Spirit of Me

Free love? As if love is anything but free. Man has bought brains, but all the millions in the world have failed to buy love.

If only eyes can talk February 25, 2006

Filed under: mySouL — rizka @ 5:54 am

Pancasila

Satu, Ketuhanan yang maha esa

Dua, Kemanusiaan yang adil dan beradab

Tiga, Persatuan Indonesia

Empat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan

Lima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

Siapa sih yang gak hafal Pancasila jaman sekolah dulu? Semua warga negara yang pernah mengenyam bangku sekolah pasti harus menghafalnya.

Tiga pria, tiga wajah, tiga senyuman.

Sabtu, waktu menunjukkan pukul 16.39 WIB ketika kami sampai di lapangan terbuka di daerah Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Seorang lelaki tinggi besar bertopi kupluk menghampiri kami. Ramah sekali tutur katanya. Dia memperkenalkan teman-temannya yang lain kepada kami. Pada awalnya agak canggung untuk berkenalan, tapi kami berusaha santai menghadapi situasi yang baru ini. Akhirnya dengan disertai hujan gerimis sambil ngobrol kami menonton pertandingan sepak bola.

Sepintas bagi yang melihat tidak ada yang aneh dari pertandingan itu. Ada 2 tim, 22 laki-laki sedang bermain bola untuk mencetak gol sebanyak-banyaknya. Di sekelilingnya ada banyak orang yang menonton sambil bersorak dan memberi semangat, termasuk kami bertiga.

Lihat foto di atas dan amati baik baik

Tiga pria, tiga wajah

Tiga pria, tiga senyuman

Tiga pria, tiga tatapan

Dua memandang ke depan

Satu memandang kegelapan

 

Perkenalkanlah teman saya Iwa. Seorang operator telepon di sebuah stasiun TV swasta di Jakarta yang selalu merasa bahwa hidup adalah satu periode yang perlu dinikmati. Iwa bisa bermain ping-pong, jago berdisko, cepat dalam membalas sms, dan jago dalam membuat banyolan. Satu hal yang sekarang Iwa tidak bisa lakukan adalah menyetir. Kenapa? karena Iwa baru saja dicabutnya SIM nya beberapa tahun yang lalu.

SIM A ?

SIM B ?

Bukan

SIM D yang dicabut dari Iwa, Surat Izin Melihat - Dunia

Yap itulah Iwa. Pria tunanetra (tunet) yang tidak pernah berhenti membuat saya tertawa terbahak bahak. Berkat undangan dari Iwa jugalah saya dan dua teman saya datang ke Lebak Bulus untuk bertemu dengan sebuah komunitas yang sama sekali baru bagi saya. Komunitas Kaum Tuna Netra. Komunitas dari mereka yang tidak bisa melihat maupun mereka yang hanya mempunyai kemampuan melihat kurang dari 50% atau sering juga disebut Low Vision.

Buta-buta main bola? Tunet main ping-pong? Hehehe…bagaimana caranya ya?

Silahkan liat gambar di samping ini.

Bola tersebut diberikan semacam krincingan didalamnya, sehingga para pemain mengandalkan pendengarannya untuk bisa menentukan dimana bola itu berada. Begitu mereka bisa memperkirakan posisinya dimana, kaki pun menendang bola dan mengopernya kepada rekannya yang harus bisa juga mengandalkan pendengarannya untuk dapat menyambut bola tersebut.

Sambil tertawa Iwa berkata, “Mungkin kami susah untuk beraction menggunakan bola mata, jadi gantinya kami mati-matian beraction menggunakan bola kaki.“

Santai, jujur , apa adanya dan sama sekali tidak pernah marah bila masalah kebutaannya dijadikan lelucon. Itulah satu hal mengagumkan dari Iwa.

Terlahir dengan mata yang normal, mungkin Iwa tidak pernah menyangka bahwa dia akan kehilangan matanya. Ketika mengidap penyakit glukomalah, perlahan dia mulai kehilangan penglihatannya.

Kebanyakan anggota komunitas ini adalah mereka yang sudah dari lahir tidak bisa melihat.

Tak ada yang berbeda satupun dari mereka.

 

Written by: Maro Alnesputra

 

Pawai Cap Go Meh February 13, 2006

Filed under: bla..bla..bla, jaLan-jAlaN — rizka @ 6:17 am

Gue pisah dari rombongan Sahabat Museum (BasMus) saat itu. Pawai dimulai pukul 2 siang. Gue udah capek dan pengen cepet-cepet pulang. Karena sampai pukul 3 siang, acara juga belum di mulai. Akhirnya gue berjalan ke arah terminal busway, gak jauh dari halaman museum Fatahillah. Dengan lemasnya kali melangkah, gue antri tiket busway. Jalan makin ramai, kendaraan hampir tidak bisa berjalan. Macet total dimana-mana. Beli tiket busway 3500 perak, masuk ke dalam sambil menyerahkan tiket ke petugas. Tidak lama kemudian…

Terdengar suara marching band!!! Oh no!!! gue udah di dalam box busway, akhirnya gue buru-buru keluar tanpa menghiraukan hangusnya tiket gue. Kapan lagi, nunggu setahun lagi dong. Udah bela-belain panas-panasan nih. Ohhh….ternyata barisan paling depan itu marching band dari Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri atau STPDN. Lumayan ganteng…ups!!! Lalu dikuti puluhan cowok cewek Tionghoa yang membawa bendera Merah Putih dan Garuda Pancasila menandakan akan dimulainya pawai Cap Go Meh.

(more…)

 

Jalan-jalan di China Town February 12, 2006

Filed under: jaLan-jAlaN — rizka @ 6:22 am

Teriknya matahari seakan mengalahkan ramainya perayaan Cap Go Meh hari ke-15 Tahun Baru Tiong-hoa yang kini menjadi salah satu ikon budaya di Jakarta.

Pukul 10.00 WIB teman-teman dari Sahabat Museum (BasMus) berkumpul di halaman Museum Fatahillah. Kebanyakan berkaos merah, karena ingin mengikuti aroma Tiong-hoa.

Sebelum acara puncak dimulai pada pukul 2 siang, sahabat museum akan berjalan-jalan ke China Town. China Town atau Chineesche Kamp (Kampoeng Tjina) yang kita kenal selama ini memiliki riwayat yang panjang dan menarik Dimulai ketika pemerintah VOC memusatkan orang-orang Tionghoa di sesuatu kawasan tertentu yang kita kenal dengan kawasan Glodok. Tau gak teman-teman, ternyata nama Glodok itu konon berasal dari suara air yang berbunyi “grojok…grojok…” yang mengalir di sepanjang Kali Ciliwung (Kanaal Molenvliet).

(more…)

 

Seorang lelaki bernama Rama Wirawan February 1, 2006

Filed under: bla..bla..bla, mySouL — rizka @ 7:52 am

Gue cek email di rabu pagi, ada email dari seseorang yang sebenernya lupa-lupa inget. Tapi sebenernya sih gak inget total. Isi emailnya gini-nih:Salam,
Selamat sore Rizka Nurlita Andi (kalau memang benar itu nama asli Anda). Secara personal saya memang tidak mengenalmu. Dan saya hanya ingin menghaturkan rasa terima kasih saya atas kontribusinya untuk Novel Perang. Itu saja.
Semoga kita bisa berjumpa di suatu waktu, di suatu tempat, supaya saya bisa mendengar komentar Anda mengenai buku Perang langsung dari mulut Anda. Karena memang sesungguhnya itu yang saya harapkan dari pembaca tulisan-tulisan saya.
Sekali lagi terima kasih dan sampai jumpa.


Salam hangat,
Rama Wirawan

(more…)