Spirit of Me

Free love? As if love is anything but free. Man has bought brains, but all the millions in the world have failed to buy love.

Sudah Sampaikah sosialisasi pilkada ke warga DKI? November 3, 2006

Filed under: fearFactOr — rizka @ 10:00 am

Diiringi suara handphone dari seorang warga Menteng ketika sedang on air, diskusi dimulai dari pesan dan kesan terhadap Pemerintah Daerah yang dilontarkan Effendi Ghazali untuk warga Menteng dan mahasiswa Moestopo yang kali ini datang untuk memeriahkan acara. Suara lantang Wimar Witoelar memecahkan suasana ketika Effendi Ghazali memancing supaya WW berteriak. Sehingga teriakan “IYA, BETUL!” keluar dari mulut WW.

Tamu utama Gubernur Kita sebenarnya ada 2, yang satu adalah ketua DPRD Jakarta yang berhalangan hadir entah karena sakit atau karena apa dan tamu yang kedua adalah Hadar Navis (bukan Narsis?) Gumay (koreksi: Dumay) - Direktur Eksekutif CETRO (Centre for Electoral Reform) atau Pusat Reformasi Pemilu yang adalah sebuah ORNOP (organisasi Non Profit) atau LSM (Lembaga swadaya Masyarakat) yang didirikan dengan tujuan untuk memperkokoh gagasan dan pranata Pemilu serta menyebarluaskan gagasan pemilihan umum yang jujur dan adil melalui pembaharuan Sistem Pemilu.

Kurang puas terhadap Pemerintah Daerah adalah komentar yang dilontarkan oleh warga Menteng dengan banyaknya peraturan-peraturan yang sudah dibuat, tapi kok tidak konsisten dengan peraturan itu artinya peraturan ada, tapi kok tidak dijalankan. Contohnya ya tidak diperbolehkan merokok di depan umum. Si penanya mencontohkan melihat Bung Wimar ngerokok tadi. Duh…salah sasaran, tapi Wimar nyeletuk “bukan saya tuh, saya 10 tahun sudah tidak merokok, mungkin pemilik stasion yang merokok”. Hahahahaha…Akhirnya saat ditanya mengenai kinerja Pemda DKI Jakarta maka jawabannya sama kurang puas, kalangan Warga Menteng memberikan nilai 6-7 dan mahasiswa memberikan 4-5.

Selain peraturan merokok, kembali timbulnya masalah konsistensi. Sudah bagusnya pemerintah membangun busway, tapi kenyataannya di Menteng membangun gedung parkir dan di daerah Jl. Sudirman rencananya juga akan diperlebar, sehingga sepertinya melegalkan kendaraan-kendaraan pribadi. Sehingga warga Menteng dan warga lainnya berharap Pemerintah mengikutsertakan warga dalam perubahan lingkungan. Sarana olahraga juga menjadi persoalan diantara warga, khususnya wilayah Menteng yang hanya memanfaatkan Taman Suropati untuk berolahraga. Dengan spontan WW bilang “dikejar-kejar tentara kalo gitu”. Warga takut kalau Menteng dibongkar dan gak tau mau dibuat apa. Wimar kembali celetuk kalo kemungkinan Menteng akan dibangun stadion Persija. Kalo gitu kita-kita juga bisa maen bola dong…

Diskusi berkembang seru, dengan jawaban dari mahasiswa Moestopo terhadap kurang puasnya kinerja dan hasil dari perintah DKI. Dari satu sisi, hanya kota-kota besar saja yang mengalami kemajuan dan pembangunan. Sedangkan yang dipinggir kota Jakarta, walaupun diberi fasilitas umum namun tidak dijaga secara baik. Komentar menarik dari mahasiswa Moestopo yaitu tentang gedung tua yang dijadikan sejarah dihancurkan, padahal gedung atau kota tua merupakan identitas kota. Kemajuan suatu kota bukan berarti dibangunnya gedung-gedung baru, tapi gedung lamapun akan menjadi cagar budaya. “Kita harus melindungi gedung tua dan orang tua”, kata WW. Setuju!!!

Giliran Hadar N. Dumai mulai bicara tentang Pilkada. Pengalaman mengamati Pilkada langsung yang pertama kali dilakukan oleh pemerintah daerah atau KPUD DKI dengan posisi warga yang kurang memiliki informasi tentang Pilkada adalah harus menjadi masyarakat yang aktif dan tidak terpancing untuk tidak memilih. Rata-rata tingkat partisipasi atau orang yang ikut di dalam Pilkada kurang lebih 69%. Pemilihan nasional pemilihan presiden legislatif 84 %, pemilihan presiden putaran pertama 78%, putaran kedua 76%. Kalau Jakarta pada saat pemilihan presiden 1 dan 2 masih 75% dan 73%. Pada saat pendaftaran, nanti ada kesempatan untuk mengecek apakah benar kita sudah mendaftar dan data kita sudah benar atau tidak. Kalau kita tidak memilih, kita menyerahkan pilihan kita kepada orang lain. Dan itu seringkali yang dipilih adalah orang yang paling tidak kita sukai. “Betul, seperti yang sekarang, eeh…tapi yang sekarang tidak dipilih”, kembali celetuk WW. Jadi kesimpulannya pilih yang terbaik dari yang ada.

Nah, kalau spanduk gimana?

Hadar Dumai mengatakan kalau pemasangan spanduk tidak ada masalah. Masa memperkenalkan diri hanya 14 hari sebelum pemungutan suara. Memilih yang terbaik bukan sekedar hanya tampilannya tapi benar-benar menilai apakah bakal calon ini trade record dan mempunyai keahlian yang baik.

Pembicaraan makin menarik ketika Wimar mengatakan bahwa peraturan Dirjen, gubernur sekarang tidak akan dipilih kembali.

“Bagaimana sih menatap Pilkada ini lebih optimis?” tanya Effendi Ghazali. Hadar Dumai bilang bahwa perlu meninggalkan yang menjadi dasar kekecewaan kita, dan digunakan sebaik-baiknya untuk menjadi warga yang aktif.

Jadi nanti akan ada masa pendaftaran pasangan calon yang akan di cek dan di verifikasi lalu ditetapkan lalu sesudah akan ada masa kampanye. Oleh karena itu, kita perlu modal besar untuk mengetahui siapa mereka-mereka yang rencananya akan kita pilih. Inilah kesempatan untuk mempelajari bakal calon secara aktif. Bad Guy dan Good Guy kembali menjadi point penting di dalam Pilkada ini.

Partai yang sudah menentukan calonnya saat ini yaitu PKS. Ryaas Rasyid menjelaskan untuk komposisi DPRD Jakarta sekarang ini hanya ada 3 partai yang bisa mengajukan calon tanpa harus bergabung dengan partai lain yaitu PKS, PDIP dan Partai Demokrat. Yang sudah resmi sampai hari ini memutuskan calonnya yaitu PKS: Adang Dorodjatun. Hadar Dumai menambahkan kalau calon sudah ditentukan oleh partai politik, kita juga bisa mencari tahu apa yang akan mereka lakukan jika programnya terpilih.

 

4 Responses to “Sudah Sampaikah sosialisasi pilkada ke warga DKI?”

  1. cl Says:

    wah, bagus banget neng reportasenya.
    Enak, kaya nuansa, jadi kaya nonton sendiri acaranya.

    and !
    nice crop of clippings too :)
    jakarta bgt hehehehe

  2. Ojek express Says:

    Sosialiasi Pilakda, adalah juga tanggungjawab kita sebagai masyarakat untuk terus konsisten memasyrakatkan-nya pada segenap lapisan, it’s the grassroot empowerment and knowledge sharing that we as member of society to also get the broad-mass understaood what is and how Pilkada is (suppose) to run/implemented.., not necessarily in the hands of regulator, the sole responsibility to educate the mass.

    Nice to have found this blog, Kind regards from West Africa

  3. wul Says:

    Riz.
    Hadar N Gumay kali namanya, bukan Dumai…. :P

  4. Agus Basana Says:

    Sudah tapi baru sebagian kecil, salah satunya saya. Kalau bisa gubernur DKI adalah orang yang low profile supaya tidak terlalu banyak kebocoran anggaran.

Leave a Reply