sebanyak seribu atau sewu. Oh iya, ada kami ditemani oleh Ibu Kenik yang baik, dan diajak berkeliling di sebagian kecil wilayah Lawang Sewu.
Dari Lawang Sewu, lanjut lagi menuju Gereja Belenduk dan kawasan Kota Lama Semarang. Arsitekturnya hampir sama dengan kawasan Kota Tua di Jakarta, unik dan indah. Di tengah Kota Lama terhampar Polder Tawang yang fungsinya untuk mengatasi banjir di Stasiun Tawang. Tidak lupa, kami berfoto narsis di sana
Tapi sepertinya kurang sreg kalau kami belum mencicipi yang namanya lumpia semarang. Nyam…nyam… Mas Arief langsung memberi rekomendasi lumpia yang paling enak menurut dia di kota semarang, yaitu lumpia Mbak Lien di Jl. Grajen. Lokasinya di tempat yang sangat sederhana yang berada di gang kecil dengan gerobaknya. Lalu, terlihat seonggok laptop macintosh terletak di meja sang pemilik. Hebat.
Hari kedua. Saya, Melda dan Lila dengan menggunakan taksi mengunjungi eyangnya Mbak Lila di daerah Jati Ngaleh Semarang Atas. Suasana pedesaan masih tercium ketika kami tiba di rumah eyang dengan ditemani anggrek dan tanaman lainnya. Kerinduan Mbak Lila terhadap eyangnya terbayar sudah. Cukup terharu sih, soalnya inget sama almarhumah eyangku di Malang. Hiks!
Okeeeehhh…acara puncaknya niiih. Laporan lengkap ada di sini niih…



















Lawang Sewu sudah nggak seram ya..Setannya takut sama orang .
he he..
Semarang memang asyik buat kota tuanya ..
semarang memang sangat teril dan langganan banjir..
kalo sesekali masih ok, tapi kalo untuk tinggal aduhh..
ngga kebayang..
semarang memang sangat terik dan langganan banjir..
kalo sesekali masih ok, tapi kalo untuk tinggal aduhh..
ngga kebayang..
Asyik banget ke Kota Semarang.. Pengalaman pertama yang menyenangkan…
Baru satu hari udah kayak tour guide… pas WW datang ma CL, malah sibuk menjelaskan bangunan2 tua yang kita lewai hehehe malunya teryata CL besar di Semarang dan tahu semua hal yang daku ceritakan…
Seu banget jalan2 ke semarang… nest time didedikasikan buat holiday dech
yups,
radit yach…
bukunya cukup mengasikkan,
tuk ngefun spend the time sich oke…
hmm,
lam kenal tuk pemilik blog yach…