Spirit of Me

Free love? As if love is anything but free. Man has bought brains, but all the millions in the world have failed to buy love.

De-javu Cintapuccino September 21, 2007

Filed under: the book that i'm currently reading — rizka @ 5:16 am

Selamanya Cinta

Di kala hati resah
Sribu ragu datang memaksa ku
Rindu smakin menyerang
Kalaulah aku dapat membaca pikiranmu
Dengan sayap pengharapan ku ingin terbang jauh

Biar awan pun gelisah
Daun-daun jatuh berguguran
Namun cintamu kasih terbit laksana bintang
Yang bersinar cerah menerangi jiwaku
Andaikan ku dapat mengungkapkan perasaanku
Hingga membuat kau percaya
Akan ku berikan seutuhnya rasa cintaku
Selamanya, selamanya

* REPEAT CHORUS

Andaikan ku dapat mengungkapkan perasaanku
Hingga membuat kau percaya
Akan ku berikan seutuhnya rasa cintaku
Rasa cinta yang tulus dari dasar lubuk hatiku

Tuhan, jalinkanlah cinta pertama slamanya

———————————————-

cintapuccino hihihiihihi itulah lirik dari lagu Selamanya Cinta dari Yana Julio yang jadi OST-nya Cintapucino.
Aaah…akhirnya film cintapuccino gue tonton juga (telat yak). Buku chicklit Indonesia pertama ini muncul tahun 2004 yang gue beli di TB Gramedia PIM dan baru kemaren ini gue tonton di 21 PIM juga.

Inti filmnya sebenernya sederhana aja, seorang gadis bernama rahmi akan menikah dengan kekasihnya Raka. Di saat sebulan sebelum nikah itu, tiba tiba dia bertemu kembali dengan laki laki yang diidolakannya sejak jaman SMA, Nimo.

Hidup memang seperti air, mengalir begitu saja. Tiba-tiba Nimo datang kembali dalam kehidupan rahmi dan mengatakan bahwa dirinya mencintai rahmi. Seperti petir di siang hari, rahmi tentu saja kaget karena justru di saat dia siap mengakhiri masa lajangnya, malah cowok yang dia obsesikan di jaman SMA ini menyatakan perasaannya.

Secara kasat mata, film ini agak agak So-so, dibilang bagus banget ga bisa tapi jelek banget juga ga bisa.

Tapi satu hal yang bisa di enjoy banget adalah lagu lagu soundtrack dari film ini sangat membuat gue De-Javu akan masa masa gue di jaman SMA dulu. Asli deh seakan akan semua masa masa itu terulang kembali di depan mata gue. Lagu-lagunya enakkkkkkkk banget deh buat kamu kamu yang besar di jaman 80-90 an. Gue pribadi jadi ingat masa jaman SMA saat gue naksir sama seorang cowo yang sekarang kerja di Bali (kok jadi curhat ??? hihihihi..).

Tapi guess what, bukan cuma film cintapucinno yang bikin gue dejavu, ada banyak hal.

Dimulai dari pas buka bareng (yang sebenernya ngga bisa dibilang buka bareng sih, secara gue lagi ga puasa dan si maro malah gak puasa) sama maro di PIM yang mengingatkan gue sama masa masa ke pim mulu sama maro dan susy (miss you bangettttt susy :( ) dulu, kemudian kedatangan Gupta yang tiba-tiba ikut bergabung yang mengingatkan gue sama jaman gupta masih di IMX. Kangen selalu ke ITC bareng lo nih gup :(

Ah, waktu serasa cepat banget berlalu…….dan yang paling kocak adalah ketika selesai nonton film, maro tiba tiba inget kalau plastik gramedia nya ketinggalan di bioskop. Untung masih ada (meski nyarinya musti dengan merepotkan sekitar 3 security dan 4 orang penonton yang kebetulan masih duduk di studio hihihiiihi), dan ini bukan pertama kalinya dia keilangan barang di pim secara beberapa bulan lalu gue pernah sama dia ke pim dan dia keilangan poster yang baru dia beli di wc pim 2 hehehehe, de javu lagi gak sih.

tapi yg paling de javu adalah pas foto foto di ac hardware PIM 1, karena dari dulu banget gue suka banget berfoto dengan gaya gaya dan pose pose aneh di AC Hardware PIM 1 hihihiiihihi. Di Tahun 2006 lalu gue pernah pake wig rambut rasta di AC hardware dan diabadikan dengan HP, dan kemaren……..i DID it AGAIN. Foto foto lagi deh gue di AC hardware (dengan diliatin sama segerombolan mas-mas dan mbak mbak AC Hardware yang kayaknya juga ngeliatin pas gue foto dulu). Wah 2008 gue pose kayak apa ya???

cintapuccino

Anyway mau tau kaya apa fotonya? Nih…! Tebak tuh bikinnya pake photoshop atau ngga? :)

De-javu…………………..akuuuuuuuuu di hari itu!

 

Sembelit saat ngabuburit September 20, 2007

Filed under: fearFactOr — rizka @ 2:24 am

pribadi-prananta written by: Pribadi Prananta

Di kantor saya ada kebiasaan baru di bulan puasa ini. Karena kebijakan kantor yang menurut saya tidak bijak, yaitu tidak menyediakan ta’jil dan menu buka puasa, maka para pekerja di kantor saya beralih profesi menjadi pemburu.

Ya, berburu ta’jil hingga ke seberang sana. Maklum, kantor saya dengan jalan raya dipisahkan oleh kali selebar kali-kali pada umumnya, jadi untuk menuju ke kota kami harus menyeberang.

Hari demi hari kami terus berburu sampai akhirnya salah seorang rekan mencetuskan ide cemerlang, “Gimana kalo kita bawa aja penjualnya ke kantor?”

Akhirnya kami memutuskan untuk menculik seorang penjual dengan iming-iming dagangannya bakal laku keras di kantor kami. Dia pun setuju untuk diculik dengan syarat dia diperbolehkan menjual dagangan di kantor kami. Kami pun terpana mendengarnya.

Maka sejak Senin kemarin si mbak itu pun mulai rajin datang ke kantor membawa semua varian jajanan, mulai dari yang kering sampai yang basah, mulai dari yang bentuknya lonjong sampai yang berlubang. Khusus untuk varian terakhir ini dia punya cara tersendiri untuk mempromosikannya, “Mas, mbak.. donat.. donat.. enak dan istimewa… ada lubangnya lho…” Kami pun kembali terpana mendengarnya.

Seperti layaknya pekerja kantoran yang tidak diberi jatah ta’jil dan menu buka puasa, kami pun langsung bergerombol dan saling berebut untuk membeli begitu si mbak itu datang. Hawa persaingan pun timbul, apalagi sejak petugas front office dengan semena-mena mengumumkan kedatangan si mbak lewat intercom. Kehadiran si mbak yang awalnya eksklusif untuk sebagian akhirnya jadi milik semua penghuni kantor sampai ke bagian paling ujung sekalipun. Akibatnya, banyak yang tidak kebagian jajan dan akhirnya memilih untuk mengabaikan nasihat ibu mereka saat masih kecil, yaitu jajan di sembarang tempat.

Itulah yang terjadi pada saya yang kemarin memilih untuk jajan sembarangan. Hasilnya, di saat ngabuburit yang harusnya dipakai untuk belanja ta’jil seperti kemarin-kemarin, kali ini harus saya lewati di depan komputer sambil memegang perut karena sembelit.

Selamat berbuka puasa semuanya.

NB: Tulisan ini dibuat di bawah tekanan perut yang melilit dan jeweran teman yang meminta saya menulis untuk blognya. Semoga Rizka Nurlita Andi diberi pahala yang besar. Amin

 

Kulewati Garis Khatulistiwa September 5, 2007

Filed under: jaLan-jAlaN — rizka @ 11:59 am

pontianak

Setelah Surabaya, Palembang dan Banjarmasin. Kini tiba saatlah roadshow Perspektif Baru Live di empat kota berakhir di Pontianak. Kota yang terletak di garis khatulistiwa ini merupakan tempat tinggal dari berbagai macam suku dan etnis. Meskipun berbeda-beda, namun masing-masing pihak selalu berusaha menghargai perbedaan yang ada. Hal ini mungkin dapat dilihat dari poster-poster dan gambar-gambar dari para calon gubernur dan wakil gubernur yang akan bersaing di Pilkada. Apabila calon gubernurnya berasal dari etnis melayu, maka wakilnya berasal dari etnis Tionghoa atau sebaliknya. Hal ini juga berlaku pada latar belakang agama calon pasangan tersebut. Terlihat sekali bahwa para calon pasangan ini, inging mengakomodir keinginan dari banyak pihak di masyarakat.

Rombongan tiba di Kota Pontianak sekitar pukul 12 siang lebih. Tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dengan Pontianak. Alhamdulillah, perjalanan lancar dengan Batavia Airlines. Tumben, yang biasanya delay, ini gak lho meskipun ada sedikit guncangan-guncangan kecil pas di udara. Hehehehehe…

Setiba di Bandara Supadio Pontianak, kami dijemput oleh panitia lokal dari Pontianak Post. Lalu rombongan meluncur ke restoran untuk makan siang. Cuaca pada saat itu cerah menjurus panas, tapi itu tidak mengurangi selera makan kami dalam menikmati hidangan yang tersedia, apalagi dengan adanya es buah lidah buaya yang segar sekali. Senang sekali rasanya menikmati hidangan yang lezat ketika pertama kali menginjakkan kaki di pulau Kalimantan ini.
Sehabis makan siang, rombongan pun meluncur menuju Hotel Grand Mahkota yang akan menjadi tempat menginap rombongan kami. Hotel ini merupakan hotel tertinggi di Pontianak. Hotel ini sebenarnya sudah cukup lama umurnya, tapi dengan adanya renovasi, kondisi dan interior dari Grand Mahkota masih dalam kondisi yang bagus. Rombongan pun beristirahat untuk bersiap siap akan kegiatan padat yang akan dilalui esok harinya.

Kegiatan yang dilakukan di hari Senin adalah Talk Show Perspektif Baru Live yang diadakan di Universitas Tanjungpura bersama Wimar Witoelar dan A.B. Tangdililing. Talk show ini dihadiri oleh anak anak SMA, mahasiswa, dan masyarakat umum. Para peserta sangat antusias dalam mengikuti diskusi tersebut.

Pada hari Selasa, acara Seminar Pilkada bersama Wimar Witoelar, Hadar N. Gumay, Aida Mochtar, dan Muhammad pun dilaksanakan. Ratusan mahasiswa, masyarakat umum, LSM, dan media yang datang dengan antusias menjadi peserta seminar ini. Senang sekali rasanya mendapat sambutan yang meriah dalam acara ini. Semua kerja keras dan rasa capai terbayar rasanya.

Harus diingat bahwa Pontianak ini terkenal sebagai Kota Khatulistiwa karena dilalui garis lintang nol derajat bumi. Di utara kota ini, tepatnya Siantan, terdapat monumen atau Tugu Khatulistiwa yang dibangun pada tempat yang tepat dilalui garis lintang nol derajat bumi
Makanya saat disana, rombongan kami menyempatkan diri untuk datang dan melihat Tugu Khatulistiwa yang legendaris tersebut. Tugu ini kaya akan nilai sejarah lho.

Berdasarkan catatan yang diperoleh pada tahun 1941 , pada bulan Maret 1928 telah datang di Pontianak satu ekspedisi Internasional yang dipimpin oleh seorang ahli Geografi berkebangsaan Belanda untuk menentukan titik/tonggak garis equator di kota Pontianak dengan konstruksi sebagai berikut :

a. Tugu pertama dibangun tahun 1928 berbentuk tonggak dengan anak panah.

b. Tahun 1930 disempurnakan, berbentuk tonggak dengan lingkarang dan anak panah.

c. Tahun 1938 dibangun kembali dengan penyempurnaan oleh opzicter / architech Silaban. Tugu asli tersebut dapat dilihat pada bagian dalam.

d. Tahun tahun 1990, kembali Tugu Khatulistiwa tersebut direnovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu asli serta pembuatan duplikat tugu dengan ukuran lima kali lebih besar dari tugu aslinya.

e. Pada bulan Maret 2005, Tim Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan koreksi untuk menentukan lokasi titik nol garis khatulistiwa di Kota Pontianak. Koreksi dilakukan dengan menggunakan gabungan metoda terestrial dan ekstraterestrial yaitu menggunakan global positioning system (GPS) dan stake-out.

Anyway, bisa dilihat di foto berikut gimana kerennya Tugu Ini ? Udah gitu semua orang yang datang ke sini, dapat mendapatkan sertifikat sebagai tanda bahwa kita telah melampui garis khatulistiwa dengan hanya membayar Rp. 10.000. Seru kan ?

Sebuah pengalaman menyenangkan di Kalimantan yang akan selalu saya kenang. Yuk yuk yang mau kesana, jangan ragu-ragu :)