Spirit of Me

Free love? As if love is anything but free. Man has bought brains, but all the millions in the world have failed to buy love.

Di Antara Dua Rasa October 31, 2006

Filed under: mySouL — rizka @ 4:34 am

Tiga hari terakhir di minggu liburan lebaran kemarin makin dekat saja gue sama dia. Makin cakep, bersih dan juga gagah. Baru sadar, kalo dia sangat berarti buat gue. Hampir 2 tahun gue sayangi dia. Kalau pergi kemana-mana maunya selalu bareng dia. Gue mencintainya. Sungguh. Karena itu gue gak pernah berhenti berharap dia selalu ada di dekat gue, karena itulah harga yang harus dibayar untuk sebuah cinta.

Pagi sebelum berangkat ke kantor, gue udah diskusikan dengan bokap-nyokap untuk menerima dia di rumah. Akhirnya dengan diskusi yang sangat alot, mereka akhirnya setuju. Duuh…gue seneng banget.

Tinggal menghitung hari, tidak ada yang bisa memisahkan kita. Dan kita akan bebas berjalan-jalan dengan hati-hati dan selalu waspada. Dia akan selalu gue jaga. Begitupun sebaliknya.

Oh Yamaha Mio Kuningku…akhirnya kamu sekarang punya garasi sehingga tidak nebeng di garasi tetangga lagi.

 

The Guardian October 28, 2006

Filed under: jaLan-jAlaN — rizka @ 11:47 am

Kevin Costner dan Ashton Kucher. Oh my God, ganteng bener euy…Baru terlihat jelas garis muka sang pemain film The Guardian waktu nonton di PIM 1 bareng Susy and Daisy. Dari gue SD, gue emang udah kepincut sama si Costner itu, sampai sekarangpun juga masih suka ama tampang and suaranya yang cool. Cieeee…Nah, sekarang jadi suka ama Kucher, gara-gara dia maen film bareng si Costner. Waalah…gimana sih.

Cerita The Guardian sangat menarik. Ben Randall (Kevin Costner) awalnya adalah si penyelamat pantai. Ratusan orang sudah berhasil diselamatkan. Dalam menjalankan tugas, Randall kehilangan kru nya karena kecelakaan. Berusaha mengatasi rasa kehilangan temannya dalam bayang-bayang musibah itu, akhirnya Randall ditugaskan menjadi pengajar di sebuah program elit untuk Tim Penjaga Pantai. Ashton Kucher berperan sebagai seorang juara renang yang sombong bernama Jack Fisher, dan selalu berambisi menjadi yang terbaik. Selama dilatih oleh Randall, dia mencoba untuk membentuk watak Jake lalu menggabungkan bakatnya dengan hati dan pengabdian yang selama ini dia lakukan selama mengabdi menjadi penjaga pantai.

Cerita film tentang perenang ini, pas banget dan tidak direncanakan. Kenapa pas? karena paginya gue abis brenang ama Bos Besar, Susy and Daisy di PI. Pas nonton film itu jadi pengen bisa semua gaya. Soalnya gue cuma bisa renang gaya katak. Pokoknya hebat banget deh gerak renangnya si Costner ama Kucher. Tapi mereka pake stuntman gak ya?

Setelah berenang, kita pintong ke PIM 1, ditraktir makan di Hoka-Hoka Bento ama Bos Besar. Makasih ya Bos, oh iya, kita-kita juga ditraktir ticket renang di PI juga. Makasih lagi ya Bos Besar…

 

Maafkan October 19, 2006

Filed under: mySouL — rizka @ 3:50 am

Setiap manusia pernah mengalami posisi memaafkan dan dimaafkan.
Seiringan dengan silih bergantinya posisi ini, akan menjadi kenikmatan sendiri bagi keduanya apabila di dalamnya ada keimanan dan sikap syukur…

Selamat Idul Fitri 1427 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin…

Semoga kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun depan…Amin.

 

Pintong ke PIM 2 October 19, 2006

Filed under: jaLan-jAlaN — rizka @ 2:00 am

Daisy Susy Maro Pulang kerja, bersama Daisy, Susy and Maro, jalan-jalan ke PIM2. Makan dulu di foodcourt PIM2 trus cari obat jerawat buat yang lagi jerawatan di Clinique, trus gue ama maro sempet ke shoot ama TransTV untuk Manajemen qolbu hari rabu atau minggu setelah lebaran waktu ada lagu nasyid kelompok syifa di PIM2. Sambil menunggu yang beli obat jerawat, kita berdua duduk manis sambil mendengarkan lagu rohani.

Lanjut makan es krim ke Hagen Dazs dan membahas hal-hal yang gak penting sambil berpose ria.

 

Mudik gak ya? October 17, 2006

Filed under: bla..bla..bla — rizka @ 6:47 am

Karena jalur mudik gue menuju kota Malang dan terbiasa menggunakan jalur utara, berikut gue bacakan alternatif singkat Mudik Bebas Lumpur Lapindo. Hahahahaha…

Kenapa suka dengan jalur utara? Karena gue suka dengan viewnya. Apalagi ketika melewati jalur Rembang-Tuban…wuiiih…keren banget. Kendaraan kita melalui pinggir pantai dengan lautnya yang biru dengan perahu-perahu nelayan yang berderet parkir di pinggir pantai, beserta anak-anak pantai yang berlarian mengejar teman-temannya. Ada juga orang yang jongkok untuk mengembalikan sisa tubuh kepada alam. Apa hayo???

Kembali ke jalur alternatif mudik, pintu masuk dari Surabaya menuju bagian timur wilayah Jawa Timur (Malang-Blitar, Pasuruan, Probolinggo, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi) sebenarnya ada tiga yakni jalur tol, Jalan Raya Porong, dan jalur kereta api. Masalahnya nih, tiga jalur untuk mudik Lebaran ini agaknya rawan “diganggu” luapan lumpur panas di sumur eksplorasi Lapindo Brantas Inc yang kini menghadang tiga “pintu masuk” Surabaya-Malang dan wilayah timur lainnya itu.

Bahkan, jalur tol yang selama ini “diperjuangkan” untuk aman dari lumpur panas itu akhirnya terendam lumpur setinggi 10 centimeter hingga 1,5 meter pada ruas jalan tol km 37.400-38 sepanjang 350 meter, itu akibat jebolnya tanggul di ring satu pada 26 September malam. Hal yang dapat dilakukan petugas di lapangan untuk saat ini adalah memperkuat dan meninggikan tanggul ring satu serta pada lokasi genangan lumpur paling dalam (1,5 meter) dengan penambahan pasir dan batu.

Tergenangnya jalur tol itulah yang akhirnya menciptakan kemacetan dan antrean panjang di ruas Jalan Raya Porong (jalur darat) yang selama ini juga menjadi alternatif dari Surabaya-Malang. Kemacetan yang terjadi tentu akan semakin “kacau” bila jalur darat lewat Jalan Raya Porong itu menjadi jalur alternatif pada saat mudik lebaran. Nah loh…

Menurut berita dari ANTARA, Kepala Polda Jatim Irjen Pol Herman Surjadi Sumawiredja mengatakan kalau jalan tol belum bisa difungsikan kami akan menyiapkan jalur alternatif hingga ke Prigen (Pasuruan), Trawas (Mojokerto), dan Mojosari (Mojokerto). Namun dengan adanya keputusan untuk membuang lumpur ke Kali Porong, diharapkan lumpur yang menggenangi jalur tol akan dapat dikuras dan dikeringkan, sehingga jalur tol akan dapat digunakan pemudik. Kalau tetap tidak bisa, masyarakat sebaiknya memikirkan untuk mengatur waktu mudik agar tidak mudik bersamaan, sehingga tidak menimbulkan kemacetan.

Kepala Dinas Perhubungan Sidoarjo, Fatturozi SH juga mengatakan, saat ini memang sudah ada rencana pihaknya untuk membuka jalur alternatif, guna mengatasi kemacetan di Jalan Raya Porong, terutama untuk memperlancar arus mudik dan balik Lebaran yakni jalur Surabaya-Malang dan sebaliknya lewat Waru-Krian-Wonoayu-Prambon-Tulangan berakhir di Porong.

Hal yang sama diungkapkan Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jatim, Hary Soegiri yang akan mencoba untuk menyosialisasikan alternatif angkutan jalan darat jurusan Surabaya-Malang menjadi empat jalur alternatif,” katanya. Jalur itu, yakni Surabaya lewat Mojokerto-Mojosari-Japanan, Surabaya lewat Sidoarjo-Krian-Mojosari-Japanan, Surabaya lewat Tol Sidoarjo-Wonoayu-Mojosari-Japanan, dan Surabaya lewat Tanggulangin-Tulangan-Trawas-Prigen-Pandaan.

Untuk KA reguler jurusan Malang-Blitar-Banyuwangi dialihkan ke jalur tengah atau memutar, Surabaya-Mojokerto-Jombang-Kediri-Blitar-Malang-Banyuwangi.

Akibat pengalihan jalur itu, waktu tempuh untuk Surabaya-Malang yang biasanya memakan waktu sekitar dua jam, akan semakin lama mencapai 6,5 jam, tapi hal itu akan lebih baik daripada mempertahankan lewat di lokasi yang terendam lumpur,” katanya.

Kwak…kwak…tuing-tuing!!!

Gimana neh? mudik gak ya?

 

Obrolan dan pengerjaan yang gak pernah tuntas October 13, 2006

Filed under: fearFactOr — rizka @ 5:20 am

Dalam tayangan Jak TV, kembali disorot persoalan transportasi, sampah, dan banjir. Penanganan terhadap persoalan tersebut yang tak kunjung selesai juga menjadi pertanyaan dari peserta yang hadir yaitu mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia (Fisip UI) dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi London School of Public Relations (STIKOM LSPR).

Penampilan yang kedua kali ini di JakTV kamis malam, Sutiyoso menjelaskan Jakarta merupakan masalah yang dilematis. Kembali dengan cerita dukanya sebagai gubernur DKI Jakarta selama dua periode [duka melulu deh, emang gak ada sukanya? diumpetin ya?], Sutiyoso mengatakan sebagai pendatang baru untuk hidup di Jakarta, orang tersebut harus mempunyai keterampilan. Btw, dia kan juga pendatang? Ketika Ryaas Rasyid sebagai panelis di acara tersebut bertanya tentang kebijakan apa yang paling sulit, apakah tentang penggusuran? Sutiyoso membenarkan. Dalam penilaian sentral, masalah itu karena urbanisasi. Orang banyak datang ke Jakarta dan pada umumnya Bonek [Bondo Nekat] yang tidak punya ketrampilan dan tempat untuk ditinggali. Akhirnya mereka menjadi pengemis. Keberadaan mereka bisa merusak citra bangsa, tapi kalau mau digusur susah sekali.

Kali ini gue mau protes, tapi mau protes sama siapa? Protesnya gini nih…kenapa sih Anwar Fuadi dijadikan sebagai tamu di acara ini? Gak penting buangeet! Apalagi secara jelas gue melihat sosok makhluk itu berada tepat di depan gue. Waktu gue kecil Anwar Fuadi memang dikenal sebagai tokoh antagonis di film maupun sekarang ini di sinetron. Tapi gak main film atau sinetronpun kenyataannya dia tetap sebagai antagonis. Waduuuh…bukannya negative thinking, tapi kenyataan. Selain Anwar Fuadi sebagai tamu, ada Wanda Hamidah [selebriti dan bendahara PAN].

Celotehan Bung Wimar [panelis] menambah suasana menjadi segar. Terbukti dari acting Saudara Anwar Fuadi memuji Bang Yos sebagai Gubernur yang tangguh karena kursi gubernur itu panas. “Bukan hanya panas tapi juga basah,” celetuk Wimar. Hahahahaha…

Kutipan dari Hayatuddin Mansur dan Daisy Awondatu di Perspektif Online:

“Singkatnya, Bang Yos menyatakan untuk masalah transportasi ia telah membuat program busway yang telah jalan, monorail, subway, dan angkutan air. Semua tranportasi itu akan terintegrasi. Untuk menangani banjir sudah membuat program pembangunan kanal Timur. Sedangkan untuk sampah telah membuat program pengolahan sampah modern seperti di Eropa.

Namun semua itu, kata Bang Yos, banyak kendalanya. Program monorel terkendala tidak ada surat jaminan dari pemerintah pusat (comfort letter) untuk investor yang sudah bersedia masuk menanamkan investasinya, pembangunan pengolahan sampah seperti di Bojong Gede mendapat penolakan dari masyarakat. Sedangkan pembangunan kanal Timur menghadapi kendala harus menggusur pemukiman”.
Catetan tambahan nih buat para cagub yang nanti ikutan pemilihan bahwa untuk menjadi gubernur itu gak gampang. Bisa-bisa yang tadinya ceria biasa gak bisa senyum kayak Sutiyoso karena beban yang kering dan yang basah tercampur semua. Tantangan akan banyak sekali, selain penduduknya yang seperti binatang buas, gubernur mendatang jangan jadi ikutan buas, tapi jangan juga seperti SBY yang super alon-alon. [Hahahahaha...gak nyambung]

 

My new camera October 13, 2006

Filed under: bla..bla..bla — rizka @ 3:37 am

Setelah sekian lama tidak memegang kamera untuk mencari-cari objek foto [soalnya kamera lama digadaiin, trus pas mau nebus orangnya malah jatuh cinta ama kamera samsung gue, dan gak mau dibayarin lagi], dengan rasa percaya diri yang tinggi dan besar akhirnya gue melangkahkan kaki menuju ITC Fatmawati untuk membeli kamera di toko camzone. Gak sempet cek sana cek sini [kalo cek pastinya ke mangga dua atau glodok], gue memutuskan untuk membeli exilim casio 6 Mpx. Maunya sih beli yang Nikon SLR, tapi duitnya blom ada. Untuk sementara [deeee...sementara?] gue pake exilim dulu sambil mengumpulkan receh demi receh untuk beli kamera yang gue idam-idamkan itu.

 

Happy birthday to you… October 10, 2006

Filed under: jaLan-jAlaN — rizka @ 1:39 pm

Happy birthday CL…
Happy birthday Maro…
Happy birthday Sari…
And my sister Lulu, happy birthday…

Musim ulangtahun? Ah, nggak juga. Kebetulan aja ulang tahun ditanggal yang sama, kecuali CL ultah ditanggal 4 Oktober dan dirayakan bersama Maro dan Sari.

Kali ini ada EO yang membuat buka puasa menjadi nikmat. Siapa lagi kalo Daisy dan Katherine yang mengurus segala hal yang berhubungan dengan kado dan makanan. Makanan? Itu yang paling penting! Kolak, ikan gurame goreng dan ada yang dibumbui asem manis, karedok, tahu goreng, ayam goreng (ini gue gak kebagian), cah kangkung menjadi santapan acara berbuka puasa.

Pas jam makan siang, Gupta bersama Daisy, Melda dan Katherine hunting untuk mencari kado buat CL dan Maro. Tadinya gue pengen ikut, tapi kok lemes banget yak…puasa boooo…

MC dibuka oleh Daisy dan Katherine, sempet becanda-canda dan gue sempet repot dengan pengambilan foto karena sempitnya panggung. Sebagian gak dapet moment yang bagus. Kayak tiup lilinnya, gak dapet sama sekali. Mau diulang? Gak seru kaliii…

Mmmh…kadonya keren-keren banget!!!
Maro: Topi adidas + kemeja
CL: Sepatu + dompet

Beberapa menit kemudian, Fira Basuki dateng, Bawa bungkusan besar yang kalo dilihat dari kasat mata adalah satu loyang cheese cake plus ice cream diantara lapisan kue.

Ah…seneng banget hari ini, bisa ketawa-ketawa, makan enak dan ngumpul bersama teman-teman.

Thanks CL…
Thanks Maro…
Thanks Sari…

Once again…happy birthday!

Nb. Buat Mbak Lulu, kadonya kapan-kapan aja ya…

 

Dari pintong ke pintong - Hell Yeah! October 7, 2006

Filed under: fearFactOr — rizka @ 7:46 am

Persinggahan terakhir rangkaian book signing Hell Yeah adalah Mall Kelapa Gading. Seneng banget gue bisa mengikuti semua rangkaian road show Hell Yeah dari PIM-Cirebon-Citraland-Depok dan sekarang Mall Kelapa Gading. Semua rangkaian book signing hampir semua dimanfaatkan oleh pengunjung, penggemar WW, penggemar Fira Basuki untuk mendatangi Toko Buku Gramedia yang berada di masing-masing tempat yang Grasindo pilih.

Di Mall Kelapa Gading yang super luas ini, pengunjung mall ramai sekali, begitu pula dengan Toko Buku Gramedia yang berada di lt. 2. Toko bukunya cukup luas juga, orang mondar-mandir untuk membaca buku bersama keluarga, teman atau pacar.

Detik-detik acara dimulai, Mbak Nana Soebianto sang moderator mengajak pengunjung untuk bergabung dan bertanya seputar buku Hell Yeah. Diskusi-diskusi menarik timbul dari pertanyaan-pertanyaan dari pengunjung. Ada yang bertanya bagaimana kelanjutan buku Hell Yeah, mengapa Fira basuki memilih dan tujuan WW menjadi objek, pemerintahan, blogger, mengapa WW mau menjadi juru bicara Gus Dur, resep selalu berpikiran positif di daerah yang negatif sampai kritik tentang buku Hell Yeah yang kurang dengan foto-foto WW.

Seperti biasa, sesi tanya jawab disusul suasana riuh mengiringi book signing dan foto bersama dalam berbagai kombinasi dan pose berbagai gaya.

Setelah acara, buka puasa bersama diadakan di Pizza Hut La Piatzza bersama kru book signing.

Seru nih, selanjutnya pintong [pindah tongrongan] ke PIM 2, tepatnya di Starbucks. Hampir stengah jam kita nongrong bersama DN, WW, FB dan HW.

Abis dari starbucks pintong lagi ama temen-temen kampus di ATGI. Lalu pintong lagi anak-anak kampus ke rumah gue untuk ngopi. Ahhh…pintong melulu.

 

Gado-gado boplooooo… October 4, 2006

Filed under: bla..bla..bla — rizka @ 4:04 pm


“Riz, tar buka puasa bersama di kmps jam 4.30 tlng lu ksh tau yg lain ya?”
Sms dari Lesom gue baca pukul 2 siang. Wah, tumben nih kampus ada acara buka puasa. Jarang-jarang loh. Tapi hari ini rencana untuk acara buka puasa terasa penuh di otak. Dari kemaren udah kepengen buka puasa pake gado-gado boplo. udah gitu, Maro and Daisy ngajakin buka puasa juga di PIM pake bakmi GM. Tapi kok gak kepengen-kepengen banget makan bakmi ya? Sorry ya Maro and Daisy, walaupun kita main tarik-tarikan tangan waktu bis metrominiku dateng, hati ini tidak tergubris untuk ikut kalian ke PIM. Soalnya udah di tunggu ama temen-temen kampus untuk ngumbul bersama. Syukur-syukur ada yang mau nganterin ke gado-gado boplo yang di barito.

Sampai di kampus, kok banyak tampang-tampang yang gak gue kenal ya? Telp Reddy ah…Reddy adalah salah satu temen arisan kampus yang giat meng-sms temen-temennya kalo ada acara. Oh, ternyata Reddy udah ada di aula. Dan gue disuruh naik ke atas. Tapi males banget kalo sendiri. Enaknya sih dijemput, and rame-rame naik ke atas.

Entah kenapa, tiba-tiba saja gue udah di dalam aula. Ada daya tarik sendiri untuk bisa ketemu temen-temen berbagai angkatan yang lagi berkumpul. Ya ampun, ada kakak kelas gue si Yoga and Tulus. Ada lagi, temen seangkatan dan adik-adik kelas gue yang udah lama banget gak ketemu.

Akademi Teknologi Grafika Indonesia (ATGI) akan memiliki kampus baru di daerah Lenteng Agung. Para alumni dan akademika dengan sengaja berkumpul untuk membicarakan rencana pembangunan kampus tersebut. Kami diminta untuk menyumbang. Ada istilahnya, untuk satu buah jendela mereka menghargai 1 juta rupiah. Jendelanya diperlihatkan kepada kita semua. Ternyata gedung yang akan dibangun memiliki 99 jendela. Singkat cerita, terkumpullah 25 jendela. Tidak jendela saja, ada sumbangan 1 bangku untuk 1 orang. Oh iya, nanti di jendela akan terpampang nama kita sebagai penyumbang. Misalnya rizka menyumbang 1 jendela, maka di sisi jendela entah dimana akan terukir nama “rizka”. Keren kan? Tapi sayang, sumbangan yang kita lakukan 1 jendela saweran rame-rame.

Bubaran pukul 20.30. Gile benerrr…gue belum makan untuk berbuka puasa. Jadi baru minum teh manis hangat buatan Mbak Dasih aja plus kue nastar 2 biji.

Gado-gado boplo makin menjauh diangan-angan. Laper. Perut bunyi kruyuk-kruyuk. Ahh…gak boleh gak makan, harus makan…yang deket-deket aja deh. Mmmh…sate padang plus lontong jadi santapan malam itu.

Selesai makan, balik lagi ke tempat tongrongan anak-anak kampus. Ngobrol2 bentar tentang karir dan pekerjaan, lalu pulang. Tole nganterin sampe rumah. Dalam perjalanan, kita menceritakan pekerjaan kita masing-masing. Yaaah…memang rezekinya masing-masing…

Eh…btw. Sampe sekarang masing kepengen gado-gado boplo nih.