Hihihihi…gue akhirnya ikutan mudik juga ke Malang, Jawa Timur. Kangen juga ama perjalanan panjang dari Jakarta-Malang-Jakarta dengan mobil. Kangen sempit-sempitan, kangen gak sikat gigi, kangen gak mandi…Hehehehehe…yang paling kangen sih sama suasana di Kota Malang apalagi sama saudara-saudara yang kebanyakan memang berada di Malang. Secara, bokap-nyokap dulu tinggalnya di Malang.
Jalur yang gue lalui Jakarta-Malang adalah jalur utara dan memang biasanya jalur tersebut yang kita pakai kalau mudik ditahun-tahun sebelumnya. Disamping jalan raya kebanyakan lurus, view kiri kanannya juga bagus. Mungkin gak kalah juga sih ama jalur selatan, ya karena belum dicoba aja.
Kami berangkat Minggu (14/7) pas dengan hari kedua lebaran. Alasannya biar jalanan sepi dan pemudik sudah berangkat sebelum lebaran. Dan memang, perjalanan lancar sekali. Alhamdulillah. Selain lancar, jalan yang kita lalui mulusssss…thanks buat pihak-pihak yang terkait dalam memuluskan jalanan yang dilalui oleh para pemudik. Tapi sayang, kecelakaan kendaraan beberapa pemudik tidak bisa dihindari ketika kami akan masuk ke Kota Cirebon. Kami sempat melihat kecelakaan motor dengan bus tepat di depan mata kami. Orang tersebut terlihat jelas sedeng berjuang menyelamatkan nyawanya sendiri, sedangkan motornya yang sudah hancur berada di bawah ban bus tersebut. Mudah-mudahan sampai saat ini, orang tersebut sudah sehat walafiat. Amin.
Perjalanan kami lanjutkan kembali. Tiba di Kota Kudus, hujan lebat datang. Hujan yang disertai dengan angin kencang membuat kami khawatir dengan pohon-pohon besar yang berada di kanan-kiri jalan. Dan benar saja, mobil yang berada diperlintasan kejatuhan ranting sedang. Secara gotong royong, beberapa orang membantu menyingkirkan ranting dan jalanan kembali lancar.
Tiba di Kota Tuban, kami istirahat dulu di rumah tante. Persis dibelakang rumahnya adalah laut dengan pasir putihnya yang terhampar sangat luas. Main di laut memang saat yang ditunggu-tunggu.
Ada cerita lucu nih dengan penduduk yang tinggal di dekat pantai. Jangan heran, jangan bingung atau jangan jijik ya dengan kebiasaan penduduknya yang buang hajat dibibir pantai sembarangan. Kalau pagi-pagi nih, banyak yang pada jongkok lho, ya itu…bagi-bagi granat. Hihihihi…jijay. Karena gue dari kecil sering jalan-jalan ke pantai Tuban, ya berarti kalau jalan harus hati-hati dengan tumpukan granat yang sembunyi di pasir. Wakakakakak…
Siang hari, kami lanjut ke Malang. Pulau Jawa keliatannya sedang kemarau. Pohon kebanyakan menjadi kering, ranting-ranting hampir tidak berdaun. Dan panas sangat menyengat. Dalam perjalanan, kami seperti ada ditengah gurun. Sempet surprise ditengah gurun, ternyata ada penjual es cendol, sendirian pula. Tadinya gue pikir fatamorgana kaya cerita di Tintin, tau-taunya beneran tukang es cendol. Ya udah, untuk membuktikan si es cendol bukan fatamorgana, kamipun berhenti untuk menikmatinya. Suegeeer…
Untuk menuju ke Malang, kami harus melewati jalan raya porong dan melewati area lumpur lapindo. Mmmh…sebenernya pengen banget ngeliat area tersebut. Tapi bokap males dengan kemacetan yang terjadi, soalnya denger-denger daerah itu macet total karena banyak wisatawan yang berhenti untuk melihat dan berfoto. Akhirnya, kami lewatin jalan tikus deh dengan melewati persawahan dan kebun teb lalu muncul-munculnya malah di PT. Lapindo Brantas.
Nah, di daerah porong ini, kami mampir lagi di rumah adik bokap yang sekarang bertugas di LP Porong.
Malang sudah tidak seperti yang dulu. Tidak dingin dan tidak sejuk lagi. Sudah mulai banyak perumahan dan pertokoan yang bertebaran di sana.
Tiba di rumah Eyang, suasana tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Yang biasanya eyang menyambut kami di depan rumahnya, kini tidak lagi. Kali ini, kami menemui eyang di tempat peristirahatan yang tenang.
Kalo udah di Malang, pengen cepet balik lagi ke Jakarta. Pulang deh ke Jakarta melalui Kota Batu trus lewat jalur selatan lalu ketemu di Kota Tuban jalur utara.
Yah, itulah sekilas tentang pengalaman gue mudik lebaran. cukup fenomenal bukan ??
Tahun depan mudik ke amsterdam ah hihihihihihihi…..