Karena jalur mudik gue menuju kota Malang dan terbiasa menggunakan jalur utara, berikut gue bacakan alternatif singkat Mudik Bebas Lumpur Lapindo. Hahahahaha…
Kenapa suka dengan jalur utara? Karena gue suka dengan viewnya. Apalagi ketika melewati jalur Rembang-Tuban…wuiiih…keren banget. Kendaraan kita melalui pinggir pantai dengan lautnya yang biru dengan perahu-perahu nelayan yang berderet parkir di pinggir pantai, beserta anak-anak pantai yang berlarian mengejar teman-temannya. Ada juga orang yang jongkok untuk mengembalikan sisa tubuh kepada alam. Apa hayo???
Kembali ke jalur alternatif mudik, pintu masuk dari Surabaya menuju bagian timur wilayah Jawa Timur (Malang-Blitar, Pasuruan, Probolinggo, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi) sebenarnya ada tiga yakni jalur tol, Jalan Raya Porong, dan jalur kereta api. Masalahnya nih, tiga jalur untuk mudik Lebaran ini agaknya rawan “diganggu” luapan lumpur panas di sumur eksplorasi Lapindo Brantas Inc yang kini menghadang tiga “pintu masuk” Surabaya-Malang dan wilayah timur lainnya itu.
Bahkan, jalur tol yang selama ini “diperjuangkan” untuk aman dari lumpur panas itu akhirnya terendam lumpur setinggi 10 centimeter hingga 1,5 meter pada ruas jalan tol km 37.400-38 sepanjang 350 meter, itu akibat jebolnya tanggul di ring satu pada 26 September malam. Hal yang dapat dilakukan petugas di lapangan untuk saat ini adalah memperkuat dan meninggikan tanggul ring satu serta pada lokasi genangan lumpur paling dalam (1,5 meter) dengan penambahan pasir dan batu.
Tergenangnya jalur tol itulah yang akhirnya menciptakan kemacetan dan antrean panjang di ruas Jalan Raya Porong (jalur darat) yang selama ini juga menjadi alternatif dari Surabaya-Malang. Kemacetan yang terjadi tentu akan semakin “kacau” bila jalur darat lewat Jalan Raya Porong itu menjadi jalur alternatif pada saat mudik lebaran. Nah loh…
Menurut berita dari ANTARA, Kepala Polda Jatim Irjen Pol Herman Surjadi Sumawiredja mengatakan kalau jalan tol belum bisa difungsikan kami akan menyiapkan jalur alternatif hingga ke Prigen (Pasuruan), Trawas (Mojokerto), dan Mojosari (Mojokerto). Namun dengan adanya keputusan untuk membuang lumpur ke Kali Porong, diharapkan lumpur yang menggenangi jalur tol akan dapat dikuras dan dikeringkan, sehingga jalur tol akan dapat digunakan pemudik. Kalau tetap tidak bisa, masyarakat sebaiknya memikirkan untuk mengatur waktu mudik agar tidak mudik bersamaan, sehingga tidak menimbulkan kemacetan.
Kepala Dinas Perhubungan Sidoarjo, Fatturozi SH juga mengatakan, saat ini memang sudah ada rencana pihaknya untuk membuka jalur alternatif, guna mengatasi kemacetan di Jalan Raya Porong, terutama untuk memperlancar arus mudik dan balik Lebaran yakni jalur Surabaya-Malang dan sebaliknya lewat Waru-Krian-Wonoayu-Prambon-Tulangan berakhir di Porong.
Hal yang sama diungkapkan Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jatim, Hary Soegiri yang akan mencoba untuk menyosialisasikan alternatif angkutan jalan darat jurusan Surabaya-Malang menjadi empat jalur alternatif,” katanya. Jalur itu, yakni Surabaya lewat Mojokerto-Mojosari-Japanan, Surabaya lewat Sidoarjo-Krian-Mojosari-Japanan, Surabaya lewat Tol Sidoarjo-Wonoayu-Mojosari-Japanan, dan Surabaya lewat Tanggulangin-Tulangan-Trawas-Prigen-Pandaan.
Untuk KA reguler jurusan Malang-Blitar-Banyuwangi dialihkan ke jalur tengah atau memutar, Surabaya-Mojokerto-Jombang-Kediri-Blitar-Malang-Banyuwangi.
Akibat pengalihan jalur itu, waktu tempuh untuk Surabaya-Malang yang biasanya memakan waktu sekitar dua jam, akan semakin lama mencapai 6,5 jam, tapi hal itu akan lebih baik daripada mempertahankan lewat di lokasi yang terendam lumpur,” katanya.
Kwak…kwak…tuing-tuing!!!
Gimana neh? mudik gak ya?