Spirit of Me

Free love? As if love is anything but free. Man has bought brains, but all the millions in the world have failed to buy love. – Emma Goldman

Jakartaku makin panas November 21, 2006

Filed under: bla..bla..bla — rizka @ 11:40 am

Ada yang mengalami sejuknya kota Jakarta akhir-akhir ini? Kalau gue, sejuk yang gue alami hanya ketika gue tidur di rumah. Itupun transmigrasi ke kamar ortu, biar bisa tidur nyenyak sampai pagi diantara dinginnya AC.

Sekarang kalau mau cari keringat keluar, gak perlu berolahraga di ruang gym. Masuk bis metromini yang tanpa AC sudah mengeluarkan keringat, apalagi bekerja seharian yang AC-nya sedang bermasalah. Seperti yang gue alami sekarang nih, sampai sekarang masih bertanya-tanya, entah karena AC nya rusak atau makin panas udara sehingga AC kalah dengan pemanasan global yang sedang terjadi di ruang kantor lantai 3 ini? Feeling gue dan teman-teman merasa AC di kantor sudah perlu diganti. Hehehehe…

Tahun ini Jakarta cukup panas. Gue dengar kabar dari Gupta teman kantor bahwa suhu menunjuk 38 derajat Celcius dibandingkan dengan 32-34 yang sebelumnya sudah lumayan menggerahkan. Indikasi pemanasan global lain yang begitu jelas mungkin bisa dirasakan beberapa waktu belakangan ini. Misalnya suhu di Kalimantan yang biasanya sekitar 35 derajad Celcius naik menjadi 39 derajad Celcius. Terus di Sumatera yang biasanya berkisar pada 33-34 derajat Celcius naik menjadi 37 derajat Celcius.

Kenapa sih bisa ada perubahan iklim seperti ini?

Ya, akibat meningkatnya kegiatan manusia yang terkait dengan rumah kaca. Bumi kita berada di dalam rumah kaca. Asap-asap industri, asap kendaraan, penggunaan hair spray, pemakaian AC dan lain-lain menyebabkan terbentuknya dinding-dinding asap. Dalam keseharian kita selalu menambah beban lingkungan tanpa kita sadari. Para ahli sudah setuju bahwa efek rumah kaca disebabkan oleh bertambahnya jumlah gas-gas rumah kaca (GRK) di atmosfir yang menyebabkan energi panas yang seharusnya dilepas ke luar atmosfir bumi dipantulkan kembali ke permukaan dan menyebabkan temperatur permukaan bumi menjadi lebih panas. Bisa dibayangkan…

Apa sih Pemanasan Global itu? Artikel dari Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia [IATPI]Imengatakan suatu istilah yang menunjukan adalnya kenaikan rata-rata temperatur bumi, yang kemudian menyebabkan perubahan dalam iklim. Bumi yang lebih hangat dapat menyebabkan perubahan siklus hujan, kenaikk\an permukaan air laut, dan beragam dampak pada tanaman, kehidupan liar, dan manusia. Ketika para ahli ilmu pengetahuan berbicara mengenai permasalahan perubahan iklim, yang menjadi pusat perhatian adalah pemanasan global yang disebabkan ulah manusia. Mungkin sulit untuk dibayangkan bagaimana manusia dapat menyebabkan perubahan pada iklim di Bumi. Namun, para ahli sepakat bahwa ulah manusialah yang memacu besarnya jumlah gas rumah kaca dilepaskan ke atmosfir dan menyebabkan bumi menjadi lebih panas. Dahulu, semua perubahan iklim berjalan secara alami. Tetapi dengan adanya Revolusi Industri, manusia mulai mengubah iklim dan lingkungan tempatnya hidup melalui tindakan-tindakan agrikultural dan industri. Revolusi Industri adalah saat dimana manusia mulai menggunakan mesin untuk mempermudah hidupnya. Revolusi ini dimulai sekitar 200 tahun lalu dan mengubah gaya hidup manusia. Sebelumnya, manusia hanya melepas sedikit gas ke atmosfir, namun saat ini dengan bantuan pertumbuhan penduduk, pembakaran bahan bakar fosil dan penebangan hutan, manusia mempengaruhi perubahan komposisi gas di atmosfir. Semenjak Revolusi Industri, kebutuhan energi untuk menjalankan mesin terus meningkat.

Nah, kini kita dapat bertanya pada diri kita sendiri. Sampai kapankah kita harus merasa pemanasan global pada bumi bukan urusan kita?

Update 22 Nov 15.00: Alhamdulillah, setelah mendengar kabar langsung dari Bos Besar gue [gara-gara beliau baca blog gue ini], lt. 3 di kantor gue akhirnya dibelikan 2 buah AC baru. Horeeeeee……Thank u Bos!!!

 

9 Responses to “Jakartaku makin panas”

  1. maro Says:

    andai kata penduduk jakarta itu diibaratkan dengan steak,

    maka semuanya udah bukan kategori well-done lagi….

    over grilled !!!!!

  2. wimar Says:

    bener maro. rizka, masih untung AC ortu menang lawan panas, ada yang kalah dan tetap nggak sejuk. oh tapi malem ya.. kalau siang sih setahu saya yg panas hanya dalam mobil, atau katanya di mall. eh bener nggak sih ini akibat global warming? coba dong minta link referensi, pengen tahu nih.

  3. rizka Says:

    Isu global warming ada yang tidak sependapat, WW. Lengkapnya WW bisa baca tulisan dari Dewanti Lestari tentang “Pemanasan Global dan Perubahan Iklim, Benarkah Sedang Terjadi?”.

    http://www.antara.co.id/seenws/?id=45624

  4. Dino Says:

    Wah di Jogja juga panas, dan herannya udah hampir Desember tapi belum hujan sama sekali. I miss hujannnnn

  5. Thamrin Says:

    Susah memang di Jakarta, siang hari ditumpuki pendatang jam-jaman, alias yang bekerja, dari Bekasi, Bogor, atau Tangerang. Malam hari tidak berkurang, lampu jalan dan neon yang menerangi gedung-gedung juga menambah “hangat” Jakarta….susah….

  6. CL Says:

    yippeeeeeeee,
    denger kabar beli ac baru dari rumah!
    Thank God :)
    Thanks Boss Besar !

  7. rizka Says:

    Betul kata CL…Power to the blog!

  8. wadehel Says:

    Hihi, satu lagi bukti the power of blog :D

    Tentang Jakarta yang makin panas, mungkin sebentar lagi akan benar-benar “panas”, konon akan ada bencana besar lagi… Bukan hanya jkt, tapi juga beberapa kota yang lain.
    *Nyebar isu*

    Benar atau tidak, jangan lupa berdoa saja yaa :P

    Semoga kita termasuk yang selamat.

  9. harisx Says:

    144 halaman laporan dari Arctic Climate Impact Assesment (ACIA) mengenai pemanasan global dirilis di Reykjavik, Islandia pada hari selasa yang memaparkan detil-detil mengenai perubahan drastis dari Arctic.Data tersebut merupakan hasil dari kerjsama 300 orang ilmuwan selama lebih dari empat tahun dan juga suku asli daerah Arctic Amerika Utara.

    laporan tersebut menyatakan, “Lebih dari 100 tahun kemudian, perubahan iklim diharapkan akan meningkat akselerasinya, yang menghasilkan perubahan-perubahan besar secara psikis, ekologis, sosial dan ekonomi, banyak diantaranya telah dimulai.”

    Menurut gaya-gaya iklim, Arctic tampaknya akan kehilangan 50-60 persen es ditahun 2100 dan pada tahun 2070 mungkin akan cukup rapuh untuk mencegah pencairan es selama musim panas. Kyoto Protocol seharusnya dapat mengurangi emisi-emisi setidaknya 7 persen diakhir tahun 2012.

    Dokumen-dokumen ini mengkonfirmasikan data-data yang menjelaskan bahwa pemanasan global disebabkan oleh emisi gas karbondioksida dan efek-efek gas rumah kaca. Studi terpisah yang dilakukan oleh Britains Nature diharapkan dirilis pada bulan September 2005, yang menjelaskan bahwa mencairnya es Arctic akan lebih lanjut melepas banyak karbon dioksida keudara.

    Sebab-sebab melembeknya tundra dicatat juga dilaporan tersebut, yang meliputi overpopulasi dari manusia, dan penghancuran hidup kelautan karena eksploitasi yang berlebihan.

    Gas-gas rumah kaca yang tidak cukup diketahui untuk tampak secara alami adalah: hydrofluorocarbons (HFCs), dan sulfur hexafluoride (SF6), yang datang dari berbagai sumber-sumber industri.

    Meskipun AS juga menyumbang untuk studi ini, administrasi Bush menolak Kyoto Protocol di tahun 1997, dengan alasan akan terjadi kemerosotan perkembangan ekonomi di hari-hari depan.

    AS adalah kontributor terbesar dari pemanasan global, dengan menghasilkan 25 persen dari gas-gas industri dunia. Cina dan India tidak jauh dibelakangnya. Walau cukup dipercaya bahwa Amerika harus mematuhi Kyoto Protocol, banyak ilmuwan percaya bahwa setiap usaha mengurangi emisi-emisi CO2 sekarang ini tidak cukup sufisien untuk mencegah kerusakan di Arctic.

    So, Global Warming is not kind of silly joke!


Leave a Reply