Spirit of Me

Free love? As if love is anything but free. Man has bought brains, but all the millions in the world have failed to buy love.

Aint no mountain high enough March 8, 2006

Filed under: bla..bla..bla — rizka @ 5:42 am

Orang bilang nih, sekarang kita hidup di dunia digital. Hidup dengan segala produktifitas yang maksimum berdasarkan attitude yang benar dan dengan bantuan IT. Tapi bukan hanya di dunia IT aja sih, masih banyak kehidupan kita yang dimanjakan oleh benda primer dan sekunder yang ada di dunia sekarang ini.

Masih terpikir gak kalo kita ingin lepas dari kehidupan yang serba ada ini? Masih terpikir kita ingin hidup susah? Susah dalam hal ini bukan susah dalam materi lho. Tapi susah dalam mendapatkan segala yang kita mau. Misalnya apa ya? mungkin makan enak, tidur menggunakan ac, bepergian dengan menggunakan mobil mewah? atau tiap minggu pergi ke salon untuk creambath, luluran atau ke panti pijat [ups…jangan ada yang tersinggung yah…

Minggu-minggu ini otak sudah diisi oleh keinginan untuk naik gunung lagi. Ingin meninggalkan sementara kesemarawutan kota Jakarta. Tapi bukan Jakarta gak enak, buktinya bulan lalu gue bisa jalan-jalan ke daerah Glodok. Keliling-keliling untuk pindah tongrongan melihat sejarah kota Jakarta bareng Sahabat Museum.

Serius nih, pengen naik Gunung Gede lagi. Zaman SMP, SMA, kuliah udah pernah haiking and naik gunung. Selanjutnya yang gue kunjungin mall, bioskop, plaza, cafe ama diskotik. Diskotik? waks!!! ampunn…Kapok deh!

Suatu saat kita perlu ketenangan, suatu saat juga kita perlu dekat dengan alam. Otomatis, kita menjadi dekat dengan Tuhan. Dengan naik gunung selain capek, badan menjadi sehat dan segar. Bukan sekedar naik gunung, tapi bhineka tunggal ika-nya tetap dipersatukan. Apalagi naik gunungnya ramai-ramai dengan sahabat. Interest dan kecintaan tetap disatukan, kita bisa saling mengingatkan dan melengkapi. Tapi biarlah sih perbedaan ini menjadi kekayaan baru buat kita. Cara untuk mengenal dan menghargai pandangan dan sikap orang lain adalah cara kita untuk bisa survive dalam hidup yang penuh perbedaan. Toh kecintaan kita pada kemanusiaan bisa menjadi pemersatu kecuali kalo kemanusiaan itu sudah hilang, artinya kita sudah gak sama lagi. Seperti Abang Gie bilang, manusia bisa merasakan iba hati dan kedukaan, tanpa itu semua kita tak lebih dari benda mati. Jadi mari belajar menerima perbedaan dan terus mengingatkan.

Cara mencapai Gunung Gede-Pangrango sangat mudah dapat dicapai dari beberapa kota di sekitarnya seperti Jakarta, Bogor, Sukabumi, Cianjur dan Bandung. Jakarta-Cibodas ± 100 km dan Bogor-Cobodas ± 36 km. Gunung  Gede-Pangrango mempunyai arti penting dalam sejarah konservasi di Indonesia dan telah dikenal secara luas oleh para peneliti botani di Indonesia. Disamping itu di daerah ini merupakan yang pertama kali di tetapkan  sebagai kawasan cagar alam di  Indonesia  yakni  pada  tahun 1889. Sebelumnya pada tahun 1830 di lereng  Gunung Gede Pangrango dibangun Kebun Raya Cibodas yang juga dikenal sebagai tempat penanaman kina dan jenis-jenis tumbuhan eksotik yang pertama di Indonesia. Sampai abad ke-19 seluruh lereng Gunung Gede masih tertutup hutan alam perawan yang lebat. Pada  waktu Junghun melakukan kunjungan pertama pada tahun 1843,  keadaan jalan sudah baik dan sering dilalui. Di tepi-tepi jalan telah ada warung-warung kopi dan beberapa rumah penduduk. Pada  tahun 1925  Kebun  Raya  Cibodas  diperluas  ke  arah  puncak  Gunung  Gede-Pangrango  sebagai kawasan  cagar  alam  dengan  luas   seluruhnya ± 1.040 ha. Bersamaan perkembangan di daerah ini, terjadi pula penunjukan-penunjukan baru areal  hutan sekitarnya baik  sebagai  cagar  alam, hutan wisata,hutan lindung, hutan produksi, areal perkebunan maupun sebagai tempat permukiman/pertanian.

Kawasan ini memiliki daya tarik yang khas untuk berolah raga jalan kaki (hiking), mendaki (climbing), berkemah (camping), memotret (phot hunting), menyaksikan dan menikmati keindahan alam vegetasi komunitas Edelweiss berupa rumput yang sangat indah serta bermalam di puncak  Gunung Gede untuk menyaksikan terbitnya matahari pada pagi hari. Di Gunung Gede Pangrango terdapat Telaga Biru (1,5 km dari pintu masuk Cibodas). Disebut Telaga Biru karena airnya biru yang disebabkan oleh sejenis ganggang biru yang hidup didalamnya. Obyek wisata lainnya adalah Rawa Gayonggong yang terletak 1,8 km dari pintu masuk Cibodas.  Terdapat dua alun-alun, yaitu alun-alun Suryakencana di lereng Gunung Gede dan Gunung Gumuruh, serta alun-alun Pangrango di lereng Gunung Pangrango. Di alun-alun Suryakencana disediakan tempat berkemah berkapasitas 40 tenda. Di kedua alun-alun pendaki dapat menikmati hamparan pemandangan bunga Edelweiss yang bertebaran memutih. Duuuh…ini dia yang gue kangenin.

Teman-teman…jadi kapan nih kita naik gunung gede?

 

Leave a Reply