Cerita dikit dugem di jakarta dan bali November 28, 2006
Moamar Emka bisa saja menulis tentang kondisi dan situasi kota Jakarta’s Red District. Tapi, gue mau mencoba menceritakan gambaran gue yang pernah mengalami dugem di Jakarta dan Bali.
Jakarta
Selama ini saya hanya mendengarkan teori dari seorang teman tentang kehidupan kota Jakarta, entah di tempat karaoke, nite-club, klub kebugaran atau strip-bar. Suatu saat saya ingin langsung ke inti realty show, walaupun tidak mendatangi semua red district yang saya sebutkan tadi. Saya tidak mengeluarkan uang sepeserpun, saya hanya mengeluarkan biaya taksi untuk pulang karena tidak mungkin saya pulang larut malam bahkan hingga dini hari jika keadaan saya masih menerawang.
Temen saya seorang yang berduit, tidak sayang menghabiskan uang hanya untuk hura-hura. Dan saya berpikir, bahwa dia mempunyai alasan tersendiri untuk itu.
Saya dan temans menuju tempat yang mungkin tidak begitu terkenal dan bukan tempat untuk kalangan elit Jakarta. ”RM” adalah tempat red district di wilayah Barat. Tiba di tempat itu, kelihatannya teman saya ini begitu kenal dengan daerah dan orang-orangnya. Teman saya begitu dihormati, karena teman saya yang lain bilang bahwa dia memang sering ke tempat ini dan ”belanja” banyak. Mungkin dia termasuk orang yang memberikan inventasi yang besar buat pemasukan di club itu.
Kondisi masih sepi ketika kita semua tiba di tempat. Lambat laun, malam semakin larut, situasi makin ramai dan gelap lalu musik makin keras di speaker yang tepat berada di samping saya duduk. DJ starts the music…
Satu setengah jam kemudian, muncul 3 striper lokal di atas panggung untuk menari. Tidak lebih dari setengah jam mereka menari. Selebihnya melakukan pendekatan personal untuk urusan kencan lanjutan. Saya baca di majalah AREA, kalau striper bule lebih banyak unjuk kebolehan dengan menari seksi dan makin banyak tip yang keluar, makin liar mereka menari.
Bali
Bali memang tempat liburan yang aman dan nyaman. Saya dan beberapa teman mencari tempat dugem yang heboh pada malam itu. Sayang sekali, club ”KS” yang terkenal tutup. Lalu kita menuju ke kawasan Seminyak. Hentakan musik yang dimainkan DJ dari diskotik ”DS” sudah terdengar dari tempat parkir. Digelapnya malam juga terdengar suara ombak yang terletak persis di seberang diskotik.
Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 Wita. Di sudut pojok diskotik yang cukup terkenal ini tampak sejumlah turis asing sedang berbincang-bincang sambil menikmati minuman. Diskotik ini sudah cukup terkenal di kalangan wisatawan domestik (wisdom) maupun wisatawan mancanegara (wisman). Suasana di dalam juga nyaman. Di tengah-tengah sebelum kita masuk ke ruangan disko, ada kolam renang yang juga digunakan untuk bungee jumping bagi orang yang ingin menikmati dinginnya air pada dini hari. Seperti saya, setelah lelah berdisko melangkahlah saya menuju pinggiran kolam sambil menunggu orang untuk berjumping ria.
Semakin malam, Bali semakin liar. Tempat yang kami kunjungipun semakin ramai. Dentuman musik semakin keras rasanya terdengar. Orang-orangpun terlelap oleh gerakan dan hentakan musik.
Pukul 04.00. Kami sudah lelah. Maka istirahatlah dipinggir kolam renang ditemani oleh minuman yang selalu setia. Lalu…tak lama kemudian, masuklah beberapa kaum lelaki lokal dari arah luar club mendatangi lelaki bule. Di depan mata, saya melihat 2 lelaki itu berciuman. Lelaki lokal dan lelaki bule. Wow!!!
Besoknya kembali dugem di ”EM”, tepatnya di Jl. Legian. Di ”EM” ini 85% lebih banyak orang-orang dari manca negara dibandingkan dengan orang-orang lokal (pelancong lokal dan orang lokal). Saya agak bingung, tempatnya diskonya berbeda dengan di ”DS”. Kali ini lebih sempit, tapi pengunjungnya banyak. Saya dan salah satu teman saya hanya duduk di tepi meja bar sambil melihat para bule berdisko dan beberapa teman saya turun untuk berdisko. Lagi menikmati minuman, tiba-tiba saya ditarik oleh cewek lokal untuk menemani berdisko dengan cowok bulenya. Tapi kok, lama-lama tuh cewek lokalnya menghilang dan membiarkan saya hanya berdua dengan cowok bule ini? Saya mulai tidak nyaman, saya mencari teman-teman saya, terlihat teman-teman saya hanya senyum-senyum mendukung saya tetap berjoget dengan bule itu.
Akhirnya saya terbebas dari bule itu dan kembali ke bangku bar yang terlihat kosong. Teman saya bilang akan ke toilet sebentar. Maka tinggal saya sendirilah diantara bule-bule yang berseliweran. ”Halo, siapa nama kamu?” tiba-tiba cowok bule persis di sebelah tanya ke saya dengan bahasa Indonesia yang bercampur logat kebule-bulean. ”Hah?” Saya? Nama saya Nanda, teriak saya. ”Nanda? nama yang bagus sekali” Kenalkan, nama saya……..[gak denger waktu itu], saya dari Spanyol. ”Mmmh…kamu cantik sekali”. ”Oh, thanks…jawab saya.”
Cerita belum selesai di situ, temen saya belum muncul dari toilet. Lalu, si bule menyodorkan segelas tequilla ke saya. Saya jawab, ”no, thanks”. Si bule bilang kalo minuman tequilla adalah minuman kesukaan dia. Oh ya? Lalu dia berkata lagi ”kamu mau menikah dengan saya?”
The end…
Ada yang mengalami sejuknya kota Jakarta akhir-akhir ini? Kalau gue, sejuk yang gue alami hanya ketika gue tidur di rumah. Itupun transmigrasi ke kamar ortu, biar bisa tidur nyenyak sampai pagi diantara dinginnya AC.
Jakarta yang nyaman akan membahagiakan warganya. Kenyamanan tidak saja diperoleh dari kelengkapan dan kelayakan sarana dan prasarananya, tapi juga oleh tumbuhnya nilai-nilai solidaritas, kerjasama dan sikap saling percaya. Kenyamanan menjadi keseharian tatkala semua orang diperlakukan setara, tanpa diskriminasi.
Kedatangan Presiden Amerika Serikat George W Bush 20 November mendatang, sepertinya memang merepotkan seluruh bangsa Indonesia terutama warga Bogor. Kerugian warga Bogor bisa dilihat dari pembangunan helipad di Kebun Raya Bogor, dimatikannya jaringan telepon selular dengan alasan ponsel bisa menjadi pemicu bom dari jarak jauh dan alat komunikasi teroris, trus ada sekolah yang diliburkan, toko-toko sekitar lokasi ditutup, persiapan PLN menyadangkan dua juta watt arus listrik untuk penerangan di sekitar Kebun Raya, ditutupnya jalan-jalan disekitar area Kebun Raya (Jl. Pajajaran, Jl. Jalak Harupat, Jl Sudirman, dan Jl Ir. Juanda), jaringan internet akan dilacak dan kerugian lain selama 10 JAM!!!
Diiringi suara handphone dari seorang warga Menteng ketika sedang on air, diskusi dimulai dari pesan dan kesan terhadap Pemerintah Daerah yang dilontarkan Effendi Ghazali untuk warga Menteng dan mahasiswa Moestopo yang kali ini datang untuk memeriahkan acara. Suara lantang Wimar Witoelar memecahkan suasana ketika Effendi Ghazali memancing supaya WW berteriak. Sehingga teriakan “IYA, BETUL!” keluar dari mulut WW. 

















