Assetnya Pak Bobby May 5, 2008
Sabtu kemarin saya diminta teman menjadi photographer. Kali ini bukan cowok ganteng atau cewek cantik yang saya pakai sebagai objek. Tapi beberapa asset tidak bergerak yang dimiliki oleh seorang pegawai kantoran. Sebut saja Pak Bobby. Katanya teman saya, Pak Bobby bekerja menjadi pegawai itu cuma iseng. Saya malah membayangkan bagaimana ya kalau anak-anaknya Soeharto iseng menjadi pegawai kantoran yang tiap hari bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore? Lebih iseng lagi kalau dia kebetulan disuruh bosnya angkat-angkat kardus dan lembur tiap malam.
Saya tidak akan menceritakan anak-anaknya Pak Harto. Tapi saya akan menceritakan Pak Bobby. Menurut saya, Pak Bobby ini orangnya baik, cool, dan pastinya punya banyak uang. Ceritanya saya bisa ketemu dengan Pak Bobby dan menjadi photographer asset-assetnya sebenarnya panjang. Saya akan mencoba menjelaskan. Tapi kalau masih pada bingung ya nanti saya jadi bingung juga.
Saya punya teman kuliah yang namanya Oleng yang bekerja sebagai pengusaha screen printing. Oleng ini punya beberapa anak buah. Nah, salah satu anak buahnya bernama Jabar (nih nama kok aneh lagi…). Saya gak tau nama aslinya si Jabar. Pertama dikenalin ya namanya Jabar, bukan Jatim atau Kalsel. Jabar punya kakak ipar yang namanya kali ini saya gak tau. Lalu Kakak iparnya Jabar ini teman kantornya Pak Bobby. Dan Pak Bobby ingin membangun website khusus yang isinya asset-asset yang dia miliki untuk disewakan atau dijual. Lalu kakak iparnya Jabar menghubungi Jabar dan menyerahkan proyek website ini melalui perusahaannya Oleng.
Karena situasinya bermacam-macam, saya mau cerita sedikit jumlah uang yang akan saya terima jika foto saya berhasil ditampilkan di websitenya Pak Bobby. Begini…dari Pak Bobby ke Oleng satu foto dibayar 35 ribu. Karena proyek ini didapatkan bareng-bareng, maka dari 35 ribu itu dibagi lagi. Untuk Oleng sebagai owner Rp 10 ribu, dan untuk Jabar sebagai perantara Rp 10 ribu. Sisanya Rp 15 ribu dibayarkan ke saya untuk satu foto yang saya jelaskan tadi. Kalau situasinya menjadi seperti ini, saya akan mengiyakan karena saya juga masih belajar dan makin ingin tahu.
Saya duduk manis di mobil Jazz milik Pak Bobby. Di depan ada Pak Bobby dan Jabar. Saya dibelakang saja sambil nyanyi-nyanyi kecil. Saya akui, hari itu udara terasa panas. Matahari gak malu tuh ngeluarin semua cahayanya ke bumi. Langsung aja, kita bertiga pergi untuk mengambil gambar sebagian assetnya Pak Bobby. Kata Pak Bobby, “hari ini kita ambil 6 tempat dulu, setelah saya lihat tampilan website yang sudah ok dengan design+fotonya, saya akan kasih alamat asset saya yang lain lalu kalian pergi tanpa saya”. Lalu sambung lagi “Saya punya tanah di Puncak dan Bali, lalu punya lagi di bla…bla…bla…” lalu “Saya pernah ditipu teman saya untuk bangun tempat kursus, saya kasih modal Rp. 100 juta. Akhirnya tidak pernah kedengaran lagi…”. Ada lagi “Saya mau modalin untuk bikin tempat usaha, tapi saya gak punya orang untuk bisa marketing bla…bla…bla…”.
Kalo diliat secara seksama nih, Pak Bobby mirip banget ama pembalap Rifat Sungkar.
Waaah…kalau saya pintar ngomong nih, saya langsung tunjuk tangan dan siap menadah uang ratusan juta buat modal boutique saya nantinya. Tapi sayang…saya cuma orang yang sedikit bicara banyak bekerja, gak seperti kebanyakan teman saya yang bisa banyak bicara dan banyak bekerja. Kalaupun saya paksakan dan itu berlaku buat saya ya gak bisa dipaksakan. Karena sifat orang tidak bisa dipaksakan. Kalau dipaksakan malah hasilnya gak baik. Saya masih tahu kemampuan saya. Gak bisa kalau orang yang dasarnya pendiam seperti saya, harus cuap-cuap di podium atau mengajarkan Public Relations. Saya adalah saya. Bersyukurlah orang-orang yang mempunyai kelebihan seperti itu.
Kembali lagi ke Pak Bobby. Lokasi pertama yang kita datangi yaitu masih disekitar rumah utamanya Pak Bobby di daerah Kemang Timur. Lokasi kedua ruko di kawasan Mampang, lalu yang ketiga bangunan berupa restoran Padang di Jl. Nipah, keempat yaitu ruko di Jl. Dharmawangsa, selanjutnya ruko lagi di jl. Arteri Pondok Indah dan yang keenam kembali lagi ke daerah Kemang Timur yaitu kost-kostan expatriat.
Akhirnya setelah berpanas-panasan, selesai juga foto-memfoto hari ini. Hari sudah siang, waktunya makan. Tapi…kalau dihitung-hitung, jatah uang makan belum termasuk hitung-hitungan saya dengan teman saya itu. Tapi gak apa-apa, namanya juga pengalaman.
Setelah (akhirnya) ditraktir mie ayam + 2 the botol sama Oleng, pentransferan foto dimulai di rumah teman daerah Pondok Pinang setelah kami janjian. Dari Oleng tidak ada komentar tentang hasil foto yang saya ambil. Jujur, untuk belajar saya siap dimasuki saran-saran dan masukan.
Semua selesai, sayapun pulang…
Malamnya, Oleng telpon saya. “Ka, ada masukan nih dari owner kedua”
Saya: Masukan apa”
Oleng: Katanya yang loe foto, semuanya gak ada angel.
Saya: Saya sempet membela diri, gini nih belaannya “Lho, yang namanya ambil foto property kita harus ambil foto yang kelihatan luas. Kalo ambil angel cukup ambil meja atau bunganya aja dong”
Oleng: “Kata dia, kalo hasil fotonya kayak gitu, dia juga bisa”.
Saya: “Ya udah, kalo gak puas sama hasil foto gue, gak dipake lagi juga gak papa” (ngambek nih ceritanya)
Oleng: “Gak kok, tenang…loe masih dipake. Nanti tinggal orang web designer aja yang akan mempercantik foto loe”.
Ok deh, kalo gitu kalo foto-foto lagi, orang yang bilang “foto yang gak ada angelnya” harus ikut ke lokasi. Ya gimana yaaa…gak ada angel emang karena isi rumahnya kosong!!!
Untuk kedua kalinya gue ketemu pasangan Benny & Mice di Bantara Budaya pas dengan peluncuran buku “Lagak Jakarta” tentang “100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta”.
Writen by Dewi Noviana
Benny & Mice akan menyelipkan promosi buku barunya yang akan diluncurkan di Bentara Budaya tanggal 28 Februari 2008. Bagi yang ngefans dengan Benny & Mice sebaiknya segera memasukan buku baru mereka sebagai ’must have item’, karena akan banyak kejutan dalam buku mereka yang diberi judul ‘100 Tokoh’ itu. Apakah saya atau Anda termasuk di dalam ’100 Tokoh’ karya Benny & Mice?
Dari blognya Raditya Dika gue pantau terus kapan dan dimana dia berada. Di Gramedia PIM lah tempat yang paling tepat untuk nemuin dia, karena gue penasaran abis, kayak gimana sih tampangnya dia. Hihiihihi…ternyata emang aneh. Kesimpulan ya aneh!!! Mungkin karena dalam hati gue bilang aneh, gue kualat. Hehehehe…Karena sehari setelah acara dika di PIM kepala gue benjol! Kenapa benjol? Karena si dika ini ngelemparin kaos tepat ke arah gue waktu dia ngelemparin secara ganas ke cowok-cowok yang buas akan kaos gratis. Wuiiiih…dengan gerakan refleks dan gerakan flash, tangan gue bisa menangkap kaos raditya dika: Radikus makan kakus itu. Ciaaaaatttt…wadaaooooo kepala gue kena sikut orang dibelakang gue!!! Mampuusss tuh orang, gue tengok ke belakang buat ngeliat tampangnya kayak apa…eeeeh…dia malah nengok lagi ke belakang. Dasaaar…
Yes..yes…yes!!! i join Pesta Blogger 2007. Thanks for 


















