Selain unik, juga sangat melelahkan. Perjalanan ini, perjalanan pertama gue ke luar negeri sehingga menjadi pengalaman yang baru buat gue. Mata menjadi terbuka lebar melihat Singapore dari deket, jadi gak melulu melihat Jakarta. Kesempatan ini gue ambil tanpa mengambil resiko. Kalo gak begini, kapan lagi gue bisa ke Singapore? Walaupun di bulan ke depan, gue akan bawa makan siang dari rumah dan gak belanja-belanja lagi ampe gajian dateng lagi.
Perjalanan kali ini dimotori oleh Mbak Yani temen kantor gue. Beliau sudah berpengalaman dalam perjalanan ke Singapore melalui Batam. Hehehe…penghematan bow! Diikuti oleh anak-anak buahnya yaitu gue, Echa and Rani.
Pukul 06.45 pesawat dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Batam. Wajah-wajah ngantuk para menumpang terlihat dari sisi kacamata hitam. Dari Jakarta kami ngobrol dengan cowok, awal kenalnya karena kita dan dia saling bertanya-tanya tentang keberangkatan pesawat. Kami kemana-mana jadi bersama-sama. Namanya gak tau, karena dia gak memperkenalkan diri, tapi kita punya inisiatif untuk memberi dia nama, dia bernama “Rangga”. Jadi kalo tuh cowok ilang dikit di hadapan kita, Echa bilang “Eh, Rangga mana?”
Kurang lebih satu jam empat puluh lima menit, pesawat kami mendarat, dinginnya pesawat masih terasa ketika kami akan turun menuju Bandara Hang Nadim, Batam. Setelah kita mengurusi barang-barang, kita langsung menuju arah keluar untuk melanjutkan perjalanan ke Batam Centre dengan menggunakan taksi. Biaya taksi dari Bandara Hang Nadim menuju Batam Centre adalah 70 ribu rupiah. Kita berpisah dengan “Rangga” di Airport Hang Nadim ini.
Berikutnya, perjalanan feri ke Singapura melalui Batam Centre akan memakan waktu sekitar satu jam. Kita memilih feri “Batam Fast” dengan tiket return. Harga tiket Batam Centre menuju Harbourfront [return] adalah S$ 20. Oh iya, waktu Singapore itu satu jam lebih cepat dari waktu Batam.
Sesampainya di Singapore, feri akan berlabuh di pelabuhan Harbourfront. Nah, selagi keluar dari feri nih…semua penumpang harus membawa barang-barangnya sendiri lalu melewati imigrasi. Di tempat inilah, dada terasa dag dig dug…Walaupun passport gue gak bermasalah, tapi entah kok deg-degan ya? Ya iyalah, liat tampang-tampang petugas imigrasi Singapore yang super jutek itu gue jadi jiper.
Kami menginap di Orchad Hotel, yang letaknya di Orchad Road. Transportasi dari Harbourfront menuju hotel menggunakan taksi. Biaya argo/meteran awal mulai dari S$ 2.40, termasuk kilometer pertama. Setelah itu biayanya akan bertambah 10 sen setiap 225 meter jarak tempuh berikutnya. Setiap perusahaan taksi menetapkan biaya tambahan yang berbeda, dan kami hanya membayar S$ 6. Setiap perusahaan perusahaan taksi menetapkan biaya tambahan yang berbeda, lebih baik tanyakan dulu pada supirnya sebelum naik. Biaya tambahan ini meliputi Electronic Road Pricing, jam sibuk dan hari libur nasional.
Setibanya di hotel, kita beristirahat sebentar. Tak ingin kehilangan waktu yang tersisa di hari pertama, dari Orchard Road kita melangkah cepat menuju Stasiun MRT. MRT adalah kereta penumpang modern dan ber-AC akan singgah di banyak stasiun yang tersebar di seluruh Singapore. Kereta ini beroperasi mulai dari jam 6 pagi hingga tengah malam tiap harinya. Harga karcisnya, berkisar antara S$0 0.90 hingga S$ 1.90. Tempat yang kita sekarang tuju adalah Snow City. Dari Orchard Road kita menuju ke Jurong dengan MRT lalu disambung lagi dengan bis umum. Biaya bis dari Terminal Jurong menuju Snow City S$ 95 sen.
Sampailah kita di tempat yang super dingiiiiiin…bayangin deh, kita semua dimasukkan ke dalam ruangan yang suhunya -6 derajad celcius. Bbbbrrrrr…dingin banget. Kita diberi waktu 1 jam untuk bermain ice sky dengan biaya S$ 12. Kalau yang gak kuat dingin, kita bisa keluar sebelum 1 jam yang kita miliki. Seru deh pokoknya…Oh iya, dengan S$ 12 itu sudah termasuk jaket mantel dan sepasang sepatu booth. Untuk sepasang sarung tangan ada biaya tambahan lagi sebesar S$ 2. Seperti nakalnya anak-anak kecil, kami melepaskan tawa diimbangi dengan seramnya ketika kami meluncur jauh ke ujung. Jika kurang puas, naik lagi ke atas menuju puncak luncuran lalu kita di dorong turun agar bisa meluncur.
Dari Snow City, tujuan selanjutnya yaitu Clarke Quay. Ingin menghibur hati dan bersenang-senang? Segera saja menuju ke boat quay, perintis dunia hiburan Singapore. Dengan gabungan resto kelas atas, santap malam alfresco, serta bar dan pub yang meriah, tak keliru jika dikatakan Boat Quay merupakan tempat favorit untuk bersantai bagi kaum profesional dan ekspatriat. Tapi sayang…gue gak naik boat quay. Hiks! Oh iya, ada G-Max Reverse Bungy! G-Max adalah kendaraan ekstrim pertama di Singapura. Di sini, tiga orang duduk di sebuah kapsul terbuka kerangka baja yang dirancang khusus, terikat dengan kawat bungy (telah teruji di AS) ke dua buah menara. Kabel ini lalu ditegangkan, dan kemudian dilepas, meluncurkan kapsul 60 m ke udara dengan kecepatan 200 kilometer perjam. Permainan ini berlangsung selama 5 menit. Di sini gue juga gak main…hiks lagi.
Hari pertama kami sangat lelah dan kaki pegel…tapi kami senang.
Cerita dihari kedua akan gue posting, tunggu ajah…