Spirit of Me

Free love? As if love is anything but free. Man has bought brains, but all the millions in the world have failed to buy love. – Emma Goldman

Long Road To Heaven, Tidak ada jalan pintas ke surga February 9, 2007

Filed under: bla..bla..bla, jaLan-jAlaN — rizka @ 9:13 am

Oleh Maro Alnesputra & Rizka Nurlita Andi

Jam menunjukkan pukul 18.45, ketika 2 pasang mata mulai menonton film Long Road To Heaven. Rentetan gambar dan dialog seakan menemani derasnya hujan di luar Mal Pondok Indah.

lrth Mari kita temui Hannah Catrelle, seorang wanita asal Amerika Serikat yang tinggal di Bali pada saat bom Bali berlangsung. Patah hati karena kehilangan kekasih tercinta pada kejadian WTC 11 September 2001, membuat Hannah cenderung apriori terhadap kaum muslim di dunia. Kecenderungan itu diungkapkan Hannah pada saat berteriak frustasi ketika melihat tumpukan mayat korban bom bali kepada seorang Haji yang sedang ikut menolong para korban.

“WHY DO YOUR PEOPLE HATE US SO MUCH? WHY DO YOU WANT TO KILL US!”

Perkataan tajam yang dilontarkan Hannah kepada Haji yang bernama Ismail itu akhirnya harus ditelan bulat-bulat. Melalui perjalanan panjang yang dialaminya selama 3 hari berikutnya, Hannah pada akhirnya bisa melihat bahwa mayoritas kaum Islam sendiri sangat tidak setuju dan mengutuk perbuatan terorisme itu.

Lalu, mari kita temui Liz Thompson, seorang journalist dari Australia yang datang 7 bulan sesudah tragedi Bom Bali terjadi. Datang jauh-jauh dari benua kangguru ke Bali, Liz ingin mengetahui kemarahan dan kemurkaan orang-orang Bali akan kejadian yang menimpa Pulau mereka tersebut. Bersama dengan seorang Supir Taksi bernama Wayan Diya, Liz berkeliling Bali untuk mendapatkan liputan yang menarik. Sayang seribu sayang bahwa dia tidak menemukan hal tersebut. Penduduk yang dijumpainya malah seakan menerima dengan ikhlas kejadian tersebut dan hanya berharap masa depan Bali akan menjadi lebih baik. Cacian, makian, kemarahan, kemurkaan, terhadap kejadian dan pelaku Bom Bali tersebut tidak dapat ditemukannya.

Namun akhirnya Wayan menunjukkan suatu sisi lain dari kepasrahan penduduk Bali kepada Liz.

Ucapan Wayan kepada Liz:


“We believe that for every kindness, evilness would always come with it.”

Kita juga akan bertemu dengan tokoh-tokoh di balik peristiwa Bom Bali yang akan membuat kita semua tertegun. Kita seakan tidak percaya bahwa ada orang-orang seperti itu di dunia. Mari kita temui Amrozi, seorang yang sangat membenci orang non muslim dan menganggap bahwa membunuh orang bule adalah suatu jalan menuju kebaikan dan peringatan pada kaum muslim Indonesia untuk tidak menikmati kegiatan orang-orang kafir ini. Ada juga Ali Gufron yang semula ragu untuk meneruskan rencana pemboman tersebut, namun akhirnya takluk dan ikut menjadi pelaku pemboman tersebut. Tentunya tak lupa kita temui seorang Iman Samudra, yang merupakan seorang diktator pengecut yang hanya mau merekrut orang-orang naïf untuk meledakkan dirinya sendiri, dan malah menjilat sendiri ludahnya dengan tidak jadi untuk meledakkan dirinya sendiri di depan Konsulat Amerika di Bali. Kebencian antara Amrozi dengan Imam Samudra merupakan satu hal yang mengejutkan, mengingat bahwa kita selalu menganggap komplotan penjahat sebagai gabungan orang-orang yang kompak dalam segala hal.

Dan akhirnya sampailah kita pada gerombolan yang membuat rencana master plan ini, Hambali, Muchlas, dan kawan-kawan. Sebuah gerombolan yang ternyata sangat tidak secure satu sama lain sehingga saling menikam di belakang. Kita melihat Muchlas yang menyatakan alasan utama dirinya mentargetkan Bali kepada Zulfikri.


Zulfikri: Mengapa awak pilih Bali sebagai target? Kenapa tidak Phuket di Thailand? Toh sama banyaknya orang baratnya bukan?
Mukhlas: Masih ingat pada waktu kita berjalan cepat menuju lift? Orang barat itu tidak mau satu lift dengan kita dan sengaja dengan cepat menekan tombol closed agar lift segera tertutup. Orang itu memakai Baju bertulisan “I LOVE BALI”, itulah sebabnya saya sengaja memilih bali untuk di bom.”
Zulfikri: Macam mana andai kata itu orang pake t-shirt tulisan I Love Thailand??
Mukhlas: Yah Thailand lah yang akan kita bom!

Film ini termasuk serius dan datar, apabila orang berharap akan menemukan kejenakaan atau satir satir menyindir yang biasa terdapat pada film film Nia Dinata mungkin akan merasa kecewa. Saran kami adalah bahwa anda jangan coba-coba ke wc selama film ini berlangsung, karena semua cerita di atas diceritakan tidak secara sistematis, namun secara metode flashback dan berganti-ganti satu sama lain. Konsentrasi penuh diperlukan untuk mengerti film ini. Film Long Road To Heaven jelas bukan film untuk segala umur apalagi film keluarga. Kami termasuk orang yang menonton dengan serius bahkan setengah mengantuk untuk mengerti arti film ini.Satu hal yang perlu dipuji adalah acting pemain yang berperan sebagai Amrozi, serta dua pemain yang berperan sebagai dua pelaku bunuh diri di Sari & Paddy’s Club tersebut. Kemiripan muka dua orang tersebut dengan dua pelaku asli di dunia nyata sangat mengagumkan. Simak dan perhatikan baik baik apabila anda menonton film ini.

Hardrock-Bali Selain itu suasana setting di Bali seperti Hard Rock Café, Pantai Kuta, Jalan Legian dan jalan-jalan di Bali lainnya serasa sangat nyata dan kami seakan berada di sana dan berpesta bersama-sama dengan bule-bule tersebut. Tapi bedanya, alhamdulillah kami ada di bioskop dan tidak di bom. Jadi masih ada kesempatan untuk pesta-pesta kalau kami ke Bali lagi hehehe.

Tapi setidaknya dengan hanya membayar 15.000 per tiket untuk menonton film di 21 Pondok Indah Mall di hari senin, pengalaman menonton Long Road To Heaven cukup manis untuk dikenang. Film yang dibuat berdasarkan research dan penelitian atas kejadian Bom Bali ini dapat memberi kesan tersendiri bagi penontonnya

===================================================================

Catatan: Penulis berasal dua suku berbeda, dua agama berbeda, dua jenis kelamin berbeda, dan dua generasi berbeda, namun mempunyai satu kesamaan pendapat:

If Heaven was full with people like Amrozi, Mukhlas, and others..
We don’t think we would want to be there…

==================================================================

Photo by Susy Magdalena

Keterangan Foto (kiri-kanan): Haris, Maro, Rizka, Lasut dan Melda
- the good old days at Bali

untuk lebih jelasnya silahkan klik www.longroadtoheaven.com

 

31 Responses to “Long Road To Heaven, Tidak ada jalan pintas ke surga”

  1. Khan surganya amrozi berbeda, dengan surganya kita kita…Jadi kita nggak bakal ketemu

  2. nila Says:

    waduh…..mo nonton…belom sempet neh, gara2 banjiiirrr….
    jadi kudu nonton ya jeng?
    okeee ddeehh

    sip2

  3. nugraha Says:

    Hai, udah daftarin tulisannya ke lomba nulis review film long road to heaven. Liat deh di situsnya http://www.longroadtoheaven.com. lumayan bisa dapet hp samsung baru. hehehe.

  4. isna Says:

    aduh, kok ga ngajak-ngajak nih pas nontonnya? katanya mau nonton bareng.

    kayaknya filmnya susah dimengerti ya? tp penasaran juga soalnya katanya akting pemainnya bagus-bagus. jadi penasaran nih

  5. rizka Says:

    makasih mas nugraha pemberitahuannya,

    emang udah iseng2 saya daftarin kok :)

    thx ya udah datang ke sini

  6. maro Says:

    Abis yg punya rencana traktir nonton bareng ga jadi-jadi na, kemarin diganti hari jumat, trus tiba-tiba jumat pagi jakarta banjir. sebelum filmnya abis ya udah deh disempetin nonton.

    Nonton ni film musti pake kacamata netral, jadi bisa ngerti marahnya amrozi ama amerika, bisa ngerti marahnya bule-bule korban bom bali sama org indonesia,bisa ngerti marahnya orang bali sama pelaku, dan bisa ngerti marahnya ummat islam yg ga ngapa-ngapain tapi dituduh teroris,

    kalau mau nonton yang murah hari senin aja!

  7. muthe Says:

    hmm…kata temen saya bagus…reviewnya Mbak juga bagus..berarti emang patut ditonton ya…ntar tak tonton ah…
    btw, penilaian siapa yang berhak masuk surga dan neraka kan mutlak penilaian Tuhan….bukan kita, manusia…

  8. rimma Says:

    reviewnya unik nih…ga standard…

    sisi humanisnya sih cukup bagus, tapi filmnya sendiri menurut saya hanya bisa dikasih 2 bintang dari 5 bintang, abis ribet sih

  9. rizka Says:

    @ nila: ayo ayo buruan nonton =)

    @ muthe & rimma: makasih udah mau kasih komen, sering-sering main ke blog aku ya =)

  10. Bunga Says:

    filmnya bagus lho, apalagi kan ini berdasarkan cerita nyata, menurut saya wajib banget ditonton oleh semua kalangan.

  11. Akbar Says:

    meski kelihatannya berat, tapi seru juga tuh kayaknya buat ditonton. Senin lebih murah ya? thanks infonya

  12. rizka Says:

    @bunga: iya bagus, tapi kalau untuk semua kalangan, hmmm…kok saya ga setuju ya hihihihihihi

    @akbar: iya bener, senin lebih murah, malah kalau mau lebih murah lagi dari 21 pim bisa coba nonton di 21 grand wijaya, hari senin nonton disitu cuma Rp. 10.000 lho =)

  13. bagus Says:

    Dunia akan selalu penuh keragaman. Jangan terlalu kuatir ya :)

  14. rizka Says:

    setuju dengan mas bagus =)

    thanks ya mas udah main-main ke sini

  15. opie Says:

    kembalikan baliku yang dulu

  16. andara Says:

    udah ada dvdnya belum ya? jadi pingin nonton nih….maklum saya gak di indonesia :P

  17. rizka Says:

    @ opie : Bali sudah aman kok, baru tahun lalu saya kesana :) , thanks ya udah main ke blog ini

    @ andara: wah kayaknya belum ada yah, biasanya 2-3 bulan sesudah film ditarik dari bioskop baru dvdnya muncul, dvd kaynalashira biasanya bagus-bagus lho, ada bloopers, deleted scene dll :) btw, thanks’ udah main ke blog ini ya

  18. isna Says:

    nobar bareng satu kantor untuk nonton ini sampai sekarang ga jadi nihh :(

  19. andara Says:

    terima kasih infonya

  20. sando Says:

    belum sempet nonton nih film, tapi katanya justru akting artis baratnya yang bagus

  21. adilla Says:

    Film ini produksi Nia Dinata dan bukan disutradarai Nia Dinata, mungkin itu sebabnya film ini jadi terasa tidak se-’ringan’ film-film karya Nia Dinata lainnya

  22. rizka Says:

    @andara: sama sama :)

    @sando: pemain baratnya memang aktingnya bagus, tapi saya pribadi lebih amazed sama yang jadi amrozi

    @adilla: Hm…gimana ya…janji joni juga tidak disutradarai nia dinata (sutradaranya Joko Anwar)tapi juga masih terasa ringan bukan?

  23. Ali Says:

    Sayang banget filmnya dilarang diputar di bali ya..? Padahal sepertinya filmnya tidak menunjukkan menghakimi pihak tertentu..?

  24. rizka Says:

    @ Ali : kalau menurut pemda Bali sih karena takut membuka luka lama bagi penduduk bali akan peristiwa bom bali

  25. dini Says:

    filmnya so-so lah, bagus banget ngga, tapi jelek banget juga ngga…

  26. Wayan Says:

    “If Heaven was full with people like Amrozi, Mukhlas, and others..
    We don’t think we would want to be there…”
    NICE…..

    Tapi kalau mereka di Neraka aku tetap ingin menemani mereka di sana….. jangan sampai ada lagi yang menderita….

  27. rizka Says:

    @Wayan: Wow!!!

  28. [...] Bukankah fasis namanya orang orang yang meneriakkan nama Tuhan ketika meledakkan bom di tempat yang kau anggap sarang maksi… [...]

  29. mr lekig Says:

    salam kenal,

    begitulah orang Bali, tidak ada kemarahan, tidak ada teror utk pedagang bakso dan soto lamongan ataupun umat muslim lainnya..

    *marah mode on
    Amrozi, kapan kau mati!!!!! Bangsat Teroris!!!!

  30. nn Says:

    Perlu adanya telaah kritis dari lahirnya film tersebut. Yang harus di kritisi adalah mengapa para “teroris” melakukan kekerasan terhadab amerika dan sekutuhnya dan apa yang menjadi akar masalahnya ? kedua pertanyaan itu mestinya dicari dan dikupas secara tuntas sehingga memperoleh gambaran yang adil dari sebuah pristiwa yang di filmkan. Jangan menjadi orang yang bodoh dengan menerimah informasi yang sepotong-potong!!!!!!
    PEACE FOR ALLL
    JUSTICE FOR ALL OK

  31. wonk Says:

    wah q ktggln nntn brg,so jadi ga tau dech,so q msh pnsaran gmn lnjt crty but filmy putus2 n hang jadi ga bs lanjt dh. kpn ya bs nntn lg……………………………..?????


Leave a Reply