If only eyes can talk February 25, 2006
Pancasila
Satu, Ketuhanan yang maha esa
Dua, Kemanusiaan yang adil dan beradab
Tiga, Persatuan Indonesia
Empat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
Lima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Siapa sih yang gak hafal Pancasila jaman sekolah dulu? Semua warga negara yang pernah mengenyam bangku sekolah pasti harus menghafalnya.
Tiga pria, tiga wajah, tiga senyuman.
Sabtu, waktu menunjukkan pukul 16.39 WIB ketika kami sampai di lapangan terbuka di daerah Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Seorang lelaki tinggi besar bertopi kupluk menghampiri kami. Ramah sekali tutur katanya. Dia memperkenalkan teman-temannya yang lain kepada kami. Pada awalnya agak canggung untuk berkenalan, tapi kami berusaha santai menghadapi situasi yang baru ini. Akhirnya dengan disertai hujan gerimis sambil ngobrol kami menonton pertandingan sepak bola.
Sepintas bagi yang melihat tidak ada yang aneh dari pertandingan itu. Ada 2 tim, 22 laki-laki sedang bermain bola untuk mencetak gol sebanyak-banyaknya. Di sekelilingnya ada banyak orang yang menonton sambil bersorak dan memberi semangat, termasuk kami bertiga.
Lihat foto di atas dan amati baik baik
Tiga pria, tiga wajah
Tiga pria, tiga senyuman
Tiga pria, tiga tatapan
Dua memandang ke depan
Satu memandang kegelapan
Perkenalkanlah teman saya Iwa. Seorang operator telepon di sebuah stasiun TV swasta di Jakarta yang selalu merasa bahwa hidup adalah satu periode yang perlu dinikmati. Iwa bisa bermain ping-pong, jago berdisko, cepat dalam membalas sms, dan jago dalam membuat banyolan. Satu hal yang sekarang Iwa tidak bisa lakukan adalah menyetir. Kenapa? karena Iwa baru saja dicabutnya SIM nya beberapa tahun yang lalu.
SIM A ?
SIM B ?
Bukan
SIM D yang dicabut dari Iwa, Surat Izin Melihat - Dunia
Yap itulah Iwa. Pria tunanetra (tunet) yang tidak pernah berhenti membuat saya tertawa terbahak bahak. Berkat undangan dari Iwa jugalah saya dan dua teman saya datang ke Lebak Bulus untuk bertemu dengan sebuah komunitas yang sama sekali baru bagi saya. Komunitas Kaum Tuna Netra. Komunitas dari mereka yang tidak bisa melihat maupun mereka yang hanya mempunyai kemampuan melihat kurang dari 50% atau sering juga disebut Low Vision.
Buta-buta main bola? Tunet main ping-pong? Hehehe…bagaimana caranya ya?
Silahkan liat gambar di samping ini.
Bola tersebut diberikan semacam krincingan didalamnya, sehingga para pemain mengandalkan pendengarannya untuk bisa menentukan dimana bola itu berada. Begitu mereka bisa memperkirakan posisinya dimana, kaki pun menendang bola dan mengopernya kepada rekannya yang harus bisa juga mengandalkan pendengarannya untuk dapat menyambut bola tersebut.
Sambil tertawa Iwa berkata, “Mungkin kami susah untuk beraction menggunakan bola mata, jadi gantinya kami mati-matian beraction menggunakan bola kaki.“
Santai, jujur , apa adanya dan sama sekali tidak pernah marah bila masalah kebutaannya dijadikan lelucon. Itulah satu hal mengagumkan dari Iwa.
Terlahir dengan mata yang normal, mungkin Iwa tidak pernah menyangka bahwa dia akan kehilangan matanya. Ketika mengidap penyakit glukomalah, perlahan dia mulai kehilangan penglihatannya.
Kebanyakan anggota komunitas ini adalah mereka yang sudah dari lahir tidak bisa melihat.
Tak ada yang berbeda satupun dari mereka.
Written by: Maro Alnesputra



















