Dalam tayangan Jak TV, kembali disorot persoalan transportasi, sampah, dan banjir. Penanganan terhadap persoalan tersebut yang tak kunjung selesai juga menjadi pertanyaan dari peserta yang hadir yaitu mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia (Fisip UI) dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi London School of Public Relations (STIKOM LSPR).
Penampilan yang kedua kali ini di JakTV kamis malam, Sutiyoso menjelaskan Jakarta merupakan masalah yang dilematis. Kembali dengan cerita dukanya sebagai gubernur DKI Jakarta selama dua periode [duka melulu deh, emang gak ada sukanya? diumpetin ya?], Sutiyoso mengatakan sebagai pendatang baru untuk hidup di Jakarta, orang tersebut harus mempunyai keterampilan. Btw, dia kan juga pendatang? Ketika Ryaas Rasyid sebagai panelis di acara tersebut bertanya tentang kebijakan apa yang paling sulit, apakah tentang penggusuran? Sutiyoso membenarkan. Dalam penilaian sentral, masalah itu karena urbanisasi. Orang banyak datang ke Jakarta dan pada umumnya Bonek [Bondo Nekat] yang tidak punya ketrampilan dan tempat untuk ditinggali. Akhirnya mereka menjadi pengemis. Keberadaan mereka bisa merusak citra bangsa, tapi kalau mau digusur susah sekali.
Kali ini gue mau protes, tapi mau protes sama siapa? Protesnya gini nih…kenapa sih Anwar Fuadi dijadikan sebagai tamu di acara ini? Gak penting buangeet! Apalagi secara jelas gue melihat sosok makhluk itu berada tepat di depan gue. Waktu gue kecil Anwar Fuadi memang dikenal sebagai tokoh antagonis di film maupun sekarang ini di sinetron. Tapi gak main film atau sinetronpun kenyataannya dia tetap sebagai antagonis. Waduuuh…bukannya negative thinking, tapi kenyataan. Selain Anwar Fuadi sebagai tamu, ada Wanda Hamidah [selebriti dan bendahara PAN].
Celotehan Bung Wimar [panelis] menambah suasana menjadi segar. Terbukti dari acting Saudara Anwar Fuadi memuji Bang Yos sebagai Gubernur yang tangguh karena kursi gubernur itu panas. “Bukan hanya panas tapi juga basah,” celetuk Wimar. Hahahahaha…
Kutipan dari Hayatuddin Mansur dan Daisy Awondatu di Perspektif Online:
“Singkatnya, Bang Yos menyatakan untuk masalah transportasi ia telah membuat program busway yang telah jalan, monorail, subway, dan angkutan air. Semua tranportasi itu akan terintegrasi. Untuk menangani banjir sudah membuat program pembangunan kanal Timur. Sedangkan untuk sampah telah membuat program pengolahan sampah modern seperti di Eropa.
Namun semua itu, kata Bang Yos, banyak kendalanya. Program monorel terkendala tidak ada surat jaminan dari pemerintah pusat (comfort letter) untuk investor yang sudah bersedia masuk menanamkan investasinya, pembangunan pengolahan sampah seperti di Bojong Gede mendapat penolakan dari masyarakat. Sedangkan pembangunan kanal Timur menghadapi kendala harus menggusur pemukiman”.
Catetan tambahan nih buat para cagub yang nanti ikutan pemilihan bahwa untuk menjadi gubernur itu gak gampang. Bisa-bisa yang tadinya ceria biasa gak bisa senyum kayak Sutiyoso karena beban yang kering dan yang basah tercampur semua. Tantangan akan banyak sekali, selain penduduknya yang seperti binatang buas, gubernur mendatang jangan jadi ikutan buas, tapi jangan juga seperti SBY yang super alon-alon. [Hahahahaha...gak nyambung]



















Leave a Reply