Diceritakan oleh Rani Sartika
Dengan menggunakan taksi dan biaya yang tidak terlalu mahal (mahal kaleee…), kita berempat melanjuti perjalanan di hari kedua mengunjungi Merlion Park. Ada apa di merlion park? Disana terdapat patung singa yang besar dan dari mulutnya keluar air yang deras sekali seperti air pancuran. Pada awalnya, Merlion dirancang sebagai lambang Singapore Tourism Board (STB) di tahun 1964. Pemandangan disana sangat bagus dan pas banget untuk berfoto ria, bukan sekedar kami saja yang berfoto tapi banyak juga para turis mengambil moment-moment indah disana.
Tidak puas memang kalau cuma jalan-jalan dan berfoto-foto tanpa membeli apa-apa, dari Dhoby Ghaut, kami menggunakan MRT menuju China Town, pusat budaya para imigran China. Pemandangan dan keramaian China Town sangat khas yang merah menyala. Kami sibuk memilih oleh-oleh buat keluarga dan teman dari ujung sampai ujung lagi. Sampai di ujung kami sempat mampir ke kuil Sri Mariamman untuk melihat bagaimana cara orang India berdoa. Pengalaman Rani temen kantor gue, merasakan telapak kaki terasa panas dan kayaknya ada yang aneh waktu masuk ke kuil itu, entah kenapa hanya rani yang merasakan itu sedangkan mereka bertiga biasa-biasa aja.
Waktu sudah semakin siang dan perut sudah terasa lapar kembali. Little India adalah tempat yang tepat untuk makan siang siang. Target yang kita cari memang makanan khas India yaitu roti prata dan chicken murtabak [Indonesia: martabak]. Sepertinya hanya 1 tempat yang menjual roti prata ama murtabak itu, karena kami udah muter-muter, yang ktemu ya tempat kami makan ini. Awalnya kami tanya makanan roti cane, ternyata roti cane itu mereka menyebutnya “plain prata”, jadi kita ketawa-ketawa aja karena salah menyebutkan nama makanan. Murtabak di India, pilihannya ada yang kecil, sedang dan besar. Harganyapun S$ 5/6/7. Kami pilih yang kecil. Ternyata pas pesanan kami datang, bentuk murtabaknya besar. Kami berempat aja ampe gak abis. Mmmmh…lumayan enak lho murtabaknya. Gue jadi kepengen lagi, rahasianya resepnya apa ya? Oh iya, roti pratanya juga enak, guriiih…
By taxi, kami melanjutkan perjalanan menuju Mustafa Centre, masih di daerah Little India juga yang merupakan satu-satunya pusat perbelanjaan yang buka 24 jam. Electronic, fashion, food and beverage, etc…mereka hampir menjual semua kebutuhan orang-orang, khususnya turis yang ingin belanja coklat buat oleh-oleh.
Malemnya, window shopping sekitar Orchard Road seperti Takashimaya, Paragon dll.
Langsung aja di hari ke-3 ya, hari terakhir kita berada di Singapore yang bersih, tertib, orang-orang yang selalu melangkah dengan cepat, tampang-tampang ceweknya yang hampir mirip dan badan-badannya yang langsing kayak gue ini. Bener deh…di Singapore tampang ceweknya hampir sama. Rambutnya aja, modelnya hampir mirip semua.
Bangun pagi-pagi selalu dibangunin oleh Mbak Yani. Di waktu yang tersisa ini, kita sempatkan jalan-jalan ke Little John, Lucky Plaza lalu ke “House of Condom”. Kami melihat sesuatu di sana dan gue membeli sesuatu juga di toko tersebut.
Good bye Singapore…Welcome Jakarta!



















Wah asyik banget nich baca pengalamn selama di singapore :).