Oleh Maro Alnesputra & Rizka Nurlita Andi
Jam menunjukkan pukul 18.45, ketika 2 pasang mata mulai menonton film Long Road To Heaven. Rentetan gambar dan dialog seakan menemani derasnya hujan di luar Mal Pondok Indah.
Mari kita temui Hannah Catrelle, seorang wanita asal Amerika Serikat yang tinggal di Bali pada saat bom Bali berlangsung. Patah hati karena kehilangan kekasih tercinta pada kejadian WTC 11 September 2001, membuat Hannah cenderung apriori terhadap kaum muslim di dunia. Kecenderungan itu diungkapkan Hannah pada saat berteriak frustasi ketika melihat tumpukan mayat korban bom bali kepada seorang Haji yang sedang ikut menolong para korban.
“WHY DO YOUR PEOPLE HATE US SO MUCH? WHY DO YOU WANT TO KILL US!”
Perkataan tajam yang dilontarkan Hannah kepada Haji yang bernama Ismail itu akhirnya harus ditelan bulat-bulat. Melalui perjalanan panjang yang dialaminya selama 3 hari berikutnya, Hannah pada akhirnya bisa melihat bahwa mayoritas kaum Islam sendiri sangat tidak setuju dan mengutuk perbuatan terorisme itu.
Lalu, mari kita temui Liz Thompson, seorang journalist dari Australia yang datang 7 bulan sesudah tragedi Bom Bali terjadi. Datang jauh-jauh dari benua kangguru ke Bali, Liz ingin mengetahui kemarahan dan kemurkaan orang-orang Bali akan kejadian yang menimpa Pulau mereka tersebut. Bersama dengan seorang Supir Taksi bernama Wayan Diya, Liz berkeliling Bali untuk mendapatkan liputan yang menarik. Sayang seribu sayang bahwa dia tidak menemukan hal tersebut. Penduduk yang dijumpainya malah seakan menerima dengan ikhlas kejadian tersebut dan hanya berharap masa depan Bali akan menjadi lebih baik. Cacian, makian, kemarahan, kemurkaan, terhadap kejadian dan pelaku Bom Bali tersebut tidak dapat ditemukannya.
Namun akhirnya Wayan menunjukkan suatu sisi lain dari kepasrahan penduduk Bali kepada Liz.
Ucapan Wayan kepada Liz:
“We believe that for every kindness, evilness would always come with it.”
Kita juga akan bertemu dengan tokoh-tokoh di balik peristiwa Bom Bali yang akan membuat kita semua tertegun. Kita seakan tidak percaya bahwa ada orang-orang seperti itu di dunia. Mari kita temui Amrozi, seorang yang sangat membenci orang non muslim dan menganggap bahwa membunuh orang bule adalah suatu jalan menuju kebaikan dan peringatan pada kaum muslim Indonesia untuk tidak menikmati kegiatan orang-orang kafir ini. Ada juga Ali Gufron yang semula ragu untuk meneruskan rencana pemboman tersebut, namun akhirnya takluk dan ikut menjadi pelaku pemboman tersebut. Tentunya tak lupa kita temui seorang Iman Samudra, yang merupakan seorang diktator pengecut yang hanya mau merekrut orang-orang naïf untuk meledakkan dirinya sendiri, dan malah menjilat sendiri ludahnya dengan tidak jadi untuk meledakkan dirinya sendiri di depan Konsulat Amerika di Bali. Kebencian antara Amrozi dengan Imam Samudra merupakan satu hal yang mengejutkan, mengingat bahwa kita selalu menganggap komplotan penjahat sebagai gabungan orang-orang yang kompak dalam segala hal.
Dan akhirnya sampailah kita pada gerombolan yang membuat rencana master plan ini, Hambali, Muchlas, dan kawan-kawan. Sebuah gerombolan yang ternyata sangat tidak secure satu sama lain sehingga saling menikam di belakang. Kita melihat Muchlas yang menyatakan alasan utama dirinya mentargetkan Bali kepada Zulfikri.
Zulfikri: Mengapa awak pilih Bali sebagai target? Kenapa tidak Phuket di Thailand? Toh sama banyaknya orang baratnya bukan?
Mukhlas: Masih ingat pada waktu kita berjalan cepat menuju lift? Orang barat itu tidak mau satu lift dengan kita dan sengaja dengan cepat menekan tombol closed agar lift segera tertutup. Orang itu memakai Baju bertulisan “I LOVE BALI”, itulah sebabnya saya sengaja memilih bali untuk di bom.”
Zulfikri: Macam mana andai kata itu orang pake t-shirt tulisan I Love Thailand??
Mukhlas: Yah Thailand lah yang akan kita bom!
Film ini termasuk serius dan datar, apabila orang berharap akan menemukan kejenakaan atau satir satir menyindir yang biasa terdapat pada film film Nia Dinata mungkin akan merasa kecewa. Saran kami adalah bahwa anda jangan coba-coba ke wc selama film ini berlangsung, karena semua cerita di atas diceritakan tidak secara sistematis, namun secara metode flashback dan berganti-ganti satu sama lain. Konsentrasi penuh diperlukan untuk mengerti film ini. Film Long Road To Heaven jelas bukan film untuk segala umur apalagi film keluarga. Kami termasuk orang yang menonton dengan serius bahkan setengah mengantuk untuk mengerti arti film ini.Satu hal yang perlu dipuji adalah acting pemain yang berperan sebagai Amrozi, serta dua pemain yang berperan sebagai dua pelaku bunuh diri di Sari & Paddy’s Club tersebut. Kemiripan muka dua orang tersebut dengan dua pelaku asli di dunia nyata sangat mengagumkan. Simak dan perhatikan baik baik apabila anda menonton film ini.
Selain itu suasana setting di Bali seperti Hard Rock Café, Pantai Kuta, Jalan Legian dan jalan-jalan di Bali lainnya serasa sangat nyata dan kami seakan berada di sana dan berpesta bersama-sama dengan bule-bule tersebut. Tapi bedanya, alhamdulillah kami ada di bioskop dan tidak di bom. Jadi masih ada kesempatan untuk pesta-pesta kalau kami ke Bali lagi hehehe.
Tapi setidaknya dengan hanya membayar 15.000 per tiket untuk menonton film di 21 Pondok Indah Mall di hari senin, pengalaman menonton Long Road To Heaven cukup manis untuk dikenang. Film yang dibuat berdasarkan research dan penelitian atas kejadian Bom Bali ini dapat memberi kesan tersendiri bagi penontonnya
===================================================================
Catatan: Penulis berasal dua suku berbeda, dua agama berbeda, dua jenis kelamin berbeda, dan dua generasi berbeda, namun mempunyai satu kesamaan pendapat:
If Heaven was full with people like Amrozi, Mukhlas, and others..
We don’t think we would want to be there…
==================================================================
Photo by Susy Magdalena
Keterangan Foto (kiri-kanan): Haris, Maro, Rizka, Lasut dan Melda
- the good old days at Bali -
untuk lebih jelasnya silahkan klik www.longroadtoheaven.com